Lampung Selatan, NU Media Jati Agung – Menjelang Konferensi Anak Cabang (Konferancab) GP Ansor Kecamatan Jati Agung yang akan digelar di Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an 4 pada Sabtu (25/4/2026), dinamika pencalonan mulai mengerucut.
Sebagai salah satu kandidat, Waryanto, kader Ansor asal Desa Margo Lestari, menyampaikan visi serta program yang diusungnya.
Ia hadir dengan gagasan yang cukup jelas: memperkuat struktur organisasi hingga tingkat desa sekaligus mendorong digitalisasi ekonomi sebagai arah baru gerakan Ansor di tingkat kecamatan.
Niat Khidmah dan Bekal Kaderisasi
Waryanto menegaskan bahwa langkahnya maju bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan bentuk pengabdian di tubuh Nahdlatul Ulama melalui GP Ansor.
“Ingin berhikmad di NU lewat Ansor,” ujarnya kepada NU Media Jati Agung, singkat namun tegas, Rabu (22/4/2026).
Selain itu, ia mengaku telah mempersiapkan diri melalui proses kaderisasi formal di internal organisasi.
Ia telah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) hingga Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL).
“Di pendidikan informal saya sudah mengikuti PKD dan PKL, jadi saya lebih siap memimpin Ansor Jati Agung di periode ini,” jelasnya.
Visi: Digitalisasi Ekonomi dan Bisnis
Jika terpilih, Waryanto membawa visi yang cukup progresif untuk ukuran organisasi kepemudaan di tingkat kecamatan, yakni mendorong digitalisasi ekonomi dan bisnis.
Visi ini menunjukkan arah baru bahwa Ansor tidak hanya bergerak dalam kaderisasi dan kegiatan sosial, tetapi juga masuk pada penguatan ekonomi kader berbasis teknologi.
Target 100 Hari: Bentuk 21 Ranting Ansor
Langkah konkret langsung ia siapkan. Dalam 100 hari pertama, Waryanto menargetkan pembentukan ranting Ansor di seluruh desa di Kecamatan Jati Agung.
“Membentuk ranting Ansor di 21 desa di Kecamatan Jati Agung,” tegasnya.
Untuk mencapai target tersebut, ia akan melakukan pendekatan langsung ke struktur NU di tingkat bawah.
“Berkunjung ke ranting-ranting NU untuk bekerja sama membentuk ranting Ansor,” tambahnya.
Strategi Rekrutmen dan Kaderisasi
Menjawab tantangan rekrutmen pemuda, Waryanto memilih pendekatan kolaboratif. Ia menilai keterlibatan pemuda di luar pesantren harus diperluas.
Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah menggandeng Karang Taruna di tingkat desa maupun kecamatan.
“Bekerja sama dengan Karang Taruna baik di tingkat kecamatan ataupun desa,” ujarnya.
Setelah struktur ranting terbentuk, fokus berikutnya adalah kaderisasi berjenjang melalui Banser.

“Setelah pembentukan ranting di 21 desa selesai, akan kami pilih kader-kader militan untuk mengikuti Diklatsar, minimal 3 orang dari setiap ranting,” jelasnya.
Peran Sosial: Ansor Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Dalam bidang sosial, Waryanto menekankan bahwa Ansor harus tampil nyata, terutama dalam situasi darurat seperti bencana.
“Ansor harus ambil bagian. Salah satu contoh, Ansor harus tampil di setiap penanganan dan penanggulangan bencana alam,” tegasnya.
Gaya Kepemimpinan Organisatoris dan Terukur
Berbeda dengan pendekatan visioner yang abstrak, Waryanto memilih gaya kepemimpinan yang lebih organisatoris dan berbasis sistem.
Ia bahkan telah menyiapkan pola kerja rutin untuk menjaga konsistensi gerakan organisasi.
“Saya akan menjadwalkan satu hari dalam satu minggu untuk sosialisasi turun ke ranting-ranting Ansor di 21 desa,” ungkapnya.
Komitmen Soliditas Kader
Dalam momentum kompetisi, Waryanto juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di internal organisasi.
“Mari bersama kembali ke tujuan awal dibentuknya Ansor,” pesannya.
Pengalaman Jadi Nilai Tambah
Dari sisi pengalaman, Waryanto menilai dirinya memiliki rekam jejak yang cukup panjang dalam organisasi, mulai dari masa pelajar hingga menjadi kader inti PAC Ansor sejak 2020.
“Saya lahir dan besar di Jati Agung, sudah berorganisasi sejak SMA, mahasiswa, Karang Taruna, dan masuk kader inti PAC Ansor sejak 2020,” paparnya.
Ia juga menegaskan telah lulus PKL sebagai bagian dari jenjang kaderisasi formal tertinggi di Ansor tingkat menengah.
Kaderisasi Inklusif: Santri dan Pemuda Umum
Waryanto menolak pendekatan kaderisasi yang eksklusif. Ia ingin Ansor menjangkau semua segmen pemuda.
“Kaderisasi harus menjaring secara menyeluruh, tidak hanya di kalangan santri dan remaja masjid, tapi juga Karang Taruna,” jelasnya.
Target Akhir: 21 Ranting Aktif dan Legal
Sebagai penutup, Waryanto menggambarkan wajah ideal Ansor Jati Agung di akhir masa kepemimpinannya.
“Seluruh ranting Ansor di 21 desa harus memiliki SK aktif, sehingga Konferensi Anak Cabang berikutnya bisa berjalan sesuai PD-PRT,” pungkasnya.
Dengan gagasan yang terstruktur dari pembentukan ranting hingga digitalisasi ekonomi, Waryanto menawarkan kombinasi antara penguatan organisasi dan adaptasi zaman. (ARIF)

