Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Entrepreneur Pesantren Dorong Kemandirian Ekonomi Lampung

Entrepreneur Pesantren Buka Ruang Kolaborasi Ekonomi

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung — Entrepreneur Pesantren menjadi ruang bertemunya pesantren, pelaku usaha, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat untuk membahas peluang kewirausahaan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi pesantren di Provinsi Lampung.

Kegiatan yang digagas oleh Dr. H. Abdurochman, M.Ed., Pengasuh Rumah Ngaji Mahasantri Bina Cendikia Luhur, tersebut berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 08.00–12.00 WIB, di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Lampung.

Sekitar 40 peserta dari sejumlah pesantren di Provinsi Lampung mengikuti kegiatan tersebut. Forum ini mempertemukan peserta dengan pelaku usaha untuk berbagi pengalaman, membangun relasi, serta membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan usaha di lingkungan pesantren.

Pemateri dan Tokoh Penting Turut Hadir

Kegiatan Konkow Entrepreneur Pesantren menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang untuk memperkaya pembahasan mengenai kewirausahaan, pendidikan, dan pengembangan jejaring pesantren.

Hadir sebagai pemateri utama, Dr. Ghozali Timbasz, M.Sos., MMC., CHRA., Owner PT ATI (Aplikator Teknik Indonesia) dan El Thila’. Dalam forum tersebut, ia membagikan pengalaman membangun usaha sekaligus menjelaskan berbagai peluang pengembangan usaha dan kemitraan yang dapat dikembangkan bersama pesantren.

Selain itu, kegiatan turut dihadiri Rektor Universitas Indonesia Mandiri (UIM), Dr. Rustono Farady Marta, S.Sos., M.Med.Kom. Kehadirannya turut memberikan perspektif mengenai pendidikan tinggi sekaligus memperkenalkan Universitas Indonesia Mandiri (UIM) kepada para peserta.

Turut hadir pula Ust. Budi Setiawan, S.Pd.I. (Gus Budi), Ketua JKSN Provinsi Lampung. Kehadiran sejumlah tokoh tersebut menambah ruang silaturahmi dan jejaring dalam kegiatan yang mempertemukan pesantren, pelaku usaha, serta lembaga pendidikan.

Dengan hadirnya berbagai unsur tersebut, Konkow Entrepreneur Pesantren tidak hanya menjadi forum diskusi mengenai kewirausahaan. Kegiatan ini juga mempertemukan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan potensi pesantren, pendidikan, dan kemandirian ekonomi.

Ketua Pelaksana Dorong Pesantren Membaca Peluang

Ketua Pelaksana Konkow Entrepreneur Pesantren, Abdurrohim, S.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang bagi pesantren dan generasi muda agar dapat belajar, bertukar pengalaman, membangun relasi, serta menggali berbagai peluang kewirausahaan.

Menurutnya, pesantren memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan, baik dalam bidang usaha maupun ekonomi kreatif. Karena itu, forum pertemuan dapat membantu peserta memperoleh inspirasi langsung dari pelaku usaha sekaligus membangun jejaring antarpesantren.

Panitia memilih konsep kongkow untuk menciptakan suasana diskusi yang santai, akrab, dan terbuka. Dengan pendekatan tersebut, peserta dapat berdialog, berbagi pengalaman, serta menemukan peluang kolaborasi dengan tetap membawa nilai-nilai keislaman dan karakter kepesantrenan.

Santripreneurship Buka Peluang Usaha

Semangat santripreneurship menjadi salah satu bagian penting dalam upaya membangun kemandirian ekonomi pesantren dan generasi muda. Pesantren dapat mengembangkan berbagai potensi usaha, mulai dari kuliner, konveksi, perdagangan, teknologi digital, ekonomi kreatif, hingga usaha berbasis potensi lokal.

Karena itu, Entrepreneur Pesantren tidak hanya mempertemukan peserta dalam sebuah diskusi. Kegiatan ini juga membuka ruang untuk mempertemukan gagasan usaha dengan pengalaman pelaku bisnis serta potensi yang ada di lingkungan pesantren.

Dr. Ghozali Bagikan Pengalaman Membangun Usaha

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ghozali membagikan pengalaman membangun usaha sekaligus membuka wawasan peserta mengenai peluang pengembangan usaha dan kemitraan bersama pesantren.

Dalam wawancara seusai kegiatan, Dr. Ghozali menjelaskan bahwa dirinya merupakan inisiator sekaligus pimpinan perusahaan yang dikembangkannya. Perjalanan usahanya berawal dari upaya membaca peluang ketika sebelumnya bergerak dalam bidang jasa dan penjualan UPVC, khususnya kusen pintu dan jendela.

ā€œTentu pertama kita membaca peluang. Yang awalnya kita itu bergerak di jasa penjualan UPVC ya, kusen pintu jendela. Begitu kita sambil menjual, kita termotivasi, terinspirasi bahwa di situ juga butuh cat”, Ungkapnya.

Dari kebutuhan tersebut, ia kemudian melihat peluang untuk mengembangkan produk cat. Ia menjalankan proses pengembangan melalui pembelajaran dan berbagai pengujian, termasuk pengujian di laboratorium di Surabaya.

