Rapat Panitia Jadi Ruang Konsolidasi Nahdliyin
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung ā Lapangan Kecamatan Jati Agung pada 22 Oktober 2026 mendatang diproyeksikan menjadi ruang berkumpulnya warga Nahdliyin dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN).
Namun, sebelum panggung dan rangkaian kegiatan digelar, pekerjaan lain tengah berlangsung di balik layar.
Panitia bersama unsur Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Jati Agung terus memperkuat persiapan sekaligus mengonsolidasikan keterlibatan MWCNU, Ranting dan badan otonom NU.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi lanjutan Panitia HSN 2026 yang berlangsung di kediaman Ketua Panitia, Sahabat Waryanto, Desa Marga Lestari, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, Sabtu malam (3/10/2026).
Sejumlah unsur NU hadir dalam rapat tersebut. Di antaranya Wakil Katib PCNU Lampung Selatan Kyai Muhammad Sahalludin Mahfudz, Mustasyar MWCNU Jati Agung Misman, Rois Syuriah MWCNU Jati Agung Kyai Masduki, Ketua UPZISNU Jati Agung Ustadz Sukri, Ketua PAC Fatayat NU Nyai Binti Sayyidatul Naāim, Ketua Pagar Nusa Jati Agung Sahabat Iqbal, serta unsur Banser, IPNU dan IPPNU.
Dari Rapat Panitia, Menggerakkan Warga Menjadi Perhatian
Di tengah pembahasan persiapan teknis, pesan yang muncul dalam rapat tidak berhenti pada urusan pelaksanaan kegiatan.
Wakil Katib PCNU Lampung Selatan Kyai Muhammad Sahalludin Mahfudz mengajak seluruh warga Nahdliyin dan jajaran pengurus NU Jati Agung menjadikan HSN sebagai momentum kebersamaan.
Ia menyampaikan bahwa peringatan HSN merupakan kesempatan bagi santri untuk menunjukkan kebanggaan setelah keberadaan santri mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan.
āYang selanjutnya, saya selaku perwakilan dari pengurus PCNU Kabupaten Lampung Selatan, mengajak kepada seluruh warga Nahdliyin dan kepada seluruh pengurus, baik itu MWC, Ranting, dan juga seluruh badan otonom Nahdlatul Ulama yang ada di Jati Agung, untuk bersama-sama kita memeriahkan HSN tahun 2026 ini atau tahun 1448 Hijriah ini,ā ujar Kyai Sahalludin Mahfudz.
Menurut Kyai Sahal, Hari Santri Nasional merupakan hadiah bagi santri, baik mereka yang pernah maupun sedang menempuh pendidikan di pesantren maupun santri yang tidak mondok.
āKarena Hari Santri Nasional ini adalah hadiah untuk kita, santri, baik itu santri yang mondok ataupun yang tidak mondok. Ini adalah hadiah dari pemerintah kita, maka kita harus bangga,ā katanya.
Ia juga menilai penetapan Hari Santri sebagai hari nasional menunjukkan pengakuan negara terhadap keberadaan santri.
āKarena santri telah diakui oleh negara kita keberadaannya, dan juga dijadikan Hari Nasional,ā ungkapnya.
Dari situlah ia mengembalikan pertanyaan kepada warga Nahdliyin sendiri tentang siapa yang akan mengambil peran dalam memeriahkan momentum tersebut.
āMaka, kalau bukan kita, siapa yang akan meramaikan, memeriahkan Hari Santri Nasional?ā tegasnya.
Bukan Sekadar Hadir, Pengurus Diminta Mengajak
Bagi Kyai Sahal, kemeriahan HSN tidak cukup diukur dari berapa banyak pengurus yang hadir.

Ada pekerjaan lain yang dianggap lebih penting, yakni bagaimana pengurus mampu mengajak anggota dan masyarakat untuk ikut datang.
Karena itu, ia mengimbau seluruh unsur kepengurusan NU, mulai MWC, Ranting hingga badan otonom, agar tidak berhenti pada kehadiran pribadi.
āOleh karena itu, saya menghimbau dan mengajak kepada seluruh warga Nahdliyin, khususnya kepada seluruh pengurus di semua elemen, baik itu dari mulai MWC, Ranting, seluruh badan otonom untuk bersama-sama kita mengajak, menyeru kepada seluruh anggota kita,ā ujarnya.
