Teka-Teki Silang Jadi Pilihan untuk Melatih Fungsi Kognitif Otak
Jakarta,NU Media Jati Agung— Permainan asah otak dapat menjadi salah satu cara menyenangkan untuk melatih kemampuan kognitif, terutama pada orang dewasa.
Salah satu pilihan yang bisa dilakukan adalah mengerjakan teka-teki silang (TTS).
Seiring bertambahnya usia, kemampuan kognitif seseorang dapat mengalami penurunan.
Kondisi seperti demensia juga perlu mendapat perhatian karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Karena itu, kegiatan yang melibatkan daya ingat, bahasa, dan kemampuan berpikir dapat menjadi pilihan untuk menjaga otak tetap aktif. Meski demikian, permainan asah otak bukan jaminan untuk mencegah demensia.
Teka-Teki Silang Melatih Daya Ingat
Teka-teki silang mengajak pemain mengingat kata dan mencocokkannya dengan petunjuk yang tersedia. Pemain perlu mengandalkan pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan untuk menemukan jawaban yang tepat.
Direktur Layanan Neuropsikologi sekaligus profesor neuropsikologi di Columbia University Irving Medical Center, Elise Caccappolo, menjelaskan bahwa teka-teki silang dapat menantang kemampuan mental sekaligus melatih fleksibilitas berpikir.
“Teka-teki silang tidak hanya menantang secara mental, tetapi juga membantu menjaga pemikiran Anda tetap fleksibel,” ujarnya.
Selain mengingat kosakata, pemain perlu memperhatikan jumlah huruf serta hubungan antara jawaban mendatar dan menurun. Proses tersebut membuat pemain mempertimbangkan beberapa kemungkinan sebelum menentukan jawaban.
Mengasah Pengetahuan dan Memori Semantik
Teka-teki silang juga melibatkan memori semantik, yaitu ingatan terhadap fakta, makna kata, dan pengetahuan umum.
Petunjuk dalam permainan ini dapat berkaitan dengan berbagai hal, seperti geografi, lirik lagu, pemeran film, hingga judul buku.
Pemain kemudian menggunakan pengetahuan tersebut untuk menemukan jawaban yang sesuai.
Semakin beragam petunjuknya, semakin banyak informasi yang perlu diingat dan dicocokkan. Dengan demikian, TTS menjadi pilihan aktivitas yang menggabungkan hiburan dan latihan mental.
Melibatkan Kemampuan Visual dan Spasial
Selain mengolah bahasa, pemain juga perlu memahami susunan kotak dalam teka-teki silang.
Mereka harus memperhatikan arah mendatar dan menurun serta mencocokkan setiap huruf dengan jawaban lain yang bersilangan.
Elise menjelaskan bahwa aktivitas tersebut turut melibatkan pemrosesan visuospasial, yakni kemampuan memahami dan mengolah informasi visual serta hubungan ruang.
“Saat Anda membaca buku, Anda memproses bahasa dari kiri ke kanan. Tetapi saat Anda mengerjakan kisi-kisi teka-teki silang, Anda juga harus membaca ke atas dan ke bawah,” jelasnya.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek kognitif yang digunakan saat seseorang menyelesaikan teka-teki silang.
Jadikan Permainan sebagai Aktivitas yang Menyenangkan
Mengasah kemampuan kognitif tidak harus selalu melalui kegiatan belajar formal. Seseorang dapat memilih aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan minatnya, termasuk mengerjakan teka-teki silang.
Namun, menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu jenis permainan. TTS dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari untuk menjaga otak tetap aktif, bukan pengganti pemeriksaan atau penanganan medis jika muncul gangguan daya ingat.
Dengan memilih kegiatan yang menarik dan melakukannya secara teratur, masyarakat dapat menjadikan latihan mental sebagai bagian dari rutinitas yang lebih menyenangkan.(Erwin indra saputra).
Sumber: Kompas.com.

