Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Ranting Fatayat NU Sinar Rejeki Tumbuh dengan Semangat Kebersamaan dan Istiqamah

Pengajian Menjadi Ruang Silaturahmi dan Penguatan Kader

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Dari sebuah masjid di Dusun Bringin Jaya, Desa Sinar Rejeki, Kecamatan Jati Agung, semangat perempuan muda Nahdlatul Ulama terus dirawat.

Bukan dengan langkah besar yang serba cepat, melainkan melalui pengajian, silaturahmi, dan kebersamaan yang dilakukan secara rutin.

Suasana itu terlihat dalam Pengajian Rutin Triwulan Ranting Fatayat NU yang digelar di Masjid Baiturrahman, Desa Sinar Rejeki, Kecamatan setempat, pada Ahad, (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut menjadi ruang bagi kader Fatayat NU untuk berkumpul sekaligus memperkuat silaturahmi dengan jajaran Nahdlatul Ulama di Kecamatan Jati Agung.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PAC Fatayat NU Jati Agung Binti Sayyidatul Nai’mah, Ketua PAC Muslimat NU Siti Munawaroh, jajaran MWCNU Jati Agung, Ketua GP Ansor Jati Agung Waryanto, Anggota DPRD Lamsel, PKB, Misman serta para kader dan jamaah.

Foto Arif: Sesi Foto Bersama PAC Fatayat NU usai kegiatan. 

Usai kegiatan, Ketua Ranting Fatayat NU Desa Sinar Rejeki, Siti Nur Arifah, menceritakan perjalanan organisasi yang masih dalam tahap awal, tetapi mulai mendapat tempat di tengah masyarakat.

Menurut Rifa, dari 21 desa yang ada di Kecamatan Jati Agung, saat ini ranting Fatayat NU baru terbentuk di empat desa, yakni Marga Kaya, Sinar Rejeki, Sumber Rejeki, dan Purwotani.

Khusus di Desa Sinar Rejeki, terdapat sekitar 25 anggota aktif. Jumlah tersebut belum termasuk anggota yang belum aktif mengikuti kegiatan organisasi.

“Kalau di Desa Sinar Rejeki ada 25 anggota aktif. Alhamdulillah aktif. Kalau sama yang tidak aktif, ya lebih dari 25,” ujar Rifa kepada NU Media Jati Agung, Ahad (27/6/2026). 

Merawat Organisasi dari Pertemuan Rutin

Bagi Rifa, membangun organisasi tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Yang terpenting adalah menjaga semangat anggota agar tetap berkumpul dan menjalankan kegiatan secara istiqamah.

Fatayat NU Ranting Sinar Rejeki memiliki kegiatan rutin setiap bulan. Salah satunya dilaksanakan setiap Ahad Legi dengan tempat kegiatan yang bergiliran, dirumah-rumah para kyai.

“Kita kalau kegiatannya setiap sebulan sekali, setiap minggu legi kita melaksanakan rutinan juga di rumah-rumah para kyai, bergiliran,” katanya.

Di tengah usia organisasi yang masih tergolong muda, Rifa menyadari masih banyak hal yang perlu dibangun. Karena itu, kekompakan dan semangat menjadi modal utama bagi para kader.

“Pokoknya kita tetap melaksanakan rutinan Fatayat ini supaya tetap terlaksana dengan lancar. Kita selalu kompak,” ujarnya.

Menurutnya, tahap awal memang menjadi masa untuk membangun fondasi organisasi secara perlahan.

“Pokoknya intinya yang penting semangat aja dulu, soalnya masalahnya masih awal-awal kayak gini,” katanya.

Mendapat Sambutan Masyarakat

Kehadiran Fatayat NU di Desa Sinar Rejeki juga mendapat respons positif dari masyarakat.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan, warga cukup antusias ketika kegiatan Fatayat NU digelar.

Dukungan itu tidak hanya terlihat dari kehadiran, tetapi juga melalui semangat saling membantu ketika kegiatan dilaksanakan.

“Sangat antusias sih. Kalau ada acara gitu ya mengikuti, walaupun misalnya belum ada apa, saling membantu,” tuturnya.

Dukungan tersebut menjadi dorongan bagi para kader untuk terus mengembangkan kegiatan Fatayat NU di Desa Sinar Rejeki.

Pihaknya berharap organisasi yang baru tumbuh tersebut dapat terus berjalan dan menjaga komitmen sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama.

