Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Atasi Konflik Satwa, PMII Unila Tanam Bibit di Gunung Banten

Tanam Bibit Buah untuk Atasi Konflik Satwa

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung— Tanam bibit buah menjadi langkah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Pertanian (Raperta) Universitas Lampung (Unila) bersama komunitas Teras Warga dan sejumlah elemen lintas organisasi untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengantisipasi konflik antara satwa liar dan masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Gunung Banten, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Ahad (4/10/2025).

Aksi kolaboratif itu tidak hanya menyasar penghijauan. Para peserta juga mendorong upaya menjaga ekosistem sekaligus melakukan mitigasi terhadap sejumlah persoalan lingkungan yang berpotensi berdampak kepada masyarakat sekitar.

PMII Unila Respons Kemunculan Monyet

Ketua PMII Rayon Pertanian Unila, Dimas Adea Putra, mengatakan penanaman bibit buah menjadi salah satu langkah konkret untuk merespons keresahan masyarakat akibat kemunculan satwa liar di kawasan permukiman.

Menurut Dimas, monyet beberapa kali turun ke rumah-rumah warga. Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan ekologis yang membutuhkan perhatian bersama.

Karena itu, ia menilai masyarakat perlu menjaga ketersediaan sumber pakan alami bagi satwa di habitatnya.

“Karena itu, kami melihat perlu ada langkah yang bisa dilakukan bersama untuk menjaga keseimbangan lingkungan,” ucapnya.

Pohon Buah Jadi Sumber Pakan Satwa

Selanjutnya, Dimas menyebut penanaman pohon buah sebagai salah satu langkah untuk menyediakan sumber pakan alami bagi satwa liar.p

Ia berharap pohon yang tumbuh nantinya dapat membantu memenuhi kebutuhan pakan satwa di habitatnya.

Dengan begitu, satwa tidak perlu turun ke kawasan permukiman warga untuk mencari makanan.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Banten secara berkelanjutan.

Tanam Bibit untuk Mitigasi Bencana

Selain persoalan satwa liar, kegiatan tanam bibit juga menjadi bagian dari upaya mitigasi potensi bencana di kawasan Gunung Banten.

Dimas menyebut kondisi kawasan yang memiliki banyak batu dan struktur tanah tertentu perlu mendapatkan perhatian.

 

Menurutnya, berbagai pihak perlu mengambil langkah untuk mengurangi potensi risiko yang dapat membahayakan masyarakat.

 

“Memang kita tidak bisa mencegah semua kemungkinan, tetapi setidaknya kita bisa melakukan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi risikonya,” tuturnya.

Ia menambahkan, gerakan penghijauan membutuhkan proses dan tidak dapat memberikan hasil secara instan.

Karena itu, penanaman bibit yang dilakukan saat ini menjadi langkah awal yang perlu mendapat perawatan secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Dimas berharap masyarakat bersama berbagai komunitas yang terlibat dapat merawat tanaman tersebut sehingga gerakan penghijauan terus berkembang.

Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Lingkungan

Pihaknya juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kawasan lingkungan.

Menurut Dimas, persoalan lingkungan memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sehingga tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja.

“Persoalan lingkungan adalah persoalan bersama. Ketika banyak pihak bergerak bersama, dampaknya tentu akan jauh lebih besar,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi kepada komunitas Teras Warga yang telah membuka ruang kolaborasi.

Dia juga mengapresiasi seluruh elemen yang turut mengambil bagian dalam kegiatan penanaman bibit buah di kawasan Gunung Banten.

Libatkan Berbagai Elemen

Aksi penanaman bibit buah tersebut melibatkan berbagai elemen dan komunitas. Teras Warga bertindak sebagai inisiator bersama PMII Rayon FKIP Unila, Rumah Sikam, SFC Lampung, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Densus 88 anti teror, unsur pemerintah setempat, Prajurit Semfucker, Tambulapot Lampung, serta sejumlah elemen lainnya.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperkuat gerakan kolaboratif untuk menjaga kawasan Gunung Banten.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya melakukan penghijauan, tetapi juga mendorong upaya penyediaan sumber pakan alami bagi satwa dan mengurangi potensi konflik dengan masyarakat.

Dengan perawatan secara berkelanjutan, penanaman bibit buah diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi risiko lingkungan di kawasan Gunung Banten. (Hafidz Fatur Rahman)