Lampung Selatan, NU Media Jati Agung – Sekretaris PAC Fatayat NU Jati Agung, Roviatun Hasanah, membongkar stigma yang selama ini melekat di kalangan perempuan muda terkait organisasi Fatayat NU.
Ia menegaskan, Fatayat bukan sekadar tempat pengajian, melainkan ruang strategis untuk berkembang, belajar, dan “naik level”.
Menurut Rovi, tema “Berdaya, Berdampak, Mendunia” dalam Harlah Fatayat NU ke 76 sangat relevan dengan kondisi perempuan masa kini yang dituntut tidak hanya mandiri, tetapi juga mampu memberi manfaat luas.
“Perempuan sekarang tidak boleh biasa-biasa saja. Berdaya itu punya skill dan ilmu. Berdampak itu berani bergerak, tidak diam melihat masalah. Mendunia itu mindset-nya luas, walaupun kita dari desa,” ujarnya, Jum’at (1/5/2026).
Stigma Jadi Tantangan Utama
Rovi mengakui, masih banyak perempuan muda yang belum tertarik bergabung karena terjebak stigma lama.
Fatayat kerap dianggap sebagai organisasi yang hanya diisi ibu-ibu dan identik dengan kegiatan pengajian semata.
“Banyak yang belum tahu manfaatnya. Bahkan ada yang gengsi, takut dibilang sok alim,” jelasnya.
Selain itu, alasan tidak memiliki waktu juga kerap dilontarkan. Padahal, menurut Rovi, waktu luang sebenarnya tersedia, hanya belum dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih berdampak.
Pendekatan Harus Lebih Relevan
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rovi menilai pendekatan kepada generasi muda harus lebih kreatif dan kontekstual.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga menarik.
Beberapa kegiatan yang dinilai efektif antara lain pelatihan konten digital, diskusi santai isu perempuan, hingga aksi sosial yang kreatif dan relevan dengan dunia anak muda.
“Jangan hanya ceramah. Anak muda itu perlu diajak merasakan dulu. Kalau sudah merasa cocok, baru mereka paham,” katanya.
Fatayat Jadi Ruang Transformasi
Rovi juga mengungkapkan perubahan besar yang ia rasakan sejak bergabung dengan Fatayat NU.
Ia yang dulunya minder dan kurang percaya diri, kini justru aktif berbicara di depan publik dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
“Dulu saya pemalu. Sekarang saya belajar memimpin rapat, bersosialisasi dengan masyarakat, bahkan bisa dekat dengan para ibu nyai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Fatayat juga membuka banyak peluang untuk memperluas jaringan dan membangun relasi yang positif.

Tiga Alasan Fatayat “Worth It”
Menurut Rovi, ada tiga alasan utama mengapa Fatayat NU layak menjadi pilihan bagi perempuan muda, yaitu pengembangan diri, jaringan luas, serta lingkungan yang suportif.
“Di sini kita bisa upgrade skill dan mental, punya relasi dari desa sampai pusat, dan punya tempat belajar tanpa takut salah,” jelasnya.
Peran Anak Muda Sangat Vital
Rovi menegaskan bahwa keberadaan anak muda sangat menentukan masa depan organisasi.
Ia menyebut, anak muda adalah “mesin” yang membuat organisasi terus bergerak dan berkembang.
“Kalau tidak ada anak muda, organisasi hanya jalan di tempat. Tapi kalau ada, organisasi bisa berlari,” tegasnya.
Kolaborasi Banom NU Makin Solid
Ia juga menyoroti kekompakan antar badan otonom Nahdlatul Ulama seperti Fatayat, Ansor, dan IPPNU dalam menggerakkan kegiatan di tingkat desa.
“Ibarat masak, Ansor jaga dapur, Fatayat racik bumbu, IPPNU tata plating. Semua saling melengkapi. Fatayat siap berkolaborasi. Ansor kuat, Fatayat berdaya, NU Jati Agung jaya,” katanya.
Ajakan untuk Perempuan Muda
Di akhir pernyataannya, Rovi mengajak perempuan muda, khususnya di Jati Agung, untuk berani mencoba bergabung dengan Fatayat NU.
“Mbak, kamu sudah keren. Tapi kamu bisa lebih keren lagi kalau bareng Fatayat. Kami tidak mencari yang sudah bisa, tapi yang mau belajar dan berkembang,” pesannya.
Ia juga menyampaikan pesan penutup yang tegas dan inspiratif:
“Umurmu tidak akan menunggu kamu siap. Gunakan waktumu untuk hal yang berdampak. Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
Dengan gaya khasnya, Rovi menegaskan:
“Jaman saiki cah wedok ki ora cukup ayu, kudu wani, kudu pinter, kudu manfaat. Kabeh kui yo ono neng Fatayat,” tegasnya.
Dengan semangat tersebut, Fatayat NU Jati Agung diharapkan terus menjadi ruang pemberdayaan perempuan muda yang progresif, aktif, dan berdampak luas hingga ke tingkat yang lebih besar. (Resmi Januari, S.H.,)

