Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Surat Al-Ikhlas, Gus Baha Ungkap Makna Attaqoh dan Tauhid

Surat Al-Ikhlas dalam Amaliah Attaqoh Menurut Gus Baha

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung β€”Surat Al-Ikhlas menjadi bagian dari pembahasan Gus Baha saat mengulas amaliah Attaqoh yang dikenal sebagai Al-Attaqoh Al-Kubro.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim itu menjelaskan dasar amaliah tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya sanad dan pemahaman dalam menjalankan ibadah.

Gus Baha merujuk kitab karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki untuk menerangkan dasar amaliah tersebut sekaligus mengingatkan umat agar memahami sanad dan landasan setiap ibadah yang mereka jalankan.

Media Indonesia dalam pemberitaan pada 24 Juni 2026 mengutip penjelasan Gus Baha mengenai Attaqoh atau amaliah yang masyarakat Indonesia kenal sebagai Al-Attaqoh Al-Kubro.

Dalam praktiknya, umat membaca Surat Al-Ikhlas dengan jumlah tertentu sebagai bentuk tabarruk atau mencari berkah sekaligus memohon pembebasan dari api neraka.

Kitab Sayyid Muhammad Memuat Riwayat Attaqoh

Kitab Sayyid Muhammad memuat riwayat pembacaan Surat Al-Ikhlas sebanyak 100 hingga 1.000 kali.Β 

Sementara itu, Gus Baha juga menyinggung secara ringan praktik di masyarakat yang membaca surat tersebut hingga jumlah yang jauh lebih besar.

Namun, Gus Baha mengingatkan umat agar tidak menyebut jumlah bacaan yang tidak memiliki riwayat sebagai perintah langsung dari Nabi Muhammad SAW. Menurut penjelasannya, klaim seperti itu justru dapat memberatkan umat.

Di sisi lain, Gus Baha menerangkan bahwa amaliah Attaqoh memiliki dasar dalam Mazhab Maliki.Β 

Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami sumber dan sanad ketika seseorang menjalankan suatu amaliah.

Gus Baha Soroti Keluarga saat Kirim Doa

Selain mengulas Surat Al-Ikhlas dan Attaqoh, Gus Baha menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat ketika menggelar acara kirim doa untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Menurut Gus Baha, keluarga inti seharusnya ikut membaca dalam acara tersebut. Ia secara khusus menyoroti peran anak sebagai bagian dari bentuk bakti kepada orang tua.

“Alhamdulillah zaman akhir itu mulai agak keliru. Kalau ada acara, orang lain disuruh membaca, anaknya malah keluar masuk. Saya jamin itu keliru. Seharusnya keluarga harus ikut, karena itu bentuk bakti (jariyah) yang nyata,” tegas Gus Baha.

Karena itu, Gus Baha mendorong keluarga agar tidak hanya meminta orang lain membaca doa. Anak dan keluarga inti juga perlu mengambil bagian dalam amaliah tersebut.

Gus Baha Jelaskan Makna Kalimat Tauhid

Pembahasan kemudian berlanjut pada kalimat Lailahaillallah. Gus Baha menguraikan alasan kalimat tauhid tersebut mendapat tempat sebelum istighfar dengan merujuk pada Manhaj Abul Hasan Asy-Syadzili.

Menurut penjelasan Gus Baha, orang yang sebelumnya kafir selama puluhan tahun dapat memperoleh penghapusan dosa setelah mengucapkan Lailahaillallah.

Penjelasan itu menunjukkan posisi tauhid sebagai fondasi sebelum seseorang memohon ampun melalui istighfar.

Tauhid Menjadi Fondasi Istighfar

Selanjutnya, Gus Baha menjelaskan bahwa seseorang perlu memiliki tauhid yang benar ketika beristighfar.

Tanpa fondasi Lailahaillallah, permohonan ampun tidak memiliki pijakan tauhid yang kuat.

Gus Baha juga menggunakan pendekatan logika ketika menguraikan makna kalimat tersebut. Lailahaillallah menafikan segala sesuatu selain Allah SWT sebagai Tuhan.

Dalam penjelasannya, Gus Baha mengajak jamaah menggunakan nalar ketika menghadapi seseorang yang mengaku sebagai Tuhan.

Salah satu pertanyaannya menyangkut kemampuan pihak tersebut dalam menciptakan langit dan bumi.

Gus Baha Tekankan Ilmu dan Sanad dalam Beramal

Pada bagian lain, penjelasan Gus Baha menempatkan ilmu dan sanad sebagai unsur penting dalam menjalankan amaliah keagamaan.

Dengan memahami dasar sebuah amalan, umat dapat mengetahui sumber sekaligus makna ibadah yang mereka kerjakan.

Karena itu, pembahasan mengenai Surat Al-Ikhlas, Attaqoh, istighfar, dan Lailahaillallah tidak hanya menyangkut jumlah bacaan.

Gus Baha juga menekankan pemahaman terhadap makna setiap kalimat tayyibah serta dasar keilmuan yang menyertainya.

Melalui penjelasan tersebut, Gus Baha mengajak umat menjalankan amaliah dengan landasan ilmu, sanad yang jelas, serta pemahaman yang benar terhadap tauhid.

Dengan begitu, umat tidak sekadar mengikuti kebiasaan, tetapi juga memahami dasar dari amaliah yang mereka jalankan. (ARIF)