Skip to main content

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Konflik AS-Iran Memanas, 7 Perkembangan Terbaru hingga Rusia Terdampak

Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Iran Serang Sejumlah Negara Teluk

Jakarta, NU Media Jati Agung – Konflik AS-Iran kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS).

Teheran menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas operasi militer Washington terhadap pelabuhan dan pulau-pulau Iran di Selat Hormuz.

Eskalasi terbaru ini turut memengaruhi stabilitas keamanan kawasan, jalur perdagangan internasional, hingga pasar global.

Advertisement
Advertisement

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang Armada Kelima AS di Bahrain, pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan udara Azraq di Yordania menggunakan drone dan rudal jarak jauh.

IRGC juga menyatakan telah menargetkan 21 fasilitas militer AS dan menghancurkan empat di antaranya, termasuk hanggar jet tempur F-35 di Yordania.

Advertisement
Advertisement

Namun, pemerintah Bahrain, Kuwait, dan Yordania menyatakan seluruh proyektil berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Iran Sebut Serangan sebagai Balasan Operasi Militer AS

Iran menyatakan serangan terhadap Bahrain, Kuwait, dan Yordania merupakan respons atas operasi militer Amerika Serikat di Pulau Qeshm serta sejumlah pelabuhan di pesisir Selat Hormuz. Sebelumnya, Washington menuduh Teheran bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah helikopter Apache milik AS.

Advertisement
Advertisement

Selain itu, IRGC menegaskan kesiapan pasukannya menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.

“Pasukan kami sepenuhnya siap memberikan respons yang menghancurkan dan menentukan terhadap tindakan militer AS,” demikian pernyataan IRGC.

Advertisement
Advertisement

Trump Tegaskan Iran Harus Menanggung Konsekuensi

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran akan menghadapi konsekuensi atas serangan tersebut.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menilai Iran sengaja memperlambat proses negosiasi damai.

Advertisement
Advertisement

“Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka. Sekarang mereka harus membayar harganya,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut berbeda dengan komentarnya sehari sebelumnya yang menyebut kedua negara hanya membutuhkan dua hingga tiga hari lagi untuk mencapai kesepakatan.

Palestina Sampaikan Kecaman

Di sisi lain, Kantor Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam serangan Iran ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Palestina juga menyampaikan solidaritas kepada ketiga negara tersebut serta mendukung langkah mereka dalam menjaga kedaulatan nasional.

Netanyahu dan Trump Perkuat Koordinasi

Selanjutnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump menggelar pembicaraan melalui sambungan telepon. Keduanya membahas perkembangan terbaru dalam konflik AS-Iran dan situasi keamanan di kawasan Teluk.

Menurut kantor Netanyahu, kedua pemimpin sepakat melanjutkan koordinasi di berbagai sektor. Trump menyampaikan perkembangan langkah militer AS. Sementara itu, Netanyahu menyoroti meningkatnya ancaman terhadap Israel serta pentingnya menjaga zona keamanan di wilayah perbatasan.

Wilayah Militer Iran Kembali Menjadi Sasaran

Ketegangan dalam konflik AS-Iran kembali meningkat setelah kawasan militer angkatan laut Iran di Kota Konarak menjadi sasaran serangan.

Gubernur Konarak, Mohammad Younes Haqqani, mengatakan kawasan tersebut diserang jet tempur dalam dua gelombang.

“Dua ledakan terdengar di area militer angkatan laut dan wilayah tersebut menjadi sasaran jet tempur musuh dalam dua tahap,” ujar Haqqani.

Ia menambahkan tim penyelamat dan aparat keamanan langsung bergerak ke lokasi.

Hingga kini, aparat masih menyelidiki penyebab serta dampak serangan tersebut.

AS Pastikan Selat Hormuz Tetap Aman

Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim Iran yang menyebut Teheran mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

CENTCOM menegaskan jalur pelayaran internasional tetap aman.

Sejak awal Mei, militer AS mengklaim telah membantu kelancaran pelayaran lebih dari 800 kapal dagang.

Selain itu, sekitar 380 juta barel minyak mentah telah melewati koridor perdagangan tersebut dengan aman.

Pasar Global dan Rusia Ikut Merasakan Dampak

Konflik AS-Iran juga memengaruhi kondisi ekonomi global. Indeks NASDAQ ditutup menguat berkat kenaikan saham perusahaan semikonduktor.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, Rusia mencatat surplus anggaran bulanan pertama pada tahun ini sebesar 279 miliar rubel atau sekitar US$3,7 miliar.

Peningkatan pendapatan tersebut berasal dari lonjakan penerimaan minyak dan gas selama konflik berlangsung.

Namun, Bloomberg memperkirakan keuntungan tersebut hanya bersifat sementara karena harga minyak Rusia kembali turun setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada bulan sebelumnya.

Selain itu, pengeluaran pemerintah Rusia selama enam bulan pertama tahun ini mencapai sekitar US$320 miliar seiring tingginya biaya perang yang masih berlangsung di Ukraina.

Kesimpulan

Konflik AS-Iran terus menunjukkan eskalasi yang berdampak luas, mulai dari meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah hingga memengaruhi ekonomi global.

Situasi tersebut masih berkembang dan berpotensi mengubah dinamika keamanan serta stabilitas pasar internasional dalam waktu dekat.Ā (Erwin Indra Saputra)