Proses Evakuasi Buaya Coki Menguras Air Mata
PANJANG, NU MEDIA JATI AGUNG, – Petugas gabungan mengevakuasi buaya betina bernama Coki dari kediaman Wike Saputri (40) pada hari Sabtu, 26 September 2026. Selanjutnya, aparat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan tim Damkarmat mendatangi Gang Rajawali, Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung. Wike bersama putrinya menangis tersedu-sedu saat petugas mengambil satwa peliharaannya tersebut. Evakuasi buaya ini memicu kehebohan seluruh warga yang bermukim dekat area pelabuhan.
Tim Gabungan Menemui Langsung Pemilik Satwa
Oleh karena itu, Hade Hambrata selaku Koordinator Satuan Pelaksana (Satpel) Palembang Loka Pengelola Kelautan (LPK) Pekanbaru bersama stafnya, Rifki, memimpin langsung operasi ini. Mereka datang menemui Wike tepat pada pukul 10.00 WIB pagi hari. Kemudian, para petugas berinteraksi langsung dengan sang pemilik untuk melakukan negosiasi yang cukup alot. Wike memang merasa sangat berat melepaskan hewan yang ia rawat semenjak masih berupa telur tersebut.
Warga Setempat Menonton Operasi Penyelamatan
Sementara itu, warga sekitar sudah memadati area depan rumah Wike sejak pagi hari. Masyarakat sangat antusias menonton kelangsungan operasi pemindahan satwa predator ini dari jarak dekat. Bahkan, beberapa anak kecil berani memanjat pagar rumah demi melihat wujud hewan reptil itu dengan lebih jelas. Warga juga sesekali memanggil nama kesayangan sang hewan yang sedang berendam santai membasahi tubuhnya pada kolam teras rumah.
Wike Memberi Makan Coki Sebagai Salam Perpisahan
Sebelum operasi mulai, Wike menyempatkan waktu menyuapi hewan peliharaannya makan sebagai bentuk salam perpisahan terakhir. Sang pemilik memberi makan satwa itu menggunakan ayam potong segar seharga Rp 120 ribu. Selanjutnya, sang reptil melahap kepala hingga badan ayam tersebut dengan sangat rakus langsung dari tangan pemiliknya. Raut wajah Wike tampak sangat tegang ketika petugas KKP dan Damkarmat bersiap melakukan tugas berat mereka.
Coki Memberontak Hebat Menolak Pindah
Setelah negosiasi selesai, aparat mengevakuasi buaya Coki tepat pada pukul 11.00 WIB. Mula-mula, tim penyelamat mengikat moncong predator itu menggunakan seutas tali tambang yang lumayan kuat. Namun, sang hewan seketika memberontak hebat dan mengibaskan ekor panjangnya ke segala arah. Akibatnya, air kolam tumpah ruah dan membuat geger seluruh warga yang sedang merekam kejadian itu menggunakan kamera piranti genggam.
Pasukan Pemadam Kebakaran Berhasil Menaklukkan Predator
Walaupun mendapat perlawanan sengit, petugas Damkarmat sama sekali tidak menyerah begitu saja. Mereka terus bermanuver taktis sampai akhirnya berhasil melakban moncong reptil itu rapat-rapat. Setelah itu, tim gabungan mengikat kaki serta tangan hewan tersebut agar tidak membahayakan keselamatan orang lain. Pada akhirnya, petugas berhasil menguasai pergerakan satwa ini lalu membawanya naik menuju bak belakang mobil pikap milik pemerintah.
Camat Panjang Memantau Keamanan Lingkungan Warga
Hendry Satria Jaya yang menjabat sebagai Camat Panjang turut hadir memantau situasi lapangan secara langsung. Ia memastikan proses pemindahan satwa ini berjalan lancar tanpa melukai satu orang warga pun. Secara keseluruhan, operasi penaklukan hewan liar ini memakan waktu sekitar enam puluh menit penuh. Tim penyelamat bekerja dengan sangat berhati-hati demi menjaga keselamatan warga serta kelangsungan hidup sang hewan.
