Konsumsi Rumah Tangga dan Belanja Pemerintah Jadi Perhatian Jelang Pengumuman Data BPS
JAKARTA, NU Media Jati Agung – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan tetap berada di atas 5 persen. Namun, laju pertumbuhannya berpotensi melambat dibandingkan dua kuartal sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi nasional periode Juli–September 2026 pada Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan konsensus yang dihimpun dari 15 lembaga dan institusi, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sebesar 5,20 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq), pertumbuhannya diperkirakan mencapai 1,33 persen.
Sebagai perbandingan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026. Kemudian, pertumbuhan melambat menjadi 5,29 persen pada kuartal II-2026.
Jika proyeksi tersebut sesuai dengan hasil BPS, ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan selama dua kuartal berturut-turut. Meski demikian, angka proyeksi kuartal III masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,04 persen. CNBC Indonesia
Konsumsi Rumah Tangga Menghadapi Tekanan
Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, memperkirakan perlambatan ekonomi terutama dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi rumah tangga dan melambatnya belanja pemerintah.
“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh perlambatan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah,” ujar Juniman
Menurutnya, kenaikan biaya hidup turut menekan daya beli masyarakat. Sementara itu, stimulus belanja pemerintah dinilai belum memberikan dorongan sebesar kuartal sebelumnya.
“Perlambatan konsumsi rumah tangga disebabkan oleh melemahnya daya beli akibat biaya hidup, sementara perlambatan belanja pemerintah terjadi karena terbatasnya stimulus yang diberikan sepanjang kuartal III,” jelasnya.
Konsumsi rumah tangga menjadi komponen penting karena menyumbang lebih dari separuh aktivitas ekonomi nasional. Karena itu, perubahan daya beli masyarakat dapat memengaruhi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
BPS mencatat inflasi tahunan meningkat dari 2,88 persen pada Juli menjadi 3,19 persen pada Agustus. Angka tersebut kembali naik menjadi 3,28 persen pada September 2026.
Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia berada pada level 116,8 pada Juli, naik menjadi 118,5 pada Agustus, kemudian turun tipis ke 118,1 pada September.
Indeks yang masih berada di atas 100 menunjukkan konsumen secara umum tetap optimistis. Namun, pergerakannya memperlihatkan masyarakat masih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi. CNBC Indonesia
Investasi dan Manufaktur Berpotensi Menopang Ekonomi
Di tengah tekanan konsumsi, investasi dan industri manufaktur menunjukkan sejumlah perkembangan positif.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun.
Nilai tersebut tumbuh 7,6 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing sebesar Rp270,2 triliun dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp258,5 triliun. Realisasinya juga menyerap 745.634 tenaga kerja.
Sementara itu, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan. Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia mencapai 52,4 pada September 2026 setelah sempat berada di level 49,8 pada Agustus.
Angka PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam zona ekspansi. Kondisi tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa kegiatan produksi industri mulai membaik. CNBC Indonesia
Neraca Perdagangan Kembali Mencatat Surplus
Sektor perdagangan luar negeri juga memberikan perkembangan positif sepanjang kuartal III-2026.
Berdasarkan data yang dikutip CNBC Indonesia, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$0,12 miliar pada Juli, kemudian meningkat menjadi US$3,55 miliar pada Agustus dan US$3,36 miliar pada September.
Dengan demikian, total surplus perdagangan selama kuartal III-2026 mencapai sekitar US$7,03 miliar.
Capaian tersebut berbalik dari kuartal II-2026 yang mengalami defisit sekitar US$1,97 miliar.
Namun, nilai impor masih menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan ekspor. Pada September 2026, ekspor tumbuh 11,87 persen secara tahunan, sedangkan impor meningkat 18,41 persen. CNBC Indonesia
Belanja Pemerintah Menjadi Salah Satu Penopang
Belanja pemerintah turut menjadi faktor yang diperhatikan dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Realisasi belanja negara sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp2.660,5 triliun. Angka tersebut meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu komponen yang mengalami peningkatan adalah belanja barang, yang naik 66,9 persen menjadi Rp463,9 triliun.
Program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), turut menjadi bagian dari realisasi belanja tersebut. Hingga September 2026, realisasi anggaran MBG tercatat mencapai Rp153,2 triliun.
Pemerintah juga menyiapkan stimulus ekonomi semester II-2026 senilai Rp26,34 triliun. Program tersebut mencakup bantuan pangan, diskon transportasi, serta program magang dan pelatihan kerja. CNBC Indonesia
Hasil Resmi BPS Menjadi Penentu
Meski sejumlah indikator memperlihatkan perkembangan positif, tekanan terhadap konsumsi masyarakat dan perlambatan belanja pemerintah masih menjadi perhatian.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan perbedaan pandangan di kalangan ekonom.
Konsensus CNBC Indonesia memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,20 persen, sementara sejumlah ekonom memberikan estimasi berbeda.
CORE, misalnya, memproyeksikan pertumbuhan berada pada kisaran 5,05–5,1 persen. CNBC Indonesia +1
Karena itu, angka pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 masih menunggu pengumuman resmi BPS pada Kamis (5/11/2026).
Hasil tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian nasional, termasuk kekuatan konsumsi masyarakat, investasi, belanja pemerintah, dan perdagangan luar negeri.(Erwin indra saputra).

