NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Tanamkan Ketenangan dalam Era Gempuran Informasi

Penulis: A. Mumtaz Al-Wafa

Di tengah dunia modern yang serba cepat, manusia kerap terjebak dalam kegelisahan yang tak berkesudahan. Kecemasan akan masa depan, tekanan sosial, dan derasnya arus informasi sering kali menggerus ketenangan batin. Padahal, ketenangan merupakan kebutuhan mendasar manusia sebagaimana kebutuhan jasmani lainnya.

Dalam Islam, konsep ketenangan ini dikenal dengan istilah sakinah — sebuah kondisi spiritual yang hanya dapat lahir dari hubungan yang mendalam antara manusia dan Tuhannya.

Menariknya, salah satu surah yang sering diasosiasikan dengan semangat perang dan teguran keras, yakni Surah At-Taubah, justru menyimpan mutiara tentang sakinah.

Surah ini menunjukkan bahwa di balik gejolak peperangan dan cobaan, Allah tetap menurunkan ketenangan kepada orang-orang beriman. Inilah mutiara ilahi yang ingin ditawarkan Al-Qur’an: bahwa ketenangan sejati bukanlah ketiadaan konflik, melainkan kemampuan untuk tetap stabil di tengah badai.

Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 26:

 ثُمَّ اَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَنْزَلَ جُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ وَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ ۝٢٦

“Kemudian, Allah menurunkan ketenangan (dari)-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, juga menyiksa orang-orang yang kafir. Itulah balasan terhadap orang-orang kafir.”

Secara etimologis, kata sakinah berasal dari akar sakana–yaskunu–sukun, yang berarti diam, tenang, atau tidak berguncang. Dari akar kata yang sama lahir istilah maskan (tempat tinggal), menunjukkan bahwa ketenangan adalah “rumah” bagi jiwa.

Ibnu Asyur menerangkan makna sakinah sebagai keteguhan dan ketenangan jiwa. Sehingga dalam konteks ini, sakinah menggambarkan keadaan batin yang tenteram, bebas dari rasa takut dan gelisah, karena bersandar sepenuhnya kepada Allah.

Al-Raghib al-Ashfahani dalam Mufradāt Alfāz al-Qur’ān menyebut bahwa sakinah adalah ketenangan hati yang Allah turunkan kepada hamba-Nya agar mereka mampu menghadapi situasi genting dengan penuh keyakinan. Artinya, sakinah bukan sekadar kondisi emosional, tetapi juga manifestasi dari keimanan yang kokoh.

Lebih menariknya lagi, jika kita membuka asbābun nuzūl ayat ini dari kitab tafsir Ibnu Katsir, diberitakan tentang sebuah peristiwa bergejolak yang terjadi pada saat Perang Hunain. Ketika itu, pasukan Muslimin yang awalnya merasa bangga dengan keunggulan mereka secara kuantitas atas pasukan musuh, justru terlena hingga akhirnya pasukan Muslimin yang berjumlah sepuluh ribu orang menjadi porak-poranda.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Rasulullah Saw. menunjukkan ketabahan, keteguhan, dan ketenangan yang tinggi hingga berhasil menenangkan sahabat-sahabat beliau, walau jumlah mereka tidak sampai setengah dari total pasukan. Ketika para sahabat Rasulullah Saw. kembali tenang, Allah menurunkan bala bantuan malaikat hingga akhirnya kaum Muslimin mendapatkan kemenangan dalam Perang Hunain.

Di era digital saat ini, ketika informasi sangat mudah didapatkan dan disebarkan, tidak menutup kemungkinan munculnya berbagai bentuk “pertempuran”: konflik, persaingan, perdebatan, atau perang pemikiran dan perang informasi di dunia maya.

Menghadapi semua ini, diperlukan sakinah — keteguhan dan ketenangan jiwa. Sebab, sakinah sangat penting agar kita tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan serta mampu mengamati secara mendalam dengan kondisi hati dan akal yang tenang.

Setelah membaca Surah At-Taubah ayat 26 dan tafsirnya, lalu mencermati kondisi di era digital ini, penulis mentadabburi ayat tersebut sebagai pegangan ketika kita dihadapkan pada berbagai berita, informasi, video, atau bahkan konten media sosial yang mencederai batin dan akal pikiran.

Saat kita tidak mengetahui kepastian dan kebenaran suatu berita atau informasi, langkah awalnya adalah menenangkan diri dan meneguhkan pendirian. Karena dalam ayat ini, Allah menggambarkan bahwa ketenangan adalah bentuk pertama dari pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Profil Penulis

Nama Lengkap: A. Mumtaz Al-Wafa

Tempat, Tanggal Lahir: Kalirejo, 8 Mei 2001

Alamat Domisili: Bandar Lampung, Indonesia

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Formal:

  • MIN 5 Sukarame
  • MTs Terpadu Ushuluddin
  • MA Takhaṣṣuṣ Al-Qur’an Wonosobo
  • Universitas Darussalam Gontor — S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
  • UIN Raden Intan Lampung — S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Pendidikan Non-Formal:

  • Pesantren Ushuluddin
  • Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur’an Al-Asy’ariyyah 6 Wonosobo
  • Pondok Modern Darussalam Gontor

Pengalaman Organisasi:

  • Sekretaris Panitia Khutbatul Arsy UNIDA Gontor (2024)
  • Ketua Bidang Kerohanian Senat Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor (2023–2024)
  • Ketua Himpunan Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UNIDA Gontor (2022–2023)
  • Pengurus Zona Al-Qur’an UNIDA Gontor (2022–2024)
  • Anggota Bidang Tahfidz Markaz Al-Qur’an UNIDA Gontor (2022–2024)
  • Anggota Direktorat Islamisasi Ilmu Pengetahuan UNIDA Gontor (2022–2024)

Profil Keluarga

Ayah:

Dr. Amirudin, M.Pd.I

Alamat: Bandar Lampung

Almamater Pendidikan:

Formal: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Lampung

Non-Formal: Pesantren Al-Ihya Kalirejo, Pesantren Krapyak Yogyakarta

Pekerjaan: Dosen PNS di UIN Raden Intan Lampung

Pengalaman Organisasi:

Wakil Dekan III Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung

Ketua MUI Kota Bandar Lampung

Ibu:

Siti Masyrakohah

Alamat: Bandar Lampung

Almamater Pendidikan: Pesantren Sirojut Tholibin Brabo

Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

Pengalaman Organisasi: Pengurus Majelis Ta’lim.