Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Ziarah Muslimat NU Jati Agung, 100 Jamaah Padati Makam KH Gholib

Mengenang Jejak Dakwah KH Gholib

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Ziarah Muslimat NU Jati Agung kembali menjadi momentum memperkuat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus mengenang perjuangan para ulama penyebar syiar Islam di Provinsi Lampung.

Sebanyak 100 pengurus dan anggota PAC Muslimat NU Kecamatan Jati Agung mengikuti ziarah tahunan. Mereka berziarah ke makam Maulana Syaikh KH Gholib di Kabupaten Pringsewu dan makam Al-Maghfurlah Syeikh Muhammad Nur Abdurrohim Busthomil Karim di Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (26/7/2026).

Rombongan berangkat dari Kecamatan Jati Agung sekitar pukul 08.30 WIB menggunakan dua bus.

Advertisement
Advertisement
Foto Arif : PAC Muslimat NU Jati Agung

KH Nurkholis Ahmad, Mustasyar MWCNU Jati Agung sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darussalamah Desa Sidoharjo, memimpin langsung rombongan ziarah.

Ketua PAC Muslimat NU Jati Agung Bu Nyai Siti Munawaroh memimpin bus pertama. Wakil Ketua I PAC Muslimat NU Jati Agung Bu Nyai Mulyani memimpin bus kedua.

Advertisement
Advertisement

Sementara itu, Rois Syuriah MWCNU Jati Agung Kyai Masduki dan Sekretaris MWCNU Jati Agung Ustadz Nurrohim turut mendampingi seluruh rangkaian ziarah.

KH Gholib, Ulama Pejuang yang Mengabdi untuk Dakwah dan Kemerdekaan

Sekitar pukul 10.30 WIB, rombongan tiba di kompleks makam Maulana Syaikh KH Gholib di Kabupaten Pringsewu.

Advertisement
Advertisement

Seluruh jamaah mengikuti pembacaan tahlil. KH Nurkholis Ahmad memimpin tahlil, sedangkan Abah Yai Masduki memimpin doa bersama.

Foto Dok Arif : KH Nurkholis Ahmad pimpin Tahlil di Makam KH Gholib 

Sebelum tahlil dimulai, KH Nurkholis Ahmad mengajak seluruh jamaah mengenang jasa para ulama yang telah mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan agama Islam di Provinsi Lampung.

Advertisement
Advertisement

“Alhamdulillah atas izin Allah pada pagi hari ini kita semua berada di makam Waliyyun min Auliyāillāh, Maulana Syaikh KH Gholib. Beliau merupakan pejuang Islam di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Lampung. Mungkin kita semua memiliki hutang jasa kepada beliau, karena keberkahan perjuangannya masih kita rasakan hingga hari ini di Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai,” tutur KH Nurkholis Ahmad.

Maulana Syaikh KH Gholib merupakan ulama asal Mojosantren, Krian, Jawa Timur, yang hijrah ke Pringsewu pada akhir dekade 1920-an.

Advertisement
Advertisement

Di tanah Lampung, beliau membangun masjid, mendirikan madrasah, serta membina masyarakat melalui pendidikan dan dakwah Islam.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, KH Gholib memimpin Laskar Hizbullah di Lampung dan ikut berjuang melawan penjajah.

Perjuangan beliau di bidang dakwah, pendidikan, dan kemerdekaan mengukuhkan KH Gholib sebagai salah satu tokoh besar Islam di Lampung hingga sekarang.

Ziarah Menjadi Momentum Mengenang Jasa Para Ulama

Dalam tausiyahnya, KH Nurkholis menegaskan bahwa ziarah bukan sekadar mengunjungi makam.

Foto Dok Arif : Khusu’ dalam memanjatkan Doa

Ziarah juga menjadi sarana mengenang perjuangan para ulama dan memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT melalui wasilah para kekasih-Nya.

“Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah dengan wasilah beliau. Mudah-mudahan apa yang menjadi hajat kita, baik hajat dunia maupun hajat akhirat, semuanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.

Ia juga mengutip hadis yang masyhur tentang memuliakan para ulama.

 مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا زَارَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا جَالَسَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا صَافَحَنِي.

“Barang siapa mengunjungi seorang alim, maka seakan-akan ia mengunjungiku. Barang siapa duduk bersama seorang alim, maka seakan-akan ia duduk bersamaku. Dan barang siapa berjabat tangan dengan seorang alim, maka seakan-akan ia berjabat tangan denganku.”

Lebih lanjut, KH Nurkholis Ahmad kemudian mengajak seluruh jamaah menjaga adab ketika berdoa serta memperbanyak munajat kepada ALLAH SWT.

