Memahami Makna Menang Dalam Psikologi Pembelajaran
Opini: Sri Rohayati.Ā
Dalam dunia pendidikan, kata menang sering dikaitkan dengan peringkat pertama, piala, nilai sempurna, atau keberhasilan mengalahkan peserta lain.
Padahal, jika dilihat dari sudut pandang psikologi pembelajaran, kemenangan memiliki makna yang jauh lebih luas.
Seorang siswa yang sebelumnya takut berbicara di depan kelas, lalu mampu menyampaikan pendapat meskipun masih terbata-bata, juga sedang meraih kemenangan penting atas dirinya sendiri.
Pandangan ini bukan berarti prestasi akademik atau kompetisi tidak penting. Prestasi tetap dapat menjadi sumber kebanggaan dan motivasi.
Namun, apabila kemenangan dipersempit menjadi sekadar hasil akhir, proses belajar, usaha, perkembangan kemampuan, dan kesehatan psikologis peserta didik berisiko terabaikan.
Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan siswa yang mampu mengungguli orang lain, tetapi juga siswa yang mengenali potensinya, bersedia terus belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh serta berempati.
Menang sebagai Proses Bertumbuh, Bukan Hanya Hasil Akhir
Siswa-Siswi SD Roudlatul Qur’an Empat, senantiasa berpartisipasi dalam berbagai ajang perlombaan disetiap event sebagai bagian dari proses Pendidikan dan pengembangan potensi peserta didik.
Bagi kami seorang pendidik, lomba bukan sekedar tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang bagiamana setiap anak berani mencoba, belajar berusaha, membangun kepercayaan diri, serta mengembangkan kemampuan terbaiknya.
Setiap kompetensi menjadi ruang belajar yang berharga, ada keberanian untuk melangkah, kedisiplinan dalam berlatih, semangat untuk memberikan yang terbaik, dan kerendahan hati untuk menerima hasil dengan lapang dada.
Psikologi pembelajaran memandang keberhasilan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kebiasaan.
Karena itu, ukuran kemenangan tidak selalu harus bersifat perbandingan antarsiswa. Kemajuan seorang anak dapat dinilai dari jarak antara kemampuan awal dan kemampuan yang dicapainya setelah berlatih.
Mengapa Makna Kemenangan Memengaruhi Motivasi?
Cara guru dan orang tua mendefinisikan kemenangan dapat memengaruhi alasan siswa belajar.
Ada siswa yang belajar karena rasa ingin tahu dan kepuasan ketika berhasil memahami sesuatu; ada pula yang terutama terdorong oleh hadiah, pujian, atau kekhawatiran mendapat nilai rendah.
Kedua jenis dorongan dapat hadir bersamaan, tetapi suasana pembelajaran yang hanya menekankan hadiah atau peringkat belum tentu menumbuhkan kecintaan belajar yang bertahan lama.
Bagi kami sangat percaya bahwa setiap anak memiliki potensi yang Istimewa. Tugas Pendidik bukan hanya mengantarkan mereka menuju garis akhir kememnangan, tetapi juga mendampingi mereka menikmati setiap proses pembelajaran yang membentuk karakter dan masa depan mereka.
Kemenangan sejati bukan hanya tentang membawa pulang piala, melainkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, tangguh, percaya diri, dan pantang menyerah.
Melalui teori determinasi diri, Deci dan Ryan (2000) menjelaskan pentingnya tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi atau kesempatan memilih, kompetensi atau perasaan mampu, serta keterhubungan atau rasa diterima oleh orang lain.
Ketika ketiganya didukung, motivasi belajar cenderung memiliki kualitas yang lebih baik. Artinya, siswa tetap dapat bercita-cita menjadi juara, tetapi cita-cita tersebut sebaiknya disertai alasan yang sehat: ingin memahami materi, mengembangkan kemampuan, dan berkontribusi.
Menang menjadi tujuan yang bermakna ketika proses mencapainya tidak merusak rasa percaya diri atau hubungan dengan teman.
