NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Apa Itu Deepfake? Penjelasan, Cara Kerja, dan Bahayanya

Pengertian Deepfake dan Asal-usulnya

JAKARTA, NU MEDIA JATI AGUNG, –  20 Agustus 2025 — Deepfake merupakan teknologi berbasis kecerdasan buatan yang memalsukan wajah, suara, dan gerakan manusia secara realistis. Selain itu, istilah ini berasal dari gabungan kata deep learning dan fake yang berarti konten palsu hasil manipulasi.

Lebih lanjut, para pembuat konten sering memakai deepfake untuk menghasilkan gambar, video, atau audio yang tampak asli. Namun, algoritma AI sebenarnya merekayasa konten tersebut sehingga publik mudah tersesat. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menilai kebenaran sebuah konten digital.

Sementara itu, bahaya semakin besar ketika seseorang menggunakan deepfake untuk menampilkan tokoh publik atau politisi seolah melakukan hal yang tidak pernah terjadi. Misalnya, video palsu dapat memunculkan seorang pejabat demi kepentingan politik tertentu. Akhirnya, publik pun berisiko tertipu oleh rekayasa digital tersebut.

Cara Kerja Teknologi Deepfake

Pada dasarnya, deepfake bekerja dengan metode Generative Adversarial Network (GAN) yang menggabungkan dua algoritma: generator dan diskriminator. Di satu sisi, generator menciptakan konten. Di sisi lain, diskriminator menilai keasliannya. Dengan demikian, keduanya saling beradu untuk menghasilkan gambar maupun audio yang tampak nyata.

Selain itu, sistem AI menganalisis data wajah atau suara dari berbagai sudut, kemudian merekayasa pola gerakan, ekspresi, hingga intonasi suara agar terlihat meyakinkan. Akibatnya, teknologi ini mampu meniru pergerakan bibir dan ekspresi dengan detail tinggi. Bahkan, sinkronisasi suara dengan gerakan mulut pun tampak seolah-olah orang tersebut mengucapkannya langsung.

Bentuk dan Metode Pembuatan Deepfake

Biasanya, pembuat konten menggunakan dua metode utama. Pertama, mereka mengambil video asli lalu merekayasa wajah atau suara di dalamnya. Kedua, mereka melakukan face swap dengan menukar wajah seseorang ke dalam konten lain. Dengan kata lain, keduanya sama-sama menghasilkan manipulasi visual yang sulit dibedakan.

Selain itu, AI juga mampu menciptakan audio deepfake. Caranya, sistem mempelajari pola suara seseorang, lalu menciptakan rekaman baru yang nyaris identik. Setelah itu, rekaman dipadukan dengan teknik lip-sync sehingga terdengar lebih natural. Oleh karena itu, hasil akhirnya terlihat jauh lebih canggih dibandingkan sekadar edit manual seperti Photoshop.

Bahaya Deepfake di Dunia Nyata

Teknologi deepfake menimbulkan risiko serius karena pelaku bisa memakainya untuk penipuan, pemerasan, atau perusakan reputasi seseorang. Lebih parah lagi, dalam beberapa kasus, orang menyebarkan konten pornografi dengan wajah orang lain tanpa izin.

Selain itu, aktor digital juga kerap menggunakan deepfake untuk menyebarkan hoaks politik. Misalnya, video palsu menampilkan Joe Biden, Donald Trump, atau Paus Fransiskus dalam situasi tertentu. Akibatnya, video semacam itu menyebar luas dan memengaruhi opini publik. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih waspada agar tidak mudah terprovokasi oleh konten manipulatif.

Tips Mendeteksi Konten Deepfake

Untuk menghindari jebakan teknologi ini, masyarakat bisa menggunakan beberapa cara sederhana. Pertama, perhatikan gerakan wajah dan mata. Biasanya, video deepfake menampilkan tatapan kaku dengan frekuensi kedipan yang tidak wajar.

Kedua, cermati pencahayaan dan bayangan. Pada umumnya, deepfake menunjukkan detail pencahayaan yang aneh ketika diperbesar. Ketiga, amati sinkronisasi bibir dengan suara. Perbedaan kecil antara gerakan mulut dan audio sering muncul, sehingga video terlihat janggal.

Selain itu, literasi digital berperan penting sebagai benteng utama. Dengan kata lain, masyarakat perlu membiasakan diri untuk lebih kritis dalam menilai konten di internet.

Akhirnya, memahami deepfake, cara kerja, serta bahayanya menjadi hal yang sangat penting di era digital. Walaupun teknologi ini canggih, banyak orang justru menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi yang merugikan publik.

Oleh karena itu, masyarakat wajib mengenali tanda-tanda deepfake agar tidak terjebak penipuan maupun misinformasi. Dengan demikian, literasi digital yang baik akan membantu kita tetap waspada terhadap ancaman teknologi ini.