Alissa Wahid Soroti Tantangan Kesehatan Mental di NU
Jogjakarta, NU Media Jati Agung— Psikolog keluarga sekaligus Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, mendorong Jaringan Psikolog Nahdliyin (JPN) memperkuat peran dalam menangani persoalan kesehatan mental di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Alissa menyampaikan hal tersebut saat memberikan arahan dalam peluncuran Jaringan Psikolog Nahdliyin Yogyakarta pada Sabtu (10/10/2026).
Ia menyambut pembentukan jaringan tersebut sebagai langkah untuk menjawab tantangan sosial dan psikologis yang semakin kompleks.
“Saya senang sekali Jaringan Psikolog Nahdliyin mengambil isu kesehatan mental ini sebagai salah satu tema utama untuk mulai kita merancang langkah khidmat kita di lingkungan Nahdlatul Ulama,” ujar Alissa.
Menurut Alissa, perubahan pesat di era digital, dinamika geopolitik, ketidakpastian ekonomi, serta maraknya perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan turut menekan kondisi psikologis anak muda dan keluarga.
Alissa Ingatkan Risiko Kesehatan Mental di Pesantren
Alissa mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental dan risiko kekerasan juga dapat terjadi di lingkungan pendidikan NU, termasuk sekolah dan pesantren. Keluarga Nahdliyin pun menghadapi persoalan serupa.
“Tantangan kekerasan di lembaga pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah umum, tetapi sekolah-sekolah NU dan pesantren-pesantren NU tentu saja juga menyimpan risiko yang sama. Masalah kesehatan mental ini juga dirasakan oleh keluarga-keluarga Nahdliyin,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kehadiran psikolog Nahdliyin untuk memberikan perlindungan dan pendampingan kepada santri, siswa, serta orang tua.
JPN diharapkan mampu mengonsolidasikan para anggotanya dan menyusun langkah konkret sesuai dengan kebutuhan ekosistem NU. Pendekatan tersebut mencakup lingkungan pesantren, sekolah, hingga keluarga.
“Penting sekali bagi Jaringan Psikolog Nahdliyin untuk mengonsolidasikan diri, menata langkah, dan terutama menyiapkan pendekatan-pendekatan khas NU untuk bisa memperbesar khidmatnya di lingkungan lembaga pendidikan, keluarga, maupun pesantren,” imbuhnya.
Jaringan Psikolog Nahdliyin Berawal dari Gagasan Masa Pandemi
Sebelumnya, sejumlah praktisi psikologi dan akademisi Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) di kantor DPD RI Yogyakarta pada Sabtu (10/10/2026). Peluncuran tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia.
Ketua JPN, Maya Fitria, menjelaskan bahwa jaringan tersebut masih tergolong baru secara kelembagaan dan belum memiliki legalitas formal.
Sebelumnya, JPN telah menggelar peluncuran awal bertepatan dengan Muktamar ke-35 NU di Jombang.
“Gagasan pembentukan JPN sebenarnya telah berkembang sejak masa pandemi Covid-19 sekitar empat tahun yang lalu,”ungkap Maya.
Menurut Maya, pembentukan JPN berangkat dari keprihatinan terhadap kebutuhan pesantren akan pendekatan psikologi untuk menangani berbagai persoalan psikologis. Dari gagasan tersebut, JPN kemudian berkembang sebagai komunitas keilmuan.
“JPN ini sebagai bentuk khidmah kepada masyarakat melalui keilmuan psikologi,” tuturnya. (Resmi Januari,S.H.,)

