Bandar Lampung, NU Media Jati Agung ā Selembar batik mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik motif dan warna yang melekat pada kain, tersimpan cerita tentang sejarah, kreativitas, keterampilan, filosofi, dan identitas budaya Indonesia.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, cerita tentang batik kini tidak hanya relevan di ruang budaya. Ia juga menemukan tempat penting di ruang pendidikan.
Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi pengingat bahwa sekolah memiliki peran dalam menjaga agar warisan budaya tidak berhenti sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi tetap hidup di tengah generasi yang tumbuh bersama teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Thomas Amirico, S.STP., M.H., mengajak dunia pendidikan menjadikan budaya sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
āMelalui dunia pendidikan, mari tanamkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa, sekaligus membentuk generasi muda yang berkarakter, kreatif, dan bangga akan budaya Indonesia.ā
Pernyataan tersebut menempatkan batik bukan sekadar sebagai busana yang dikenakan pada momentum tertentu.
Lebih dari itu, batik dapat menjadi pintu masuk bagi peserta didik untuk mengenal identitas budaya sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
UNESCO mencatat Indonesian Batik sebagai Warisan Budaya Takbenda yang masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009.
Lebih lanjut, UNESCO juga menjelaskan bahwa teknik, simbolisme, serta budaya yang mengelilingi batik telah melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian dari identitas budaya.
Sekolah di Tengah Perubahan Teknologi
Dunia pendidikan kini berada pada fase perubahan yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Peserta didik dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Buku dan materi pembelajaran tersedia dalam bentuk digital.
Mesin pencari menjadi bagian dari aktivitas belajar. Bahkan, AI telah berkembang menjadi teknologi yang dapat membantu manusia menulis, membuat gambar, mengolah data, hingga menyusun berbagai bentuk informasi.
Perubahan tersebut tentu membuka peluang besar bagi dunia pendidikan.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh tertinggal: karakter.
Kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami informasi. Kecepatan teknologi juga tidak serta-merta melahirkan kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, sekolah memiliki tugas yang semakin kompleks. Peserta didik perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi sekaligus kemampuan memilah informasi, memahami konteks, menghargai karya, menjaga etika, dan bertanggung jawab atas apa yang mereka hasilkan.
Arah tersebut sejalan dengan kebijakan nasional. Kemendikdasmen telah menetapkan pedoman implementasi koding dan kecerdasan artifisial untuk jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Pembelajaran tersebut diarahkan untuk membangun literasi digital, berpikir komputasional, kreativitas, pemecahan masalah, serta pemahaman etika teknologi.
Ketika Batik Bertemu Kecerdasan Artifisial
Batik dan AI memang berasal dari dunia yang berbeda.
Batik lahir dari proses panjang, ketekunan tangan manusia, pengetahuan yang diwariskan, serta nilai budaya yang berkembang lintas generasi.
Sementara AI lahir dari perkembangan teknologi dan kemampuan komputasi yang terus bergerak maju.
Tetapi di ruang pendidikan, keduanya tidak harus dipisahkan.
Peserta didik dapat mempelajari sejarah dan filosofi motif batik, kemudian mendokumentasikannya dalam bentuk digital.
Mereka dapat membuat katalog elektronik, mengenalkan motif daerah melalui media sosial sekolah, membuat presentasi digital, atau menggunakan teknologi sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya kepada generasi seusianya.
Dengan cara tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai ancaman bagi budaya.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas ruang pengenalan budaya.
Di sinilah pendidikan memiliki posisi strategis.
Budaya memberikan akar. Teknologi memberikan ruang untuk berkembang. Sedangkan pendidikan menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya.
Guru Tetap Menjadi Penuntun
Di tengah perkembangan AI, peran guru justru menjadi semakin penting.
Teknologi dapat memberikan jawaban, tetapi guru membantu peserta didik memahami apakah jawaban tersebut benar, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
AI dapat membantu membuat sebuah karya. Namun, guru tetap memiliki peran dalam membimbing peserta didik memahami proses, menghargai orisinalitas, menghindari plagiarisme, menjaga data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Pedoman nasional yang ditetapkan pada 2026 juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan harus dilakukan secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab, dengan tetap memperhatikan perlindungan anak serta tujuan pendidikan nasional.
Karena itu, transformasi digital di sekolah bukan semata-mata persoalan menghadirkan perangkat teknologi.
Ada persoalan yang jauh lebih penting: bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat proses belajar.
Kemendikdasmen juga memperluas akses pelatihan bagi guru dalam pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial melalui platform digital.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kesiapan guru menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan pembelajaran di era teknologi.
Menjaga Identitas di Tengah Perubahan
Hari Batik Nasional akhirnya dapat dimaknai lebih luas daripada sekadar mengenakan pakaian bermotif batik.
Di lingkungan sekolah, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengajak peserta didik bertanya: mengapa batik penting? Dari mana sebuah motif berasal? Apa makna di baliknya? Siapa yang membuatnya? Dan bagaimana warisan tersebut dapat tetap dikenal oleh generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat berkembang menjadi pembelajaran yang lebih luas.
Peserta didik dapat belajar sejarah, seni, budaya, kewirausahaan, teknologi digital, hingga komunikasi.
Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi objek yang dikenakan, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran.
Hal tersebut sejalan dengan praktik pelestarian batik melalui pendidikan yang juga telah mendapat pengakuan UNESCO.
Salah satu program di Pekalongan, misalnya, menempatkan pendidikan dan pelatihan batik sebagai upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap sejarah, nilai budaya, dan keterampilan tradisional batik.
Dari Motif Batik Menuju Masa Depan
Generasi muda Lampung hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda.
Mereka mengenal gawai sejak usia dini. Mereka terbiasa dengan informasi yang bergerak cepat.
Mereka akan menghadapi dunia kerja yang semakin dipengaruhi otomatisasi, data, dan kecerdasan artifisial.
Namun, menjadi generasi digital bukan berarti harus kehilangan akar budaya.
Justru di tengah perubahan yang cepat, identitas menjadi semakin penting.
Thomas Amirico menekankan bahwa pendidikan harus ikut membentuk generasi yang tidak hanya kreatif dan mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap budaya bangsa.
āMelalui dunia pendidikan, mari tanamkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa,” ujarnya.Ā
Kecintaan terhadap budaya tersebut pada akhirnya harus berjalan bersama dengan pembentukan karakter generasi muda yang kreatif dan memiliki kebanggaan terhadap identitas bangsa.
Di titik inilah pesan Hari Batik Nasional menjadi relevan bagi pendidikan Lampung.
Anak-anak tidak hanya perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi.
Mereka juga perlu diajarkan untuk memahami siapa dirinya, mengenal lingkungan budayanya, menghargai karya orang lain, dan membawa nilai-nilai tersebut ketika memasuki dunia yang semakin digital.
Batik memberikan akar.
AI membuka cakrawala.
Pendidikan menjadi ruang untuk mempertemukan keduanya.
Sebab menghadapi masa depan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu.
Justru dengan mengenal akar budaya, generasi muda dapat melangkah lebih jauh dengan identitas, kreativitas, dan karakter yang kuat.
Selamat Hari Batik Nasional 2026
āMelalui dunia pendidikan, mari tanamkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa, sekaligus membentuk generasi muda yang berkarakter, kreatif, dan bangga akan budaya Indonesia.ā
(Thomas Amirico, S.STP., M.H. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung)Ā

