Berawal dari Pertemuan di Tengah Aktivitas Keagamaan
Bandar Lampung, NU Media Jati Agung— Perjalanan Muyas Saroh dalam dunia organisasi tidak hanya menjadi perjalanan pribadi. Sejak 1997, ia menjalani kehidupan bersama suaminya yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Pertemuan keduanya berawal dari lingkungan kegiatan keagamaan. Saat itu, kegiatan shalawat Al Barzanji yang digelar setiap hari Ahad menjadi salah satu ruang perjumpaan para pemuda dan pemudi di lingkungan mereka.
Selain itu, Muyas Saroh bersama para Rismawati juga kerap mengikuti pengajian Ansor yang saat itu digelar secara bergilir dari satu mushala ke mushala lainnya.
Kondisi lingkungan pada masa itu membuat perjalanan menuju lokasi kegiatan menjadi pengalaman tersendiri.
Belum tersedianya aliran listrik PLN di sejumlah wilayah membuat mereka harus berjalan bersama-sama dalam suasana malam yang masih gelap.
Sama-Sama Aktif dalam Organisasi
Setelah menikah, aktivitas organisasi tetap menjadi bagian dari kehidupan Muyas Saroh dan suaminya.
Keduanya sama-sama memiliki komitmen untuk menjalankan tugas organisasi tanpa mengabaikan tanggung jawab keluarga.
Istri Budiono T (Asdiklat Banser Lampung) ini menjelaskan, suaminya aktif di sejumlah organisasi, mulai dari Ansor, Banser, Pagar Nusa hingga berbagai kegiatan NU. Sementara dirinya juga menjalani aktivitas di sejumlah organisasi perempuan NU.
“Saya mendampingi suami sejak tahun 1997 Alhamdulillah sampai saat ini dan kita sama-sama orang yang aktif di dalam organisasi,” ujar Muyas Saroh, kepada NU Media Jati Agung, Kamis (17/9/2026) .
Menurutnya, kesamaan dalam menjalani aktivitas organisasi justru membuat keduanya lebih memahami kesibukan masing-masing.
Ketika salah satu mendapat tugas, pasangan tersebut sudah terbiasa saling memahami dan menyesuaikan peran.
“Kita sama-sama aktif di luar dan di dalam organisasi, jadi permasalahan hampir tidak pernah ada, sudah sama-sama paham,” tuturnya.
Berkhidmah di Tempat Berbeda, Tetap Saling Mendukung
Aktivitas organisasi keduanya tidak selalu dilakukan di tempat yang sama. Bahkan, ketika berada dalam satu kegiatan, Muyas Saroh dan suaminya terkadang menjalankan tugas berbeda sehingga tidak selalu bertemu selama berada di lokasi.

Bagi keduanya, kondisi tersebut bukan menjadi persoalan. Masing-masing memahami tugas yang harus dijalankan dan tetap memberikan dukungan dari tempatnya masing-masing.
Perjalanan khidmah itu bahkan membawa mereka menjelajahi berbagai wilayah Lampung. Mulai dari Lampung Barat, Mesuji, Lampung Utara, Lampung Tengah, Pringsewu hingga Lampung Selatan pernah mereka datangi untuk menjalankan aktivitas organisasi.
Perjalanan juga tidak berhenti di Lampung. Dalam sejumlah kesempatan, keduanya turut melakukan perjalanan hingga Pulau Jawa demi menjalankan tugas organisasi.
“Kita sama-sama punya komitmen, saatnya kerja ya kerja, saatnya organisasi kita pun fokus pada tugas, jadi berusaha seimbang,” kata dia.
Ketika Anak Mulai Sekolah, Peran Keluarga Berubah
Seiring anak mereka mulai memasuki usia sekolah dasar, rutinitas berorganisasi bersama suami mulai mengalami perubahan.
Muyas Saroh memilih memberikan perhatian lebih kepada anak, terutama ketika anak sedang menjalani aktivitas sekolah.
Perubahan tersebut membuat intensitas kebersamaan keduanya dalam kegiatan organisasi tidak lagi seperti sebelumnya.
Namun, tanggung jawab organisasi tetap dijalankan dengan pembagian peran yang menyesuaikan keadaan keluarga.
Ketika Muyas Saroh harus keluar kota selama beberapa waktu, suaminya mengambil peran untuk menjaga anak.
“Kalau saya harus keluar kota untuk beberapa waktu, suami gantian jadi babysitter untuk anak,” ujar Muyas Saroh sambil menjelaskan pola pembagian peran yang mereka jalankan.
Kondisi keluarga yang tidak memiliki kerabat dekat di Lampung Selatan juga membuat keduanya harus mencari cara sendiri dalam menjalankan aktivitas.
Jika memungkinkan, anak mereka pun dibawa dalam perjalanan kegiatan organisasi.
Menjaga Komitmen antara Keluarga dan Khidmah
Bagi Muyas Saroh, aktif dalam organisasi tidak berarti harus mengorbankan keluarga. Sebaliknya, keluarga dan organisasi harus ditempatkan secara seimbang sesuai dengan kondisi dan tanggung jawab masing-masing.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang telah dijalaninya bersama suami selama bertahun-tahun.
Dari kegiatan keagamaan di masa muda hingga berbagai aktivitas organisasi yang dijalani setelah berkeluarga, Muyas Saroh melihat bahwa dukungan pasangan menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keberlangsungan khidmah.
Perjalanan sejak 1997 itu pun terus berjalan. Bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang diikuti, tetapi tentang bagaimana keduanya dapat tetap menjalankan amanah organisasi sekaligus menjaga tanggung jawab sebagai pasangan dan orang tua. (Resmi Januari, S.H.,)

