Masa Depan NU Setelah Muktamar ke-35
Oleh : Wawan Hidayatย
Masa depan NU menjadi pertanyaan penting setelah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, selesai. Muktamar tidak hanya menentukan siapa yang memimpin NU setelah forum tertinggi organisasi itu berakhir, tetapi juga menunjukkan arah perjalanan NU dalam menghadapi tantangan zaman.
Karena itu, Muktamar perlu menghasilkan lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan. NU perlu memperkuat kaderisasi, merawat demokrasi, mengembangkan ekonomi masyarakat, memperluas jaringan global, serta menyiapkan gagasan untuk menjawab tantangan masa depan.
Perbedaan Pandangan Bukan Perpecahan
Perbedaan pandangan selama Muktamar justru menunjukkan bahwa NU masih memiliki ruang demokrasi yang hidup.
Dalam pembahasan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU, misalnya, 552 pemilik hak suara mengikuti proses tersebut. Sebanyak 401 suara menyetujui perubahan mekanisme menjadi AHWA, 150 suara memilih mempertahankan sistem one man one vote, sedangkan satu suara tidak sah.
Perdebatan tentu menjadi bagian dari dinamika organisasi.
Namun, setelah keputusan ditetapkan, seluruh elemen NU perlu kembali menjalankan roda organisasi bersama.Di sinilah kedewasaan demokrasi NU mendapat ujian.
Organisasi tidak sekadar perlu belajar memenangkan perbedaan, tetapi juga harus mampu menjaga persatuan setelah perbedaan menemukan keputusan.
Kaderisasi Menjadi Modal Masa Depan NU
Muktamar juga memperlihatkan sejumlah kader potensial dengan latar belakang pesantren, organisasi, intelektual, pendidikan, hingga jaringan internasional.
Kehadiran mereka menjadi modal penting bagi masa depan NU. Namun, NU tidak boleh memaknai kaderisasi sebatas proses mencari orang untuk mengisi jabatan struktural.
Lebih dari itu, NU membutuhkan kader yang mampu mengemban amanah dan menerjemahkan gagasan menjadi kerja nyata. Karena itu, kader yang belum memperoleh amanah dalam kontestasi tidak boleh merasa selesai. NU memiliki ruang pengabdian yang luas dan membutuhkan kontribusi dari berbagai generasi.
Dalam tradisi NU, khidmah tidak mengenal istilah kalah atau menang. Yang terpenting ialah siapa yang tetap bersedia mengabdi.
Ekonomi Warga Harus Menjadi Bagian Muktamar
Geliat bazar dan expo selama Muktamar memberikan gambaran bahwa NU tidak hanya hidup di ruang sidang.
Produk UMKM, masyarakat, dan pesantren memperoleh ruang untuk bertemu dengan pasar yang lebih luas. Aktivitas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa agenda besar NU dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ke depan, pola seperti ini perlu dikembangkan.
Setiap agenda besar NU idealnya mampu membuka peluang bagi pedagang kecil, memperluas pasar produk pesantren, serta memberikan ruang tumbuh bagi UMKM.
Dengan demikian, khidmah tidak berhenti pada pembicaraan di podium. Khidmah juga harus hadir melalui manfaat nyata yang masyarakat rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepercayaan Publik Menjadi Amanah
Antusiasme masyarakat dan kehadiran puluhan ribu orang di Tambakberas menunjukkan bahwa NU masih memiliki daya magnet sosial yang kuat.
Namun, popularitas tidak otomatis menciptakan kepercayaan. NU harus menjawab kepercayaan masyarakat melalui manfaat yang nyata.
Pendidikan perlu semakin maju.
Pesantren perlu semakin berdaya.
Ekonomi warga perlu semakin kuat.
Generasi muda membutuhkan ruang yang lebih luas. Masyarakat juga membutuhkan keberpihakan yang dapat mereka rasakan secara langsung.
Dengan demikian, keberhasilan Muktamar tidak hanya terlihat dari keputusan yang lahir di ruang sidang. Keberhasilan juga akan terlihat ketika publik merasakan kehadiran NU yang semakin bermanfaat setelah Muktamar berakhir.
Jaringan Global Membuka Masa Depan NU
NU juga memiliki kekuatan melalui jaringan PCINU di berbagai negara. Mereka membawa gagasan mengenai pendidikan, ekonomi, diplomasi, meritokrasi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa NU terus memperluas peran dari organisasi dengan pengaruh nasional menuju kekuatan masyarakat sipil yang memiliki jaringan global.
Karena itu, masa depan NU membutuhkan arah jangka panjang.
Gagasan road map hingga 2050 menjadi penting agar organisasi tidak hanya fokus pada satu periode kepengurusan.
NU perlu menyiapkan jawaban terhadap perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, pendidikan, ekonomi digital, geopolitik, lingkungan, serta perubahan generasi.
Tambakberas Bukan Garis Akhir
Tambakberas memiliki makna simbolik yang kuat karena Muktamar berlangsung di lingkungan pesantren yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan para muasis NU.
Karena itu, penghormatan kepada para pendiri tidak cukup melalui mengenang namanya mereka saja. NU perlu meneruskan semangat khidmah yang mereka wariskan.
Muktamar ke-35 harus meninggalkan lebih dari sekadar nama pemimpin baru.
Forum tersebut perlu melahirkan kader yang matang, demokrasi yang dewasa, UMKM yang semakin kuat, jaringan global yang solid, gagasan yang progresif, serta kepercayaan publik yang semakin besar.
Sebab, kemenangan terbesar NU bukan ketika satu kandidat mengalahkan kandidat lainnya. Kemenangan terbesar NU terjadi ketika mereka yang berbeda pilihan tetap mampu kembali duduk bersama setelah keputusan ditetapkan.
Tambakberas bukan garis akhir.
Tambakberas merupakan titik berangkat untuk perjalanan NU menuju masa depan.
NU tidak cukup besar karena jumlah warganya. NU harus besar karena manfaatnya.
NU tidak cukup kuat secara struktur. NU juga harus kuat secara gagasan.
NU tidak cukup memiliki banyak kader. NU harus melahirkan pemimpin yang amanah.
Dan NU tidak cukup hanya menjaga tradisi. NU harus menjadikan tradisi sebagai pijakan untuk menatap masa depan NU.

