NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Gula Petani Jawa Timur Menumpuk Akibat Bocornya Gula Rafinasi

Penumpukan Gula di Pabrik Jawa Timur

JAWA TIMUR, NU MEDIA JATI AGUNG, – Petani tebu di Jawa Timur menghadapi penumpukan gula di gudang-gudang pabrik gula. Masalah ini muncul karena gula kristal rafinasi (GKR) bocor ke pasar gula kristal putih (GKP), sehingga gula petani tidak laku terjual.

Di lapangan, tim menemukan penumpukan di gudang Pabrik Gula (PG) Jatiroto, Kabupaten Lumajang. PG Jatiroto mengoperasikan 12 gudang gula dengan kapasitas total 59 ribu ton. Saat ini, stok mencapai 37 ribu ton, termasuk 8 ribu ton milik petani.

Dengan kapasitas produksi 500 ton per hari, pabrik memperkirakan seluruh gudang akan penuh dalam 45 hari jika tidak ada pengeluaran. Karena itu, manajemen mulai mencari gudang tambahan untuk menampung stok.

Pemindahan Stok ke Pabrik Lain

PG Jatiroto berencana memindahkan sebagian stok ke gudang PG Semboro, Kabupaten Jember. Pabrik tersebut menyiapkan satu gudang khusus untuk menampung gula dari Jatiroto.

Ketua Tim Lelang Gula Petani PT SGN, Sunardi Edy Sukamto, membenarkan situasi ini. Ia menjelaskan bahwa setiap pekan pihaknya menggelar lelang, namun tidak ada pedagang yang menawar.

Jumlah Gula Petani Belum Terjual

Sunardi memaparkan, hingga 30 Juli 2025, gula petani yang belum terjual mencapai 52 ribu ton. Per 6 Agustus 2025, jumlahnya naik menjadi sekitar 65 ribu ton. “Kita menuju swasembada gula, tapi ironisnya gula petani malah menumpuk,” ujarnya.

Ia mendesak pemerintah untuk bergerak cepat menjalankan program hilirisasi menuju swasembada gula. Pemerintah perlu membeli gula petani sesuai harga acuan pembelian (HAP) Rp 14.500 per kilogram. Menurutnya, langkah ini akan melindungi petani dan mempercepat tercapainya swasembada pangan.

Penyebab Gula Tidak Laku

Sunardi menegaskan, pasar GKP tersaingi oleh GKR yang bocor dari jalur industri. GKR seharusnya hanya digunakan untuk industri makanan dan minuman, namun di tingkat UMKM, gula tersebut bahkan dijual dalam kemasan 1 kilogram dan beredar di pasar ritel. Akibatnya, pasar GKP semakin terdesak.

Pembahasan di Tingkat Pemerintah

Persoalan penjualan gula petani dan peredaran GKR akan dibahas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Sunardi menambahkan, Kementerian Pertanian telah menginformasikan bahwa Danantara menyiapkan dana Rp 1,5 triliun untuk membeli gula petani.

Kondisi Gula di Jawa Timur: Potret Masalah dan Dampak

Penumpukan gula di Jawa Timur menunjukkan terganggunya distribusi dan pasar. Situasi ini menghambat perputaran modal petani, menurunkan kualitas stok jika disimpan terlalu lama, serta memaksa pabrik mencari solusi penyimpanan sementara. Namun, tanpa penjualan yang bergerak, gudang tambahan hanya menunda masalah.

Dampak Ekonomi bagi Petani

Bagi petani, gula yang tidak terjual berarti pendapatan terhenti. Kondisi ini menghambat modal tanam berikutnya, meningkatkan risiko kerugian, dan menurunkan motivasi untuk menanam tebu. HAP Rp 14.500 per kilogram diharapkan menjaga daya saing gula petani. Namun, jika GKR terus beredar di pasar ritel, harga GKP akan tertekan.

Hilirisasi sebagai Solusi

Program hilirisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah gula nasional. Dalam praktiknya, pemerintah menjalankan hilirisasi dengan mengolah gula mentah menjadi produk turunan bernilai lebih tinggi serta memastikan distribusi GKP tepat sasaran. Oleh karena itu, pemerintah harus mengawasi ketat peredaran GKR dan memastikan industri menggunakannya sesuai peruntukan.

Harapan dari Danantara

Danantara berencana mengucurkan Rp 1,5 triliun untuk membeli gula petani dan memberikan harapan baru bagi mereka. Langkah ini akan mengurangi stok menumpuk, memulihkan harga pasar, serta menghidupkan kembali perputaran modal petani. Namun, pemerintah dan Danantara harus merealisasikan program ini dengan cepat dan menjalankannya secara transparan agar hasilnya optimal.

Kasus penumpukan gula di Jawa Timur menunjukkan perlunya tata kelola distribusi gula yang lebih ketat. Pemerintah dapat mencegah kerugian petani dengan memperkuat pengawasan GKR, mempercepat hilirisasi, dan melakukan intervensi harga melalui pembelian langsung.