Jakarta, NU Media Jati Agung– China meminta pasokan jangka panjang komoditas dari Indonesia, mulai dari sawit, durian, hingga sarang burung walet.
Permintaan ini muncul dalam pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian Indonesia Sudaryono dengan Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan China, Maierdan Mugaiti.
Permintaan Pasokan Jangka Panjang
China menaruh perhatian besar pada kebutuhan pangan dan komoditas pertanian. Dalam pertemuan resmi, negara tersebut secara langsung meminta Indonesia untuk memastikan suplai crude palm oil (CPO), karet alam, serta sarang burung walet.
“Pihak Tiongkok meminta jaminan suplai untuk CPO, termasuk karet alam dan sarang burung walet,” kata Sudaryono dikutip dari Antara, Jumat (3/10/2025).
Permintaan itu menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai produsen utama dalam perdagangan pangan dunia.
Posisi Strategis Indonesia
Sudaryono menjelaskan bahwa Tiongkok sangat bergantung pada pasokan minyak sawit. Negara itu melihat kebutuhan CPO di dalam negeri terus meningkat.
“Tiongkok meminta kepastian pasokan CPO untuk jangka panjang. Mereka melihat kebutuhan minyak sawit di negaranya terus meningkat, sementara Indonesia adalah produsen terbesar di dunia,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah Indonesia akan terus memperkuat produktivitas sawit agar mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menjaga pasokan ekspor.
Peluang di Komoditas Lain
Selain sawit, permintaan Tiongkok juga meluas pada sektor lain. Durian menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan yang menarik perhatian mereka. Sarang burung walet serta produk peternakan pun masuk daftar yang diprioritaskan.

Pemerintah melihat peluang ini sebagai langkah strategis untuk memperluas ekspor non-migas.
Catatan Surplus Perdagangan
Berdasarkan data 2024, Indonesia mencatat surplus perdagangan pertanian dengan Tiongkok sebesar USD 1,77 miliar. Ekspor terbesar berasal dari kelapa sawit dengan nilai USD 2,72 miliar.
Sementara itu, sarang burung walet menyumbang USD 428 juta, karet sebesar USD 363 juta, kelapa USD 270 juta, serta kakao USD 218 juta.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa hubungan dagang kedua negara semakin intensif, terutama di sektor pangan dan pertanian.
Akses Pasar Langsung
Sudaryono menekankan upaya pemerintah agar produk pertanian Indonesia bisa masuk langsung ke pasar Tiongkok. Selama ini, beberapa komoditas seperti durian masih melewati negara ketiga sebelum sampai ke konsumen Tiongkok.
“Misalnya durian, selama ini negara lain ekspor lagi ke Tiongkok. Kita ingin bisa masuk langsung,” katanya.
Dengan strategi itu, pemerintah ingin memastikan produk nasional lebih kompetitif dan memiliki nilai tambah tinggi.
Kerja Sama Riset Perberasan
Selain perdagangan, kedua negara juga membicarakan kolaborasi di bidang riset. Fokus kerja sama terletak pada pengembangan varietas padi unggul yang bisa tumbuh di lahan rawa maupun pesisir berair payau.
Kerja sama riset tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan produktivitas pertanian di kedua negara.
Kepentingan Nasional di Bidang Pertanian
Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah selalu menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama dalam setiap kerja sama.
“Kita ingin bekerja sama dengan siapa pun selama kerja sama itu menguntungkan kepentingan nasional. Di pertanian, kepentingan nasional kita adalah meningkatkan produksi, mengurangi impor, menaikkan ekspor, menambah devisa, dan membawa kesejahteraan bagi petani,” pungkas Wamentan.
Dengan permintaan pasokan jangka panjang ini, hubungan perdagangan Indonesia dan Tiongkok di sektor pertanian diperkirakan akan semakin erat. (ARF)

