Fenomena Pasar Tradisional di Tengah Gempuran Belanja Online
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung– Pasar Bergen di Desa Kertosasi Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten, Lampung Selatan menghadapi tantangan di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
Aktivitas perdagangan yang dahulu ramai kini cenderung sepi, sedangkan jumlah pembeli biasanya meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri.
Namun, keramaian tersebut tidak lagi menyamai kondisi beberapa tahun lalu sebelum toko online semakin populer.
Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet
Sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omzet akibat berkurangnya jumlah pembeli yang datang langsung ke lapak mereka.
Kondisi ini membuat pedagang harus berjuang lebih keras untuk menjual barang dagangan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, perubahan kebiasaan konsumen turut memengaruhi aktivitas jual beli. Masyarakat kini dapat mencari barang, membandingkan harga, dan melakukan transaksi melalui ponsel tanpa harus datang ke pasar.
Rubiyah, pedagang di Pasar Bergen mengaku merasakan perubahan tersebut. Ia berharap jumlah pembeli kembali meningkat agar usahanya tetap bertahan.
“Sekarang pembeli semakin sepi, Mas. Dulu pasar ramai, apalagi kalau pagi sampai siang. Sekarang kadang kami harus menunggu lama untuk mendapatkan pembeli. Menjelang Lebaran memang ada peningkatan, tetapi tidak seramai beberapa tahun lalu. Sejak toko online semakin banyak, omzet kami ikut menurun,” ungkap Rubiyah.

Belanja Online Mengubah Kebiasaan Konsumen
Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi Pasar Bergen ialah perkembangan perdagangan digital.
Melalui toko online dan marketplace, konsumen dapat memilih beragam produk, membandingkan harga, serta memesan barang dari rumah.
Selain menawarkan kemudahan, sejumlah penjual online juga memberikan potongan harga dan promosi ongkos kirim.
Persaingan tersebut dapat membuat pedagang konvensional kesulitan menarik pembeli, terutama untuk produk yang sama-sama tersedia di pasar dan platform digital.
Fenomena serupa juga muncul di sejumlah pusat perdagangan di Bandar Lampung. Pemberitaan mengenai Pasar Bambu Kuning dan Simpur Center mencatat keluhan pedagang tentang penurunan omzet di tengah meningkatnya persaingan dengan penjualan online.
Meski demikian, pengaruh belanja online terhadap Pasar Bergen masih memerlukan konfirmasi langsung dari pedagang dan pengelola pasar.
Data kunjungan pembeli serta perbandingan omzet dari tahun ke tahun juga dapat membantu menjelaskan besarnya dampak tersebut.
Keramaian Menjelang Idulfitri Tak Lagi Sama
Menjelang Idulfitri, pasar tradisional biasanya mendapat tambahan pengunjung karena masyarakat mempersiapkan kebutuhan Lebaran.
Momentum tersebut dapat mendorong penjualan pakaian, kebutuhan rumah tangga, bahan makanan, dan berbagai perlengkapan hari raya.
Namun, peningkatan aktivitas menjelang Lebaran belum tentu mampu menggantikan penjualan yang menurun sepanjang tahun. Pedagang Pasar Bergen pun menghadapi tantangan untuk mempertahankan pelanggan di luar periode ramai tersebut.
Selain persaingan digital, faktor lain seperti daya beli masyarakat, perubahan lokasi belanja, kelengkapan barang, dan kenyamanan pasar juga perlu ditelusuri.
Faktor-faktor itu masih memerlukan pemeriksaan lapangan sebelum menjadi kesimpulan tentang penyebab utama sepinya Pasar Bergen.

Pedagang Berharap Pembeli Kembali Ramai
Di tengah kondisi tersebut, pedagang berharap masyarakat tetap berbelanja di pasar tradisional untuk membantu menjaga keberlangsungan usaha kecil.
Transaksi langsung juga memberi kesempatan kepada pembeli untuk memeriksa kualitas barang dan bernegosiasi dengan pedagang.
“kami berharap masyarakat tetap berbelanja di pasar tradisional untuk membantu menjaga keberlangsungan usaha kecil. Selain itu, pembeli juga bisa melihat langsung kualitas barang dan menawar harga sesuai kesepakatan,” tambah Rubiyah.
Di sisi lain, promosi melalui media sosial, layanan pemesanan daring, dan peningkatan kenyamanan berbelanja dapat menjadi pilihan untuk menarik konsumen.
Pengelola pasar dan pemerintah daerah juga dapat meninjau kondisi lapangan serta berdialog dengan pedagang guna menemukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
Fenomena Pasar Bergen menjadi pengingat bahwa perubahan pola belanja menuntut pedagang tradisional untuk beradaptasi.
Namun, upaya tersebut perlu berjalan bersama dukungan yang tepat agar pasar tetap berperan sebagai pusat perdagangan dan penggerak ekonomi masyarakat setempat. (Chandra Prasetya)