“Ketika kita berziarah ke makam kekasih-kekasih Allah, salah satunya Maulana Syaikh KH Gholib ini, mudah-mudahan kita semua pulang membawa keberkahan. Yang belum mendaftar haji semoga Allah mudahkan rezekinya sehingga bisa berhaji, dan yang belum umrah semoga segera menjadi tamu Allah di Tanah Suci Makkah dan Madinah,” ujarnya. 

Selain itu, Mustasyar MWCNU Jati Agung ini juga mengingatkan agar setiap doa diawali dengan mendoakan kedua orang tua, para guru, dan para ulama.

“Gunakan adab ketika meminta kepada Allah. Doakan kedua orang tua kita, guru-guru kita, khususnya Maulana Syaikh KH Gholib. Setelah itu mintalah kepada Allah agar anak cucu kita diberikan keturunan yang saleh dan salehah. Mudah-mudahan seluruh hajat kita, baik urusan dunia maupun akhirat, dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pesannya.

Nyai Siti Munawaroh: Ziarah Perkuat Tradisi Aswaja dan Cinta Ulama

Ketua PAC Muslimat NU Jati Agung, Nyai Siti Munawaroh, mengatakan ziarah tahunan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Muslimat NU dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kecintaan kepada para ulama.

“Alhamdulillah, ziarah ini bukan sekadar mengunjungi makam para ulama, tetapi menjadi momentum mengenang perjuangan mereka, mempererat ukhuwah, serta memohon keberkahan kepada Allah SWT,” ujar Bu Nyai Siti Munawaroh.

Foto Dok Arif: Bu Nyai Siti Munawaroh (Kacamata) ditengah jajaran pengurus PAC Muslimat NU Jati Agung. 

Ia berharap kegiatan tersebut terus menjadi tradisi yang membawa manfaat bagi seluruh jamaah dan memperkuat semangat khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Semoga tradisi ini terus terjaga dan semakin menumbuhkan kecintaan kepada para ulama serta semangat berkhidmah di Nahdlatul Ulama,” tambahnya.

Suasana Khidmat Iringi Tahlil dan Doa Bersama

Sementara itu, Rois Syuriah MWCNU Jati Agung Abah Yai Masduki kemudian memimpin doa bersama.

Seluruh jamaah memohon ampunan, kesehatan, keberkahan, kemudahan rezeki, serta keselamatan dunia dan akhirat.

Usai pembacaan tahlil dan doa, para jamaah melanjutkan munajat secara pribadi di area makam. Lantunan tahlil, dzikir, dan doa menggema di kompleks pemakaman.

Foto Arif : Abah Yak Masduki saat memimpin Doa usai pembacaan tahlil. 

Sejumlah jamaah tampak menengadahkan tangan dengan mata berkaca-kaca, sementara yang lain khusyuk melafalkan doa di sisi pusara ulama yang mereka hormati.

Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti rombongan yang berharap memperoleh keberkahan melalui wasilah para kekasih Allah SWT.

Ziarah Dilanjutkan ke Makam KH Busthomil Karim

Usai berziarah di makam Maulana Syaikh KH Gholib, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Al-Maghfulah Syeikh Muhammad Nur Abdurrohim Busthomil Karim di Kabupaten Lampung Tengah.

KH. Busthamil Karim dikenal sebagai salah seorang ulama kharismatik, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sekaligus pendiri Pondok Pesantren Raudlatus Sholihin Purwosari, Kecamatan Padang Ratu, Lampung Tengah.

Hijrah dari Kebumen, Jawa Tengah, ke Lampung pada 1952, beliau mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah, membina umat, dan mengembangkan pendidikan Islam hingga melahirkan banyak ulama serta tokoh agama di Lampung dan berbagai daerah lainnya.

Hingga kini, makam Almaghfurlah KH. Busthamil Karim di kompleks Pondok Pesantren Raudlatus Sholihin menjadi salah satu destinasi ziarah ulama di Lampung.

Ribuan jamaah dari berbagai daerah rutin berziarah, terutama saat haul beliau, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keteladanannya dalam menyebarkan syiar Islam, membangun pendidikan pesantren, dan membimbing umat.

Bagi PAC Muslimat NU Jati Agung, kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan religi, tetapi juga menjadi ikhtiar menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menanamkan kecintaan kepada para ulama kepada generasi penerus.

Menjelang siang, dua bus kembali bergerak meninggalkan kompleks makam KH Gholib menuju Kabupaten Lampung Tengah.

Lantunan shalawat terus terdengar mengiringi perjalanan, sementara para jamaah membawa harapan agar Allah SWT mengabulkan doa-doa yang mereka panjatkan serta memberikan keberkahan dalam kehidupan, keluarga, dan pengabdian kepada agama, bangsa, serta Nahdlatul Ulama. (ARIF)