Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Maulid Nabi 1448 H di Jatisari Ajak Generasi Muda Teladani Rasul

Maulid Nabi Jadi Momentum Teladani Rasulullah

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Maulid Nabi 1448 H di Masjid Al-Fallah, Dusun 5 Jatisari, Desa Jatimulyo, Kabupaten Lampung Selatan, menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali meneladani kehidupan dan akhlak Rasulullah SAW, khususnya bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman.

Masyarakat menggelar kegiatan tersebut pada Sabtu (12/9/2026) dengan menghadirkan Kiai Haji Mufid Abdullah sebagai penceramah. Dalam ceramahnya, Kiai Mufid mengajak umat Islam menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah Menjadi Idola Utama Umat Islam

Kiai Mufid menilai umat Islam saat ini menghadapi kondisi ketika banyak orang mencari sosok untuk dijadikan idola.

Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama.

” kan umat Islam saat ini sudah mulai kebingungan mencari idola. Karena kalau orang mencari idola seseorang, kadang suka banyak kecewa. Idola yang harus kita idolakan kembali kepada Rasulullah, sosok yang memang menjadi panutan kita,” ujar Kiai Mufid.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa Maulid Nabi dapat menjadi media untuk mengenalkan kembali kepribadian, perjuangan, kehidupan, dan keteladanan Rasulullah SAW kepada masyarakat.

“Media untuk menyampaikan tentang kepribadian beliau, tentang perjuangannya, suri teladannya, dan kehidupan dalam rangka untuk membimbing kita,” katanya.

Maulid Nabi Jadi Benteng Menghadapi Perubahan Zaman

Kiai Mufid juga menyoroti kondisi masyarakat Jatisari yang berada di antara karakter kehidupan pedesaan dan pengaruh perkotaan. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan penguatan nilai agama agar masyarakat mampu menghadapi berbagai pengaruh perkembangan zaman.

“Karena kalau enggak dibentengi, itu bisa bermasalah. Nah, maka diadakanlah sering-sering diadakan Maulid,” ujarnya.

Menurut Kiai Mufid, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah persoalan sosial, seperti narkoba, perjudian, pinjaman online atau pinjol, hingga perzinahan.

Karena itu, penguatan nilai keagamaan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan masyarakat sekaligus membimbing generasi muda menghadapi berbagai tantangan.

Keteladanan Rasulullah Perlu Terus Diingat

Selain itu, Kiai Mufid menegaskan pentingnya masyarakat menggelar Maulid Nabi setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi pengingat agar umat Islam tidak melupakan keteladanan Rasulullah SAW.

Ia menjelaskan bahwa ketika masyarakat mulai meninggalkan keteladanan Rasulullah, ukuran kehormatan seseorang juga berpotensi bergeser. Masyarakat dapat menilai seseorang berdasarkan kekayaan, jabatan, pengaruh, atau kemapanan duniawi.

“Karena nanti kalau kita tidak mencontoh Rasul, tidak peringatan Maulid, itu terjadi apa… orang yang terhormat itu bukan orang yang paling bertakwa, tapi orang yang kaya, orang yang punya pengaruh,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Oleh sebab itu, masyarakat perlu menggunakan harta secara bijaksana.

“Karena kita ini hidup sementara, harta diperlukan sekadar untuk jalan. Nah, itu harus diterangkan ke masyarakat,” tuturnya.

Generasi Muda Perlu Perkuat Ilmu dan Iman

Memasuki era digital dan persaingan global, Kiai Mufid mengajak generasi muda untuk meneladani Rasulullah SAW dalam hal kecerdasan dan keilmuan.

Menurutnya, generasi muda harus terus belajar dan meningkatkan pengetahuan agar mampu menghadapi perubahan zaman.

“Rasul kan cerdas. Dia menjadi orang yang cerdas, yang berilmu. Sekarang ini tidak ada cara lain di zaman modern seperti sekarang, global seperti ini, ilmu harus dicari,” katanya.

Karena itu, ia menilai peningkatan pendidikan menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Dengan ilmu yang memadai, masyarakat dapat menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan.

“Makanya jangan sampai masyarakat kita ini pendidikannya di bawah,” ujarnya.

Namun demikian, Kiai Mufid menekankan bahwa ilmu perlu berjalan bersama iman.

“Ilmu dan iman tentunya ya. Karena ilmu tanpa iman juga bermasalah,” tegasnya.

Maulid Nabi Perkuat Kebersamaan Warga

Lebih lanjut, Kiai Mufid berharap Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan keagamaan tahunan. Ia berharap kegiatan tersebut memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat Jatisari.

Ia berharap masyarakat semakin aktif memakmurkan masjid, menghidupkan pendidikan Al-Qur’an, serta mempererat hubungan antarsesama warga.

“Setelah peringatan ini yang paling gampang sih kayak salat berjamaah semakin penuh, TPQ semakin hidup, kemudian keakraban masyarakat semakin terjalin,” ungkapnya.

Selain itu, ia mendorong masyarakat terus menjalankan amal sedekah meskipun dalam jumlah kecil.

“Amal-amal sedekah sekecil-kecil apapun tetap jalan. Sehingga kalau ada mau pembangunan apa pelan-pelan selesai,” katanya.

Menurut Kiai Mufid, tradisi Maulid seperti membawa telur, makanan, memberikan sokongan, dan makan bersama juga dapat memperkuat interaksi sosial masyarakat.

“Sehingga masyarakat semakin bersatu, saling peduli, saling apa ya… keakraban timbul,” ujarnya.

Maulid Menjadi Ruang Silaturahmi Warga

Kegiatan keagamaan, lanjut Kiai Mufid, juga dapat menjadi ruang pertemuan bagi warga yang sebelumnya jarang bertemu. Bahkan, kegiatan tersebut dapat mendorong warga yang jarang datang ke masjid untuk kembali hadir.

“Dengan peringatan-peringatan itu yang tadinya mungkin nggak pernah ke masjid, datang ke masjid. Yang nggak pernah tegur sapa, ketemu di situ,” jelasnya.

Dengan demikian, Maulid Nabi tidak hanya menguatkan nilai keagamaan, tetapi juga membuka ruang silaturahmi dan membangun kepedulian antarwarga.

Maulid Nabi Tidak Sekadar Seremonial

Kiai Mufid berharap masyarakat terus menjaga tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kembali akhlak dan perjuangan Rasulullah SAW kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pesan keteladanan Rasulullah perlu masyarakat terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat peringatan Maulid Nabi.

Dengan ilmu, iman, kepedulian sosial, dan kebersamaan, masyarakat dapat menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan budaya gotong royong di lingkungan Jatisari.