Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Santri Berkarya Lewat Film, “Betah” Lahir dari Pesantren

Dari Pesantren, Santri Menemukan Ruang untuk Berkarya

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Santri berkarya lewat film menjadi gambaran dari lahirnya Betah, sebuah film pendek yang diproduksi para santri Pondok Pesantren Al Huda, Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan.

Film ini menunjukkan bahwa kehidupan pesantren juga dapat menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan kreativitas di bidang audio visual.

Film Betah berdurasi sekitar 25 menit. Para santri menjalani proses pengambilan gambar selama 15 hari dengan lingkungan pesantren sebagai lokasi utama.

Menariknya, mereka memproduksi film tersebut hanya dengan menggunakan handphone.

Keterbatasan perangkat tidak menghentikan langkah para santri untuk menuangkan ide, memainkan peran, mengambil gambar, hingga menghasilkan sebuah karya film.

Ketika Santri Memilih Kamera sebagai Media Berkarya

Di balik produksi Betah, para santri tidak hanya belajar tentang kehidupan pesantren. Mereka juga mendapatkan pengalaman untuk bekerja sama dan mengembangkan kreativitas melalui produksi film.

Ilfi Hans Saka, S.E., yang merupakan salah satu santri Ponpes Al Huda, menyutradarai film tersebut.

Film ini melibatkan Adit Catur Wirajaya, Iqbal Zibran, dan Ilyas Hari Wijaya sebagai pemeran utama.

Sementara itu, Khairil Ambri, Ahmad Said, Khusni Arga, Nauval Labibul, Salman Fauzi, Nanda Rafif, Dani Yusuf, Baldis, dan Sabiyan mengisi pemeran pendukung.

“Betah” Membawa Cerita Kehidupan Santri

Dari Rasa Asing di Lingkungan Pesantren

Di balik proses kreatif tersebut, para santri menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan pesantren.

Betah menceritakan seorang santri baru yang harus menghadapi rasa asing ketika memasuki lingkungan dan kehidupan pesantren.

Co Actor film Betah, Khairil Ambri, menjelaskan bahwa cerita film tersebut berangkat dari pengalaman seorang santri baru yang belum terbiasa dengan kehidupan pesantren.

“Intinya, film ini menceritakan seorang santri baru yang awalnya merasa asing ketika memasuki dunia pesantren. Ia masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan pesantren yang berbeda dari kesehariannya,” ujar Khairil Ambri. 

Seiring berjalannya waktu, tokoh dalam film mulai menemukan alasan untuk bertahan. Ingatan terhadap kondisi keluarga kemudian menjadi bagian penting dalam perubahan dirinya.

Perjuangan Orang Tua Menjadi Motivasi

Menurut Khairil, perjalanan tokoh dalam film berkembang ketika ia mulai mengingat kondisi keluarganya.

“Namun, setelah beberapa bulan menjalani kehidupan di pesantren, ia mulai termotivasi ketika mengingat kondisi keluarganya yang kurang mampu. Ingatan terhadap orang tua kemudian menjadi dorongan baginya untuk berubah dan lebih semangat dalam menuntut ilmu,” ungkapnya. 

Melalui cerita tersebut, Betah tidak hanya menggambarkan proses adaptasi seorang santri.

Film ini juga membawa cerita tentang perjuangan orang tua dan bagaimana pengalaman tersebut dapat mendorong seorang santri untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu.

Handphone Tidak Menghalangi Santri untuk Berkarya

Produksi Betah menghadirkan satu hal yang menarik. Para santri tidak menggunakan perangkat produksi film yang kompleks. Mereka memanfaatkan handphone sebagai alat utama dalam proses produksi.

Dengan perangkat sederhana tersebut, para santri tetap menjalankan proses kreatif dan menghasilkan sebuah film pendek.

Karena itu, pengalaman produksi Betah juga memperlihatkan bagaimana keterbatasan peralatan tidak selalu menghentikan keinginan untuk berkarya.

Selama 15 hari, mereka menjalani proses pengambilan gambar di lingkungan pesantren.

Proses itu sekaligus menjadi pengalaman bagi para santri dalam mengenal dunia produksi audio visual.

Pesantren sebagai Ruang Kreativitas

Kehadiran Betah memperlihatkan sisi lain dari kehidupan pesantren. Selain menjadi tempat santri menuntut ilmu, lingkungan pesantren juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya.

Melalui film, para santri menyampaikan cerita dengan cara yang berbeda. Mereka tidak hanya menjadi penonton karya audio visual, tetapi ikut mengambil bagian sebagai sutradara, pemeran, dan bagian dari proses produksi.

Karya Santri Menemui Penonton “Betah” Tayang di YouTube

Setelah melalui proses produksi, film Betah tayang melalui kanal YouTube Ponpes Al Huda Jati Agung pada 18 Juni 2026.

Penayangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan karya para santri untuk memperkenalkan hasil kreativitas mereka kepada penonton.

Pada akhirnya, Betah membawa dua cerita sekaligus. Di depan kamera, para santri menghadirkan kisah tentang perjalanan seorang santri menemukan semangat untuk menuntut ilmu.

Sementara di balik kamera, mereka menunjukkan bahwa santri juga mampu belajar, berkreasi, dan menghasilkan karya film.

Dari lingkungan pesantren dan sebuah handphone, lahirlah Betah sebagai bukti bahwa santri berkarya lewat film bukan sekadar gagasan, tetapi dapat diwujudkan menjadi sebuah karya audio visual. (Khairil Ambri).