“Kalau untuk ke depannya mudah-mudahan Fatayat ini terus istiqomah dengan menjalankan kegiatan kita organisasi ini. Semoga organisasi ini terus berjalan dengan baik dan menjaga komitmen kita sebagai Nahdlatul Ulama,” katanya.

Ia juga berharap nilai Ahlussunnah wal Jama’ah terus menjadi bagian dari perjalanan organisasi.

“Pokoknya Ahlussunnah wal Jama’ah kita bareng-bareng. Semoga Fatayat ini tetap berjalan dengan baik. Semoga ke depannya lebih besar lagi,” ujarnya.

Kyai Ahmad Ansori: NU Harus Mengedepankan Tasamuh

Sementara itu, pesan mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai ke-NU-an kemudian disampaikan Ketua Tanfidziyah MWCNU Jati Agung, Kyai Ahmad Ansori, S.Pd.I., dalam tausyiahnya.

Pada kesempatan tersebut Kyai Ansori membahas mengenai keorganisasian Nahdlatul Ulama sekaligus menjelaskan dasar keagamaan yang menjadi pijakan warga NU.

Foto Dok Arif: Ketua Tanfidziyah MWCNU Jati Agung, Kyai Ahmad Ansori, S.Pd.I., saat memberikan Tausiyah. 

Ia menerangkan tentang empat mazhab yang masyhur dalam Islam, yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. 

Dalam praktik ke-NU-an di Indonesia, NU banyak mengikuti jejak Imam Asy-Syafi’i, khususnya dalam persoalan fiqih.

Penjelasan tersebut kemudian mengarah pada salah satu nilai penting yang ditekankan Kyai Ansori, yakni tasamuh atau sikap moderat.

“Tasamuh itu artinya moderat. Moderat itu apa? Tidak berpikir plin-plan, tidak berpikir radikal, tidak mudah mengatakan orang itu salah atau orang itu kafir,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar perbedaan pemahaman tidak serta-merta menjadi alasan untuk memberikan cap atau penilaian kepada orang lain.

“Kalau tidak sepemahaman dengan kita, jangan langsung mengatakan bid’ah,” lanjutnya.

Menurut Kyai Ansori, sikap tasamuh menjadi bagian dari karakter NU dalam menghadapi perbedaan.

“NU bersifat tasamuh, moderat. Artinya, santai saja, yang penting kita mengikuti kiai-kiai yang ada saat ini,” ujarnya.

Dengan gaya penyampaian yang ringan, ia kemudian mengingatkan para jamaah agar tidak mudah terbawa perasaan ketika menghadapi dinamika organisasi.

“Ibu-ibu jangan, Bapak-bapak jangan, jangan baperan!” katanya.

Lebih Lanjut, Kyai Ansori menggambarkan Nahdlatul Ulama sebagai sebuah rumah besar.

Karena itu, menurutnya, berbagai dinamika yang muncul perlu dihadapi dengan sikap tenang dan tidak mudah terpancing.

“Karena Nahdlatul Ulama itu adalah rumah besar. Jadi wajar kalau rumah itu bagus, indah, elok, dan rapi, semua ingin memiliki, bahkan ingin memasuki,” tuturnya.

“Dengan cara apa? Ya lewat ontran-ontran, membuat permasalahan. Jadi Ibu-ibu semua, Fatayat, dan seluruh jamaah jangan mudah baper,” sambungnya.

Dari Sinar Rejeki, Menjaga Tradisi dan Kebersamaan

Pengajian di Masjid Baiturrahman itu pada akhirnya bukan hanya menjadi agenda rutin organisasi.

Ia menjadi ruang untuk merawat hubungan antarkader, memperkuat silaturahmi, sekaligus menanamkan nilai-nilai ke-NU-an kepada masyarakat.

Fatayat NU Ranting Sinar Rejeki mungkin masih berada di tahap awal. Namun, dari 25 anggota aktif dan kegiatan yang terus dijalankan setiap bulan, terlihat sebuah proses kecil yang sedang tumbuh.

Bagi para kadernya, organisasi tidak harus langsung besar.

Cukup dimulai dengan berkumpul, mengaji, saling membantu, menjaga kekompakan, kemudian terus berjalan dengan istiqamah.

Dari sana, mereka berharap Fatayat NU Sinar Rejeki semakin kuat dan mampu menjadi bagian dari perjalanan panjang Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat. (ARIF).