PCNU Pringsewu resmi meluncurkan rangkaian Hari Santri 2025 di Masjid Dakwah Bandung Baru, Kecamatan Adiluwih, Minggu (5/10/2025). Ketua PCNU Pringsewu, H. Muhammad Faizin, menegaskan Hari Santri selalu lekat dengan sosok Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Hari Santri 2025 dan Teladan KH Hasyim Asy’ari
PRINGSEWU, NU MEDIA JATI AGUNG, – Masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober. Momentum ini mengingatkan perjuangan ulama dan santri yang merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Di balik penetapan hari bersejarah ini, berdiri sosok ulama besar yang menginspirasi pergerakan santri, yaitu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus peletak dasar perjuangan keislaman yang berpadu dengan nasionalisme,” kata H. Muhammad Faizin.
Ia menekankan bahwa KH Hasyim Asy’ari tidak hanya berperan sebagai ulama karismatik, tetapi juga sebagai pejuang kemerdekaan yang memadukan agama dengan cinta tanah air. Dari Pesantren Tebuireng Jombang, KH Hasyim Asy’ari menanamkan nilai jihad fi sabilillah. Nilai itu tidak ia pahami secara sempit, melainkan sebagai panggilan untuk menjaga kemerdekaan bangsa dari penjajahan.
Gagasan besar tersebut melahirkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Presiden Joko Widodo menggunakan resolusi itu sebagai dasar penetapan Hari Santri Nasional pada 2015.
“Resolusi Jihad menyerukan kewajiban umat Islam, terutama santri, untuk melawan penjajahan demi mempertahankan keutuhan NKRI. Seruan itu membakar semangat moral dan spiritual rakyat Indonesia, khususnya di Surabaya, hingga pecah pertempuran heroik pada 10 November 1945 yang kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan,” jelasnya.
Warisan Spirit Perjuangan
Faizin menjelaskan bahwa warisan perjuangan KH Hasyim Asy’ari tidak berhenti pada perlawanan fisik. Ia melanjutkan perjuangan itu dalam bentuk intelektual dan moral.
“Beliau mengajarkan nilai tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawassuth (moderat), dan i’tidal (adil). Nilai-nilai itu menjadi fondasi Islam rahmatan lil ‘alamin sekaligus ciri khas ajaran pesantren,” paparnya.
“Dari ajaran tersebut lahir generasi santri yang menguasai ilmu agama, memiliki semangat kebangsaan, dan berkomitmen menjaga persatuan Indonesia,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa setiap kali bangsa merayakan Hari Santri, masyarakat tidak hanya mengingat santri yang gugur di medan perjuangan, tetapi juga meneladani nilai luhur KH Hasyim Asy’ari.
“Spirit cinta tanah air yang tumbuh dari iman, ketaatan, dan ilmu harus terus hidup agar santri masa kini tetap menjadi pelita bangsa, mengamalkan ilmu, menjaga akhlak, dan menebar kedamaian,” tegasnya.
Faizin juga menekankan makna Hari Santri sebagai pengingat penting. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia lahir bukan hanya dari senjata, tetapi juga dari doa, ilmu, dan keberanian moral para santri.
“Ingat Hari Santri, Ingat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,” tandasnya.
Tema Hari Santri 2025 dan 1 Abad NU
Hari Santri 2025 mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Tema tersebut menjadi bagian dari peringatan 1 Abad NU versi Masehi yang berlangsung sepanjang tahun 2025.
Faizin menjelaskan bahwa peringatan tahun ini bukan sekadar seremonial. Ia menekankan kegiatan ini sebagai ajang memperkuat komitmen warga NU dan santri dalam menjaga nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
PBNU menetapkan beberapa prinsip untuk menjalankan peringatan Hari Santri dan Harlah NU.
“Prinsip pertama bersifat desentralistik. Artinya, setiap kegiatan berjalan di banyak tempat, tidak hanya terpusat di satu titik,” jelasnya.
“Jadi kegiatan Hari Santri dan 1 Abad NU bisa berlangsung serentak di seluruh PWNU, PCNU, hingga ranting dan anak ranting di Indonesia,” tambahnya.
Ia menegaskan prinsip kedua, yaitu low budget high impact. Menurutnya, kegiatan harus berjalan efisien, tetapi tetap memberi dampak besar bagi umat dan bangsa.
“Semangatnya bukan kemewahan acara, melainkan kebermanfaatan dan dakwah yang dirasakan masyarakat luas,” ujarnya.
Dengan semangat itu, PCNU Pringsewu berharap Hari Santri dan 1 Abad NU versi Masehi menjadi momentum kebangkitan spiritual serta sosial warga NU, sekaligus kontribusi nyata NU bagi kemajuan bangsa menuju peradaban mulia.
Kemeriahan Festival Hadrah dan Tilawah
Selain meluncurkan rangkaian kegiatan, panitia juga menggelar Festival Hadrah dan Tilawah. Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Adiluwih bertindak sebagai pelaksana.
Rais Syuriyah PCNU Pringsewu KH Muhammad Hambali, jajaran pengurus PCNU Pringsewu, badan otonom NU, lembaga NU, serta para Ketua MWCNU se-Kabupaten Pringsewu turut menghadiri acara ini.
Kehadiran berbagai elemen NU menegaskan kuatnya semangat kebersamaan. Peringatan Hari Santri bukan sekadar agenda rutin, tetapi juga ruang konsolidasi warga NU di setiap tingkatan.
Santri sebagai Pelita Bangsa
Hari Santri selalu menyampaikan pesan penting. Santri tidak hanya menjaga ajaran agama, tetapi juga berperan sebagai benteng persatuan dan pilar kebangsaan.
Dengan semangat perjuangan KH Hasyim Asy’ari, Hari Santri mengingatkan masyarakat bahwa nilai keislaman dan kebangsaan berjalan beriringan. Santri hadir di pesantren maupun ruang publik, menjadi motor penggerak pembangunan sosial, budaya, dan moral bangsa.
Faizin menutup pesannya dengan ajakan kepada seluruh warga NU untuk menjaga tradisi keilmuan dan semangat perjuangan. Ia menekankan pentingnya keteladanan KH Hasyim Asy’ari agar terus menginspirasi generasi santri di masa depan.