Ajakan tersebut juga ditujukan kepada masyarakat Nahdliyin secara luas untuk menghadiri pelaksanaan HSN di Lapangan Kecamatan Jati Agung.
āDan juga kepada seluruh masyarakat kita warga Nahdliyin untuk bisa bersama-sama memeriahkan, menghadiri Hari Santri Nasional yang akan kita laksanakan bersama-sama di Lapangan Kecamatan Jati Agung,ā lanjutnya.
Dari sini, Kyai SahalĀ kemudian membawa pembahasan pada satu konsep yang lebih luas tentang bagaimana seharusnya seorang pengurus hadir di tengah masyarakat: bukan hanya saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi muslih yang mengajak orang lain dalam kebaikan.
āKita itu hari ini bukan cuma harus saleh, tapi harus muslih. Kalau saleh itu untuk diri sendiri, kita berangkat sendiri itu saleh,ā jelasnya.
Menurutnya, menjadi muslih berarti tidak berhenti melakukan kebaikan untuk diri sendiri, tetapi turut mengajak orang lain.
āTapi kalau kita mau menjadi muslih, kita mengajak, kita juga berangkat dan juga mengajak, itu ada nilai plus-nya,ā ungkap Kyai Sahal yang juga merupakan pengasuh Ponpes Darul Muta’allimin Desa Sinar Rejeki.
Ia kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan momentum HSN yang akan berlangsung pada 22 Oktober.
āPlus-nya di mana? Kita berangkat dapat pahala, kita mengajak yang diajak berangkat, kita dapat pahala double,ā katanya.
Dari HSN, Menguatkan Gerakan NU di Tingkat Bawah
Pesan tentang menggerakkan masyarakat kemudian berlanjut pada bagaimana pengurus NU melihat kehidupan organisasi di tingkat lokal.
Kyai Sahal turut menyinggung dinamika kepengurusan Nahdlatul Ulama di tingkat pusat yang belakangan menjadi pembahasan di media sosial.
Ia mengajak warga NU di tingkat bawah untuk lebih memusatkan perhatian pada kehidupan NU dan masyarakat di lingkungannya.
āKarena hari ini Nahdlatul Ulama ini, ya kita semuanya tentunya sudah tahu di media sosial bagaimana hari ini kepengurusan Nahdlatul Ulama di tingkat pusat yang menjadi bahan gunjingan lah seperti itu intinya,ā katanya.
Ia kemudian mengajak pengurus NU di tingkat bawah untuk fokus pada lingkungan dan masyarakat yang berada dalam jangkauan mereka.
āArtinya, ayo kita yang di bawah ini tidak usah ngurusin yang di atas, kita ngurusin yang di bawah,ā ujarnya.
Menurutnya, kekuatan NU tidak hanya berada pada struktur organisasi, tetapi juga pada kehidupan kultural yang tumbuh di tengah masyarakat.
āKarena kekuatan NU itu bukan di struktural sebenarnya, tapi di kultural,ā jelasnya.
Pandangan tersebut sekaligus menempatkan HSN bukan hanya sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai ruang untuk memperkuat keterlibatan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.
HSN Menjadi Ruang Konsolidasi Warga
Pada akhirnya, persiapan HSN 2026 Jati Agung bukan hanya berbicara mengenai teknis acara.
Di balik rapat panitia, terdapat upaya membangun keterlibatan yang lebih luas dari pengurus, badan otonom hingga masyarakat.
Kyai Sahal menegaskan bahwa pengurus akan memiliki makna lebih ketika mampu menggerakkan elemen yang berada di bawahnya.
āKita ini, pengurus ini saya katakan pengurus saleh,ā ujarnya.
Namun, ia kembali menekankan pentingnya peran pengurus sebagai penggerak masyarakat.
āTapi kalau kita bisa menggerakkan seluruh elemen yang ada di bawah, maka itulah kita bukan cuma saleh, tapi muslih,ā pungkasnya.
Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan Panitia HSN 2026 Kecamatan Jati Agung.Ā
Panitia bersama unsur MWCNU, Ranting dan badan otonom NU terus memantapkan persiapan menuju peringatan Hari Santri Nasional yang dijadwalkan berlangsung di Lapangan Kecamatan Jati Agung pada 22 Oktober 2026. (ARIF)