Berani Gagal adalah Bagian dari Kemenangan
Tidak setiap usaha menghasilkan hasil yang diharapkan. Siswa mungkin kalah dalam lomba, gagal menjawab pertanyaan, atau memperoleh nilai di bawah target.
Pengalaman semacam ini dapat menimbulkan rasa kecewa, malu, dan takut mencoba lagi. Akan tetapi, kegagalan tidak harus menjadi akhir dari proses pembelajaran.
Dengan pendampingan yang tepat, kegagalan dapat menjadi sumber informasi untuk memperbaiki cara belajar.
Dweck dan Yeager (2019) membahas pola pikir bertumbuh (growth mindset), yakni keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses yang tepat, termasuk latihan, strategi, bantuan, dan kesempatan belajar.
Gagasan ini tidak berarti cukup mengatakan ‘kamu pasti bisa’ tanpa dukungan nyata. Guru tetap perlu memberi pembelajaran yang sesuai, umpan balik spesifik, dan kesempatan mencoba kembali. Pesan yang lebih membantu adalah: ‘Cara yang tadi belum berhasil; mari kita cari strategi lain.’
Kemenangan yang Sehat Memerlukan Keterampilan Emosional dan Sosial
Menang bukan hanya persoalan kognitif, melainkan juga pengalaman emosional dan sosial. Ketika seorang siswa menang, ia perlu belajar bersyukur tanpa merendahkan orang lain.
Ketika kalah, ia perlu mengenali rasa kecewa, menenangkan diri, dan kembali berusaha. Keterampilan mengelola emosi tersebut membantu siswa menghadapi persaingan secara lebih sehat.
Kompetisi tetap dapat digunakan sebagai sarana belajar apabila aturannya adil, tujuannya jelas, dan siswa tidak dipermalukan ketika kalah.
Guru dapat mengajarkan bahwa mengakui keunggulan orang lain tidak mengurangi harga diri seseorang. Justru, kemenangan yang bermartabat tercermin dari sikap jujur, rendah hati, dan kepedulian kepada sesama.
Peran Guru dalam Menanamkan Makna Menang yang Lebih Luas
Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan guru. Pertama, menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan realistis agar peserta didik mengetahui kemampuan apa yang sedang dilatih.
Kedua, membandingkan perkembangan siswa dengan capaian dirinya pada waktu sebelumnya, bukan hanya dengan nilai teman sekelas.
Ketiga, memberikan kesempatan memperbaiki pekerjaan sehingga kesalahan dipahami sebagai bagian dari belajar, bukan sebagai cap kegagalan.
Keempat, memberi umpan balik yang menyebutkan secara spesifik apa yang sudah baik, bagian apa yang perlu diperbaiki, dan langkah selanjutnya.
Dengan cara demikian, siswa diajak memiliki standar keberhasilan yang menantang sekaligus manusiawi.
Makna menang dalam psikologi pembelajaran tidak berhenti pada piala, nilai tinggi, atau posisi teratas. Kemenangan juga hadir ketika siswa memahami hal yang sebelumnya membingungkan, berani mencoba setelah gagal, mampu mengelola kekecewaan, menghargai teman, dan memperbaiki dirinya dari hari ke hari.
Prestasi dan kompetisi tetap memiliki tempat, tetapi keduanya seharusnya menjadi bagian dari pendidikan yang lebih luas, bukan satu-satunya ukuran harga diri peserta didik.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik mengajarkan bahwa kemenangan paling bermakna bukan sekadar berada di depan orang lain, melainkan menjadi pribadi yang lebih mampu, lebih bijaksana, dan lebih peduli dibandingkan diri sendiri pada hari sebelumnya.
Siswa boleh mengejar juara; yang lebih penting, ia tidak berhenti bertumbuh ketika belum menjadi juara.

- Penulis : Sri Rohayati
- Mahasiswa : UIN Jurai Siwo Lampung
- Prodi : Pascasarjana PAI

