Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

HSN 2026 Jati Agung: Kyai Masduki Ingatkan Jangan Kendor

Pesan “10 Pendayung” untuk Menjaga Gerakan Panitia

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Ada satu pesan yang terus ditekankan Rois Syuriah MWCNU Jati Agung, Abah Yai Masduki, dalam rapat koordinasi lanjutan Panitia Hari Santri Nasional (HSN) 2026: jangan sampai semangat  kendor.

Bagi Abah Yai Masduki, pelaksanaan HSN tahun ini harus diupayakan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Namun, keinginan tersebut tidak akan berjalan tanpa semangat dan gerakan bersama dari seluruh unsur yang terlibat.

Pesan itu disampaikan Abah Yai Masduki dalam rapat koordinasi lanjutan Panitia HSN 2026 di kediaman Ketua Panitia, Sahabat Waryanto, Desa Marga Lestari, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, Sabtu malam (3/10/2026).

“Untuk Hari Santri Nasional 2026 ini, mengingat sudah kurang lebih lima kali atau beberapa kali peringatan Hari Santri dilaksanakan di Kecamatan Jati Agung, mari kita bersama-sama berupaya agar pelaksanaannya tahun ini bisa lebih meriah lagi,” ujar Abah Yai Masduki, mengawali sambutannya, (3/10/2026). 

Menurutnya, pengalaman dari pelaksanaan HSN sebelumnya harus menjadi bahan evaluasi untuk menghadirkan kegiatan yang lebih baik.

“Artinya, apa yang sudah dilakukan kemarin harus kita usahakan lebih baik lagi hari ini, dengan melihat berbagai acara dan kegiatan Hari Santri pada tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Semua Harus Ikut Mendayung

Bagi Abah Yai Masduki, upaya memperbaiki pelaksanaan HSN tidak cukup hanya dengan rencana.

Orang-orang yang terlibat di dalamnya harus memiliki semangat yang sama dan mengambil peran sesuai tugas masing-masing.

“Upaya itu bisa terwujud kalau yang hadir di sini memiliki semangat yang sama. Jadi, semuanya harus bergerak dan mengambil peran,” ujarnya.

Ia kemudian menggunakan sebuah analogi sederhana tentang olahraga dayung untuk menggambarkan pentingnya kebersamaan.

“Saya pernah melihat pesan dalam sebuah grup olahraga dayung. Misalnya ada 10 orang yang mendayung, kemudian satu orang berkata, ‘Ah, saya tidak mendayung, saya santai saja.’ Kalau yang satu ini dibiarkan, lama-lama bisa menjadi sembilan orang yang berpikir seperti itu, akhirnya tidak akan berjalan,” tuturnya.

Menurutnya, sebuah gerakan akan sulit mencapai tujuan apabila sebagian orang memilih pasif.

“Artinya, dari 10 orang itu semuanya harus tetap bergerak. Bagaimana pun upayanya, paling tidak yang hadir di sini harus memiliki semangat untuk bergerak dan mengambil peran,” katanya.

Pesan itu terutama ditujukan kepada mereka yang hadir dalam rapat. Sebab, mereka nantinya diharapkan menjadi bagian yang meneruskan semangat tersebut kepada unsur lain yang belum hadir.

“Yang belum hadir tentu tidak mendengar langsung pembahasan ini. Karena itu, paling tidak yang hadir di sini, di mana pun posisinya, harus ada pergerakan,” ujarnya.

“Sampai nanti pada hari pelaksanaan, atau bahkan sebelum pelaksanaan, harus sudah terlihat gerakannya,” lanjutnya.

Pondok Pesantren Perlu Dilibatkan

Gerakan tersebut, menurut Abah Yai Masduki, salah satunya dapat dilakukan dengan melibatkan pondok pesantren yang berada di lingkungan NU. 

Ia meminta tim yang bertugas melakukan penggalangan dukungan untuk mendatangi pondok-pondok pesantren dan menyampaikan rencana pelaksanaan HSN.

“Seluruh pondok yang tercatat di lingkungan NU perlu didatangi. Walaupun secara kelembagaan RMI untuk saat ini belum ada, tidak menjadi persoalan. Karena pondok pesantren pasti memiliki keyakinan bahwa Hari Santri itu bagian dari dunianya pondok, bagian dari kehidupan pesantren,” katanya.

Ia meminta tim tidak merasa sungkan untuk datang dan membangun komunikasi dengan pihak pesantren.

“Jadi, tidak perlu segan, tidak perlu malu, dan tidak perlu rikuh. Datangi pondok-pondok tersebut, jelaskan bahwa ada dukungan untuk pelaksanaan Hari Santri. Bagi yang bersedia, tentu kita terima dengan baik,” ujarnya.

Jangan Kendor Menjelang Hari Pelaksanaan

Selain memperluas dukungan, Abah Yai Masduki juga mengingatkan tim penggalangan agar menjaga semangat.

Menurutnya, proses yang dilakukan berulang kali tidak boleh membuat energi untuk menyukseskan kegiatan justru menurun.

“Yang tidak kalah penting, kita juga harus sama-sama menjaga semangat. Teman-teman yang bertugas melakukan penggalangan dukungan harus tetap semangat,” katanya.

“Jangan sampai karena sudah beberapa kali melakukan penarikan atau meminta dukungan, kemudian semangatnya menurun. Pokoknya harus tetap semangat,” lanjutnya.

Ia kembali mengajak seluruh unsur yang hadir untuk mengupayakan agar HSN 2026 setidaknya lebih baik daripada pelaksanaan sebelumnya.

“Artinya kita, ayo untuk Hari Santri ini kita semaksimal mungkin sama-sama, khususnya yang hadir di sini yang telah mendengar, ayo usahakan Hari Santri ini usahakan ya lebih baik sedikit daripada yang tahun lalu,” ujarnya.

Lebih jauh, bagi Abah Yai Masduki, menjaga semangat bukan hanya tanggung jawab pribadi.

Ketika ada anggota yang mulai lelah atau kehilangan semangat, anggota lainnya perlu saling menguatkan.

“Mungkin itu yang bisa kami sampaikan, agar semuanya tetap menjadi semangat. Jangan sampai ada yang mulai kendor, pokoknya harus tetap semangat,” katanya.

“Kalau di antara kita ada yang terlihat mulai kendor, mari kita beri semangat. Ada yang mulai kendor, kita semangati. Ayo, kita sama-sama bergerak dan menyukseskan kegiatan ini,” pungkasnya.

Peringatan HSN 2026 Kecamatan Jati Agung dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026.

Menjelang hari pelaksanaan, pesan tentang “10 pendayung” menjadi pengingat bahwa sebuah kegiatan bersama membutuhkan orang-orang yang bersedia terus bergerak, mengambil peran, dan saling menjaga semangat. (ARIF)