ā€œTerinspirasi itu saya coba untuk belajar, lama. Lama kami lakukan pengujian-pengujian sampai ke Surabaya kita lab, kita dapat. Secara garis besar rumusan itu sudah dapat”,Ujarnya.

Setelah memperoleh rumusan produk, ia melanjutkan proses dengan menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari bahan baku, sumber daya manusia, hingga mesin produksi.

ā€œTinggal kita mencari bagaimana untuk mendapatkan bahan baku, bagaimana kita untuk mengelola itu. Artinya sumber daya manusia harus kita siapkan, faktor pendukung seperti mesin dan lain-lain. Nah, di situ kita bertahap, step by step, akhirnya itu bisa terwujud. Sehingga launching Januari kita sudah produksi”,Tambahnya.

Entrepreneur Pesantren Buka Peluang Kemitraan

Selain membahas pengalaman membangun usaha, Dr. Ghozali juga menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara dunia usaha dan pesantren. Ia melihat hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan bisnis, tetapi juga dapat membuka ruang berbagi dan kebermanfaatan.

ā€œPertama begini, selain untuk mengambil keberkahan, berbagi bersama, bersama anak-anak pondok pesantren, kita bisa berbagi. Secara tidak langsung kita berbisnis dan beramal. Kira-kira seperti itu”, Ungkapnya.Ā 

Ia berharap hubungan dunia usaha dengan pesantren dapat berkembang melalui bentuk kerja sama yang lebih terarah. Pesantren yang memiliki ketertarikan dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan melalui pola kemitraan.

Pembinaan Jadi Bagian dari Rencana Kemitraan

Konkow Entrepreneur Pesantren juga membuka peluang tindak lanjut melalui kemitraan dan pembinaan bagi pesantren yang berminat.

Dr. Ghozali mengatakan, pesantren yang siap bermitra dapat mengikuti proses pembinaan, termasuk peningkatan keterampilan sumber daya manusia.

ā€œKita tindak lanjuti ke tahapan kemitraan mungkin, ketika dari pondok-pondok pesantren ini berminat, kemudian siap untuk bermitra, kita tindak lanjuti ke pembinaan. Kan tentu ada pembinaan bagi pengelola-pengelola ini di bawah”,Katanya.

Pembinaan tersebut dapat mencakup keterampilan teknis, termasuk proses pewarnaan serta tata cara penggunaan dan pengelolaan produk.

ā€œKalau untuk pewarnaan kita harus mengajari sumber daya mereka yang mereka kirimkan untuk mewarnai. Kemudian bagaimana tata caranya membuka, tutup biar tidak rusak, dan seterusnya”, Imbuhnya.

Peserta Nilai Kegiatan Tambah Wawasan

Respons terhadap kegiatan juga disampaikan Ust. Samsul Arifin, S.Pd., perwakilan Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum, Batanghari, Lampung Timur.

Menurutnya, kegiatan Konkow Entrepreneur Pesantren memberikan tambahan wawasan sekaligus membuka peluang bagi pesantren untuk memperluas jaringan dan membangun relasi dengan berbagai pihak.

ā€œTerkait dengan acara tadi, alhamdulillah cukup menambahkan wawasan dan menambah relasi untuk pesantren. Salah satunya juga untuk sinergitas antara pesantren dan Cat El Thila, harapannya semoga kedepannya terjalin hubungan kerjasama yang bersifat maslahat antara keduanya. Semoga kita mendapatkan kebarokahan dan kemaslahatan amin amin amin”, Ungkapnya.

Ia menilai pertemuan tersebut dapat membuka ruang sinergi antara pesantren dan dunia usaha. Harapan terhadap kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua pihak juga menjadi salah satu hal yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Rektor UIM Kenalkan Perguruan Tinggi

Selain menghadirkan pelaku usaha, kegiatan tersebut turut menghadirkan Rektor Universitas Indonesia Mandiri (UIM), Dr. Rustono Farady Marta, S.Sos., M.Med.Kom.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIM menyampaikan sosialisasi mengenai Universitas Indonesia Mandiri (UIM) kepada para peserta.

Kehadiran sekitar 40 perwakilan pesantren dari berbagai wilayah di Provinsi Lampung membuat kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan pengembangan jejaring antarpeserta.

Pesantren dan Dunia Usaha Perlu Terus Berkolaborasi

Melalui Konkow Entrepreneur Pesantren, para peserta membahas berbagai peluang pengembangan kemandirian ekonomi pesantren. Pertemuan antara pesantren, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan mempertemukan gagasan, pengalaman, serta peluang yang dapat dikembangkan melalui kerja sama.

Selanjutnya, peluang tindak lanjut dapat berkembang melalui kemitraan, pembinaan sumber daya manusia, serta pengembangan usaha sesuai potensi masing-masing pesantren.

Dengan demikian, kegiatan ini membuka ruang bagi penguatan ekosistem kewirausahaan pesantren. Selain itu, forum tersebut mempertemukan generasi santri dengan pengalaman dunia usaha sekaligus membuka kesempatan untuk mengembangkan usaha yang selaras dengan nilai kepesantrenan. (Khairil Ambri)