NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Makna Syawalan Menurut Gus Baha, Kembali ke Fitrah

Makna Syawalan dalam Tradisi dan Perspektif Islam

Bandar Lampung, NU Media Jati Agungโ€” Makna Syawalan menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Indonesia setelah Hari Raya Idul Fitri.

Masyarakat biasanya merayakan Syawalan dengan halal bihalal, berkumpul bersama keluarga, serta ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk mempererat silaturahmi.

Namun demikian, di balik tradisi tersebut, Syawalan menyimpan nilai spiritual yang lebih dalam.

Banyak orang hanya memahami Syawalan sebagai momen saling memaafkan, padahal ajaran Islam memaknai Syawalan sebagai proses kembali kepada fitrah manusia.

Penjelasan Gus Baha tentang Arti Idul Fitri

Ulama asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menjelaskan bahwa Idul Fitri memiliki makna kembali kepada keadaan semula. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah kajian yang dikutip dari kanal YouTube @ranahsantri5921.

“Jadi kalau id itu dari kosakata ‘aud’, maknanya kembali. Setelah kita puasa satu bulan, kita insya Allah berkat surga lagi,” ujar Gus Baha.

Selain itu, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum spiritual bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Manusia Berasal dari Surga

Selanjutnya, Gus Baha menjelaskan bahwa manusia pada hakikatnya berasal dari surga. Ia merujuk pada kisah Nabi Adam yang pertama kali ditempatkan di surga sebelum diturunkan ke bumi.

Sehingga, menurut Gus Baha, setiap manusia memiliki identitas sebagai penduduk surga.

“KTP kita ini sebetulnya KTP surga, alamat tetap kita itu surga,” tutur Gus Baha.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan di dunia sering membuat manusia jauh dari fitrahnya akibat dosa dan kelalaian.

Ramadhan Mengembalikan Status Manusia

Di sisi lain, Gus Baha menjelaskan bahwa Ramadhan menjadi sarana untuk mengembalikan status manusia tersebut. Ia menyebut puasa sebagai proses penyucian diri dari berbagai kesalahan.

Gambar Artikel

“Karena kita di dunia agak kacer itu, agak cara Jawa, agak kacau, terus status itu agak-agak hilang, semoga tidak hilang betul,” terang Gus Baha.

“Dan dengan Ramadhan itu, status itu dikembalikan,” jelas Gus Baha.

Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya melatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperbaiki kondisi spiritual manusia agar kembali layak menjadi penghuni surga.

Makna Minal Aidin wal Faizin

Lebih lanjut, Gus Baha menjelaskan bahwa ucapan yang sering disampaikan saat Idul Fitri memiliki makna mendalam.

“Maka banyak ulama mengatakan, yang diterima itu menjadi status penduduk surga lagi, disebut Minal Aidin,” kata Gus Baha.

Menurutnya, ucapan โ€œMinal Aidin wal Faizinโ€ bukan sekadar tradisi, melainkan doa agar manusia kembali ke fitrah dan meraih kemenangan spiritual.

“Sehingga kita layak menjadi ahli surga,” ujar Gus Baha.

Syawalan sebagai Pengingat Tujuan Hidup

Pada akhirnya, Syawalan tidak hanya menjadi tradisi tahunan. Gus Baha mengajak umat Islam untuk menjadikan Syawalan sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan.

Selain itu, Syawalan juga mengingatkan bahwa tujuan akhir kehidupan manusia adalah kembali ke surga.

Oleh karena itu, setiap perayaan Idul Fitri dan Syawalan harus dimaknai sebagai sarana spiritual, bukan sekadar seremoni sosial. (ARIF).ย