Lampung Selatan, NU Media Jati Agung Ratusan warga Desa Margorejo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, tumpah ruah di acara peringatan 10 Muharram 1447 H, pada Sabtu malam (5/7/2025).
Kegiatan tahunan yang digagas oleh Ranting UPZISNU Margorejo ini kembali mencatatkan pencapaian besar, total dana infaq dan zakat yang terkumpul mencapai Rp86.778.000.
Dana tersebut disalurkan untuk santunan 5 anak yatim, 50 fakir, 156 orang miskin, serta zakat produktif berupa 6 ekor kambing yang dibagikan kepada masing-masing dusun.

Acara ini juga menandai pelunasan satu unit mobil ambulance yang dikelola oleh NU Margorejo melalui gerakan Koin NU Muslimat setempat.
- Tokoh NU dan Pemerintah Hadir
Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting dari jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Lampung Selatan dan Pemerintah Desa, setempat antara lain:
- KH. Ahmad Ishomuddin, Rois Syuriah PCNU Lampung Selatan
- Kyai Sahalludin Mahfudz, Wakil Katib PCNU Lamsel
- Ustadz Sutaji, PCNU Lamsel
- Ustadz Sukriyanto, Ketua UPZISNU Jati Agung
- Kyai Mubarok, Wakil Ketua UPZISNU Jati Agung
- H. Widodo, Tokoh Agama Desa Margorejo
- Ustadz Sunarno dan Ustadz Suparjono, MWCNU Jati Agung
- Ustadz Edi Susanto, Ketua Ranting UPZISNU Margorejo
- Berto Julian, Kepala Desa Margorejo
- Jumari, Sekretaris Desa
- Serda David, Babinsa Margorejo
- Para alim ulama dan ratusan jamaah se-Jati Agung
Rincian Infaq Warga per Dusun
Menurut laporan resmi UPZISNU Ranting Margorejo, dana Rp86.778.000 tersebut berasal dari partisipasi infaq warga enam dusun serta hasil pengumpulan amplop sejak tanggal 1 Muharram. Berikut rinciannya:
- Dusun 1: Rp 8.500.000
- Dusun 2: Rp 8.984.000
- Dusun 3: Rp 19.484.000
- Dusun 4: Rp 15.650.000
- Dusun 5: Rp 8.900.000
- Dusun 6: Rp 4.600.000
- Amplop Infaq Muharram: Rp 20.650.000
Dana yang terkumpul tahun ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai Rp87 juta, namun pencapaian tahun ini tetap stabil di tengah tekanan ekonomi.
- Ketua Ranting: “Kami Sudah Berjalan Sejak 2010”
Dalam wawancara dengan NU Media Jati Agung, Ketua Ranting UPZISNU Margorejo Edi Susanto mengungkapkan bahwa sistem pengumpulan dan pentasyarufan ini sudah berjalan sejak tahun 2010 dan terus berkembang hingga hari ini.

“Alhamdulillah pencapaian desa kami yang dikelola oleh UPZIS bersama pemerintah desa dari tahun ke tahun stabil. Kami di sini sudah berjalan sejak 2010. Dulu itu pertama kali pendapat infaq sekitar lima juta, dan paling tinggi itu Rp120 juta,” ungkap Edi.
“Saat ini karena kondisi perekonomian sedang turun – ya tahu sendirilah harga pertanian, terutama singkong – jadi agak turun dari tahun kemarin. Namun Alhamdulillah, turunnya tetap stabil, tidak signifikan,” sambungnya.
Terkait Mobil Ambulance NU Margorejo, Edi menyebut pelunasannya lebih cepat dari prediksi:
“Kalau soal ambulance, menurut saya sudah sangat luar biasa. Saya pikir dua tahun baru lunas, tapi ternyata lebih cepat. Ini berkat peran ibu-ibu Muslimat melalui Koin NU. Bahkan Kas mereka sekarang sudah mencapai Rp15.490.700,” Ujar Edi.
Pada kesempatan itu Ia juga menjelaskan bahwa desa lain sebetulnya bisa lebih unggul, jika mampu membangun sinergi dengan pemerintah desa:
“Margorejo ini kecil, cuma sekitar 600 KK. Karena kami desa pemekaran dari Margodadi. Tapi kami bisa bersinergi dengan pemdes dan tokoh agama. Kalau desa lain bisa seperti ini, kami yakin hasilnya bisa lebih besar dari kami,” Imbuhnya.
- Kambing Produktif, Bukan Sekadar Bantuan
Selain pentasayarufan santunan, UPZISNU Ranting Margorejo juga membagikan enam ekor kambing zakat produktif. Model pentasyarufan ini murni pemberian, bukan sistem titipan.
“Kalau bantuan lain kan biasanya induknya ditinggal, anaknya diambil. Tapi kami tidak. Itu murni dibagikan sebagai modal usaha. Ada yang tahun depan bisa jadi dua kambing. Ada juga yang hasilnya dipakai beli sapi. Bahkan ada warga yang sampai bisa berkurban sampai empat kali,” Jelas Ustadz Rois yang saat itu mendampingi Ketua Ranting Upziznu Margorejo dalam sesi wawancara.
Program pentasayarufan kambing ini sudah berlangsung sejak 2015. Total kambing yang ditasyarufkan hingga 2025 mencapai 123 ekor.
- KH. Ahmad Ishomuddin: Doa Mustajab 10 Muharram dan Tradisi Syuro
Sementara itu Rois Syuriah PCNU Lampung Selatan KH. Ahmad Ishomuddin usai menyampaikan tausyiahnya, memberikan pandangan tentang pentingnya spiritualitas 10 Muharram:
“Yang paling mendalam dari Asyura adalah doa mustajab. Orang Jawa, para Kyai-Kyai, lebih suka tirakat dan wirid. Karena tanggal 10 Muharram adalah hari dikabulkannya doa para nabi, wali dan ualama,” Jelas KH. Ishomuddin kepada NU Media Jati Agung.
Beliau juga menanggapi fenomena peringatan Syuro sebagai “hari rayanya fakir miskin”. Menurutnya, sebutan itu lahir dari tradisi masyarakat, bukan semata-mata dari teks normatif.
“Sebenarnya kegiatan itu tidak hanya bulan Syuro, cuma tiap daerah punya tradisi yang berbeda-beda. Maka sampai dikatakan bulan Syuro itu hari rayanya fakir miskin, itu karena tradisi saja. Memang ada fadilah khusus sedekah di bulan Syuro, itu dilipatgandakan pahalanya, maknanya seperti itu,” terangnya.
Pihaknya juga menyampaikan kekaguman terhadap gerakan UPZISNU Margorejo:
“Ini sangat inspiratif. Sudah kolektif dan bagus. Pendanaannya kuat, manfaatnya besar. Semoga langgeng dan menjadi contoh bagi desa lain. Dan jangan lupa, ikut berjuang di NU. Karena walau pengurus lain tidak mengerjakan hal yang sama, tetap dapat pahala,” Tutup beliau dengan senyum hangat.
- Margorejo, Wajah NU yang Bergerak
Desa Margorejo menunjukkan bahwa semangat zakat dan infaq dapat tumbuh dari sistem lokal yang sinergis dan transparan.
Dari amplop ke pintu rumah, hingga kambing dan Ambulance, semuanya adalah hasil gerakan akar rumput yang serius.
NU di Margorejo tidak hanya bergerak. Tapi menumbuhkan. Bukan sekadar organisasi, tapi jalan perubahan. Dari desa kecil, lahir dampak besar. (ARF)

