Alissa Wahid Apresiasi Kehadiran Media NU Jati Agung
Jombang, NU Media Jati Agung ā Media NU Jati Agung mendapat apresiasi dari Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid saat Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026). Alissa menilai pengelolaan media oleh MWC NU merupakan langkah positif. Ia juga mengajak media lokal NU terhubung dengan sindikasi nasional agar memperkuat jaringan informasi Nahdlatul Ulama.
Kehadiran Media NU Jati Agung dari Lampung menarik perhatian Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S.Psi., M.Psi. Ia menilai langkah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) yang mengelola media sendiri menunjukkan semangat kemandirian informasi di tingkat lokal.
Alissa menyampaikan pandangan tersebut saat mengikuti rangkaian kegiatan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Jombang, Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya peran media lokal dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.
Menurut Alissa, media yang tumbuh di lingkungan NU memiliki posisi strategis. Media tersebut mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan ruang publik yang lebih luas.
Ia menilai keberadaan media lokal memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan informasi, gagasan, serta berbagai dinamika yang berkembang di daerah masing-masing.
“Jadi kalau ada MWC NU yang siap untuk mengelola media sendiri, itu sangat bagus seperti apa namanya… Media NU Jati Agung ini dari Lampung ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan dukungan terhadap inisiatif media yang berkembang di tingkat cabang dan kecamatan. Dukungan itu juga menjadi motivasi bagi pengelola media NU di berbagai daerah.
Pentingnya Sindikasi Media NU Nasional
Alissa menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama telah menyiapkan jaringan media yang terhubung melalui sistem sindikasi nasional. Sistem tersebut bertujuan memperkuat distribusi informasi antarwilayah.
Menurutnya, media lokal tidak cukup hanya berkembang di daerah masing-masing. Media tersebut juga perlu membangun koneksi dengan jaringan yang lebih luas.
Dengan keterhubungan itu, informasi dari daerah dapat menjangkau publik yang lebih besar. Sebaliknya, media lokal juga dapat memperoleh akses terhadap berbagai informasi penting dari tingkat nasional.
“Di tingkat nasional juga disiapkan apa namanya… media-media NU yang tersindikasi.”
Alissa menegaskan bahwa pengelolaan media lokal merupakan langkah yang sangat baik. Namun, manfaat yang dihasilkan akan lebih besar ketika media tersebut masuk dalam jaringan yang terintegrasi.
Ia mengingatkan agar setiap MWC NU yang mengembangkan media tidak melupakan aspek kolaborasi dan sinergi dengan media NU lainnya.
“Kalau ada MWC-MWC NU ingin menyelenggarakan atau ingin memiliki layanan terkait media, menurut saya jangan lupa juga… ini penting memang kalau punya media sendiri di tingkat lokal, tetapi juga kalau bisa terhubung dengan sindikasi media NU yang lebih luas sehingga bisa saling memperkuat.”
Jaringan Media Perlu Saling Menguatkan
Alissa menilai perkembangan teknologi informasi membuka peluang besar bagi media NU. Karena itu, media lokal perlu memanfaatkan jaringan yang tersedia.
Menurutnya, kolaborasi dapat menciptakan pertukaran informasi yang lebih cepat dan efektif. Kolaborasi juga dapat meningkatkan kualitas pemberitaan yang diterima masyarakat.
Media yang terhubung dalam sindikasi mampu memperluas jangkauan publikasi. Setiap daerah dapat saling berbagi informasi yang relevan dan bermanfaat.
Dengan pola tersebut, berbagai kegiatan NU di daerah tidak hanya diketahui masyarakat setempat. Informasi itu juga dapat menjangkau warga NU di wilayah lain.
Kolaborasi Kurangi Beban Pengelolaan Media
Selain memperluas jangkauan informasi, Alissa menilai sistem sindikasi dapat membantu pengelola media dalam menjalankan operasional sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama antarplatform memungkinkan pembagian informasi yang lebih efisien. Cara tersebut juga mengurangi beban yang harus ditanggung masing-masing pengelola media.
“Jadi tidak bekerja sendiri, dan juga tidak terlalu memberatkan untuk apa namanya… struktur NU-nya itu sendiri.”
Menurut Alissa, model kolaboratif menjadi kebutuhan penting di era digital. Media yang bekerja bersama akan memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan media yang berjalan sendiri.
Ia menilai sinergi antarmedia dapat memperkuat kapasitas organisasi. Selain itu, sinergi juga membantu meningkatkan kualitas layanan informasi kepada masyarakat.
Suara Daerah Harus Tetap Menjadi Prioritas
Dalam wawancara tersebut, Alissa menegaskan bahwa suara dari daerah memiliki nilai penting bagi Nahdlatul Ulama. Karena itu, media lokal harus terus berkembang dan mendapat ruang yang memadai.
Ia menilai informasi dari tingkat akar rumput sering kali menghadirkan perspektif yang berbeda. Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
Media lokal berperan mencatat berbagai aktivitas masyarakat, kegiatan keagamaan, pendidikan, hingga gerakan sosial yang tumbuh di lingkungan NU.
“Jadi penting sekali untuk membawa suara dari lokal, itu sangat penting. Itu bisa dilakukan dengan media-media yang ada, sekaligus juga jangan lupa untuk membangun sindikasinya bersama media-media yang lain di lingkungan Nahdlatul Ulama.”
Alissa berharap media-media NU di berbagai daerah terus berkembang melalui semangat kolaborasi. Ia juga berharap jaringan sindikasi dapat memperkuat fungsi media sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran informasi.
Melalui sinergi antara media lokal dan nasional, Nahdlatul Ulama dapat menghadirkan ekosistem informasi yang lebih kuat. Langkah tersebut sekaligus mempererat hubungan antara struktur NU di daerah dan tingkat nasional.