Geografi Kecamatan Panjang Mendukung Pertumbuhan Fauna
Sebagai informasi tambahan, Kelurahan Pidada memiliki keunikan tersendiri sebagai tempat tinggal masyarakat maritim. Wilayah Kecamatan Panjang ini mempertemukan area dataran rendah tepi Teluk Lampung dengan daerah perbukitan yang rimbun hijau. Penduduk setempat yang mencapai tujuh puluh dua ribu jiwa sangat bergantung pada kelancaran aktivitas pelayaran. Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Srengsem mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar setiap harinya tanpa henti.
Jalur Logistik Nasional Membelah Kawasan Pemukiman
Selain memiliki pelabuhan niaga, daerah pesisir ini juga memegang peranan krusial dalam jaringan transportasi logistik nasional. Kendaraan angkutan barang dari Pulau Jawa selalu melintasi kawasan ramai ini setiap hari. Wisatawan juga sering singgah saat melakukan perjalanan jauh dari Pelabuhan Bakauheni menuju pusat Kota Bandar Lampung. Oleh sebab itu, penemuan telur hewan liar sekitar pelabuhan sungguh masuk akal.
Suami Wike Menemukan Telur Misterius Pinggir Pantai
Kisah hidup hewan amfibi ini bermula dari ketidaksengajaan suami Wike saat bekerja membersihkan kawasan Pelabuhan Petikemas. Sang suami menemukan sebuah telur aneh menyembul atas tumpukan tanah berpasir ketika membersihkan sisa tumpahan minyak. Mereka awalnya sama sekali tidak mengetahui jenis hewan apa yang bersemayam dalam cangkang rapuh tersebut. Wike kemudian menceritakan detail kronologi lengkapnya saat jurnalis menemui dirinya pada hari Jumat (25/9/2026).
“Awalnya suami tidak tahu kalau itu telur buaya. Kami bawa pulang dan coba tetaskan sendiri secara otodidak menggunakan metode lampu merah,” ungkap Wike, Jumat (25/9/2026).
Pasangan Suami Istri Menetaskan Telur Memakai Lampu
Setelah melewati masa pengeraman hangat selama dua bulan penuh, telur misterius itu akhirnya menetas tepat pada tanggal 11 September 2023. Pasangan suami istri ini merasa takjub melihat seekor bayi reptil lucu keluar memecah cangkangnya. Berbekal kepedulian tinggi terhadap kelestarian alam semesta, mereka memutuskan untuk memelihara bayi mungil tersebut. Mereka memberikan sebutan istimewa Coki dan merawatnya layaknya anggota keluarga sendiri.
“Kami mendedikasikan diri memelihara Coki demi keberlangsungan hidup habitatnya, jangan sampai punah,” ujat Wike.
Pemerintah Pusat Mengambil Alih Tanggung Jawab Konservasi
Akan tetapi, pemerintah pusat menetapkan regulasi khusus mengenai kepemilikan satwa liar yang memiliki status lindung. Kementerian terkait merencanakan langkah penertiban nyata ini untuk menegakkan aturan konservasi resmi negara Republik Indonesia. Selain itu, pihak berwenang juga memiliki niat mulia mengantisipasi potensi bahaya fatal bagi keamanan warga sekitar pada masa mendatang. Oleh karena itu, aparat negara mengambil alih kewajiban pemeliharaan Coki agar hewan malang tersebut mendapatkan habitat hidup alami.
Perpisahan Emosional Mengakhiri Persahabatan Tiga Tahun
Memelihara seekor satwa sejak menetas tentu menumbuhkan jalinan ikatan emosional yang sungguh mendalam. Wike beserta seluruh anggota keluarganya merasa sangat kehilangan sosok sahabat setia yang menemani hari-hari mereka selama tiga tahun ke belakang. Walaupun hati mereka terasa hancur lebur, keluarga ini akhirnya merelakan kepergian hewan peliharaannya demi kebaikan sang satwa itu sendiri. Petugas kemudian membawa satwa tersebut meninggalkan lokasi menuju fasilitas konservasi resmi milik instansi terkait.

