Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Lailatul Ijtima’ ke-07 Bahas Persiapan Hari Santri

Lailatul Ijtima’ ke-07 MWCNU Jati Agung

Jati Agung, NU Media Jati Agung — Lailatul Ijtima’ ke-07 MWCNU Jati Agung berlangsung di Gedung MWCNU Jati Agung, Jalan Kota Baru, Dusun Srikmukti, Desa Sinar Rezeki, Senin (28/9/2026) malam.

Kegiatan malam Senin Pon tersebut memperkuat silaturahmi dan konsolidasi warga Nahdliyin di Kecamatan Jati Agung.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Lailatul Ijtima’. Setelah itu, peserta mengikuti istighotsah dan mahalul qiyam. Selanjutnya, jajaran pengurus MWCNU Jati Agung menggelar rapat untuk membahas persiapan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Lailatul Ijtima’ Telah Berjalan 07 Bulan

Ketua MWCNU Jati Agung, Ansori, menyampaikan bahwa Lailatul Ijtima’ yang berlangsung malam itu merupakan pelaksanaan ke-07.

Namun, dalam keterangannya, Ansori menyebut kegiatan tersebut telah berjalan selama 7 bulan.

“Malam hari ini adalah malam Lailatul Ijtima’ yang sebenarnya sudah kita lakukan. Malam hari ini ke-07, sudah berjalan 7 bulan, tetapi kami dari pengurus MWC baru melibatkan warga dusun. Saya mohon maaf,” ujar Ansori.

Ansori berharap kegiatan tersebut ke depan dapat menjadi agenda bersama. Ia ingin kepala desa, takmir masjid, ketua wilayah, serta warga Nahdliyin di Kecamatan Jati Agung ikut terlibat.

Malam Senin Pon Jadi Momentum Kebersamaan

Selanjutnya, Ansori mengimbau agar pengurus dan warga mengatur kegiatan keagamaan pada malam Senin Pon. Langkah tersebut bertujuan agar kegiatan lain tidak berbenturan dengan Lailatul Ijtima’.

“Ke depannya nanti seluruh Pak Kades, Pak Ta’mir, ketua wilayah, setiap malam Senin Pon, kalau ada kegiatan rutin yang berkaitan keagamaan khusus Senin Pon, baik itu sholawatan ataupun marhaba, libur dulu,” katanya.

Ansori menjelaskan bahwa imbauan tersebut bukan untuk melarang masyarakat menjalankan ibadah. Menurutnya, warga Nahdliyin justru dapat berkumpul dalam kegiatan bersama yang MWCNU selenggarakan.

“Bukan kita melarang ibadah. Kita jadi satu berkumpul di halaman MWC ataupun MWC kita, biar gedung kita penghuninya bukan makhluk halus ataupun mau ghaib. Senin Pon diingat-ingat,” tuturnya.

Selain itu, Ansori mengajak pengurus dan warga mengatur jadwal pengajian, sholawatan, maupun pembacaan Barzanji agar tidak berbenturan dengan agenda Lailatul Ijtima’.

“Yang penting pengajian yang berkaitan tentang ke-NU-an, warga Nahdliyin, itu setiap malam Senin Pon supaya diliburkan,” ujarnya.

Lailatul Ijtima’ Dilanjutkan Istighotsah

Setelah penyampaian sambutan, rangkaian Lailatul Ijtima’ ke-07 berlanjut dengan istighotsah dan mahalul qiyam.

Jajaran pengurus dan warga Nahdliyin mengikuti rangkaian tersebut di Gedung MWCNU Jati Agung. Kegiatan kemudian berlanjut ke agenda rapat persiapan Hari Santri Nasional 2026.

Rapat Persiapan Hari Santri 2026

Dalam rapat tersebut, seluruh peserta sepakat tetap melaksanakan peringatan Hari Santri Nasional 2026 meskipun dengan konsep sederhana.

Selanjutnya, peserta menyerahkan pelaksanaan kegiatan kepada Gerakan Pemuda Ansor sebagai badan otonom NU.

Rapat menyebut Wariyanto sebagai ketua panitia. Ia bersama jajaran kepanitiaan akan mengoordinasikan persiapan kegiatan dengan pengurus MWCNU, pengurus ranting, pesantren, dan badan otonom NU lainnya.

Panitia juga akan menentukan struktur kepanitiaan inti, termasuk sekretaris dan bendahara, untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.

Pengurus dan Pesantren Siap Terlibat

Pengurus MWCNU Jati Agung, pengurus ranting, serta badan otonom NU lainnya akan memberikan pendampingan dalam persiapan hingga pelaksanaan Hari Santri.

Sebagai tindak lanjut, MWCNU Jati Agung akan menggelar rapat kerja lanjutan. Forum tersebut akan menghadirkan pengurus ranting, pengasuh atau pimpinan pondok pesantren, serta badan otonom NU.

Beberapa unsur yang direncanakan terlibat antara lain Banser, Pagar Nusa, Fatayat NU, dan badan otonom lainnya.

Selanjutnya, panitia akan membagi tugas teknis untuk Paskibra, tim koor atau paduan suara, keamanan, dan logistik.

Data serta laporan pelaksanaan Hari Santri tahun sebelumnya juga akan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan kegiatan tahun ini.

Ditutup Ramah Tamah dan Makan Bersama

Setelah agenda rapat selesai, kegiatan berlanjut dengan ramah tamah dan makan bersama.

Pada kesempatan tersebut, Ansori juga mendoakan seluruh peserta dan masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, agar mendapat ketenteraman jiwa serta terhindar dari bala dan malapetaka.

“Mudah-mudahan kita semuanya yang hadir hari ini, wabil khusus warga masyarakat, warga besar Nahdlatul Ulama, diberikan ketentraman jiwanya, dijauhkan dari bala dan malapetaka,” katanya.

Rangkaian kegiatan tersebut memperkuat silaturahmi dan konsolidasi MWCNU Jati Agung. Selain itu, forum tersebut menjadi ruang bagi berbagai unsur NU untuk mempersiapkan agenda Hari Santri Nasional 2026 di tingkat Kecamatan Jati Agung.