Peran KH Abdul Halim Leuwimunding dalam Awal Gerakan Ekonomi NU
NU Media Jati Agung – Para kiai pesantren sarungan pada masa awal abad 20 tidak hanya memikirkan urusan akhirat, tetapi juga keseimbangan hidup dunia-akhirat. Mereka menjalankan doa yang selalu dibaca setelah shalat: memohon keselamatan dunia dan akhirat.
Keseimbangan ini tampak dari kiprah para kiai, termasuk KH Abdul Halim Leuwimunding, yang tidak hanya mengajar di pesantren tetapi juga terlibat dalam perjuangan melepaskan diri dari penjajah melalui organisasi. Salah satunya adalah pendirian Nahdlatul Ulama pada 1926.
Gagasan Ekonomi Mandiri dalam NU
Tiga tahun setelah NU berdiri, para ulama memikirkan cara agar anggotanya mandiri secara ekonomi. Pada 1929 mereka mendirikan Coperatie Kaoem Moeslimin (CKM). Pelopor utamanya adalah KH Abdul Halim Leuwimunding, pengurus Hofdbestuur NU asal Majalengka.
Jenis Usaha dan Aturan Dasar CKM
Menurut Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, CKM menjual kebutuhan pokok seperti beras, gula, kopi, rokok, sabun, pasta gigi, minyak, kacang, dan lainnya. Yang menarik, aturan dasar CKM pada masa itu menjadi model koperasi NU di berbagai daerah. Pembagian keuntungan diatur rinci:
- 40% untuk pegawai,
- 15% untuk pemilik modal,
- 25% untuk menambah kapital,
- 5% untuk juru komisi,
- 15% untuk jam’iyyah NU.
Langkah ini menunjukkan bahwa orientasi sosial-ekonomi NU sudah terlihat sejak 1929.
Awal Kehidupan dan Pendidikan
KH Abdul Halim Leuwimunding lahir pada Juni 1898 dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Santamah, keturunan tokoh-tokoh lokal Majalengka. Ia belajar di berbagai pesantren: Trajaya, Kedungwuni, dan Kempek Cirebon.
Pada tahun 1914, saat berusia 16 tahun, ia berangkat ke Makkah mengikuti jejak dua pamannya, H. Ali dan H. Jen. Di sana ia bersahabat dengan KH Abdul Wahab Hasbullah.
Kembali ke Nusantara dan Jaringan Ulama
Ia pulang pada 1917, kemudian melanjutkan belajar ke pesantren di Jawa Timur, khususnya Tebuireng Jombang asuhan KH Hasyim Asy’ari. Dari sinilah jaringannya dengan pendiri NU terbentuk. KH Abdul Halim Leuwimunding ikut dalam diskusi pendirian NU dan hadir pada deklarasi NU 31 Januari 1926 di Surabaya. Ia dipercaya menjadi Katib Tsani dalam kepengurusan awal NU.
Pendekatan Ilmiah dan Sosial Keagamaan
Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, ia mengabdikan diri untuk pengembangan ilmu di kalangan santri melalui Nahdlatul Wathan. Pendekatannya menggabungkan interaksi sosial, dakwah, dan penerapan kaidah syariat dalam kehidupan masyarakat.
Pengembangan NU di Jawa Barat
KH Abdul Halim Leuwimunding turut memajukan NU di Jawa Barat bersama kiai-kiai setempat seperti KH Abbas Buntet dan KH Mas Abdurrahman.
Atas saran KH Wahab Hasbullah pada 1954, ia mendirikan pusat pendidikan. Tahun 1963 ia mendirikan MI-NU yang menjadi madrasah diniyah pertama di Majalengka, kemudian berkembang menjadi MTs Leuwimunding di bawah Yayasan Sabilul Halim. (Ahmad Royani, S.H.I)

