TGH Sholeh Chambali, dikenal sebagai Tuan Guru Haji Bengkel, merupakan ulama besar asal Lombok yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan pendidikan Islam. Ia menuntut ilmu di Makkah selama hampir sembilan tahun sebelum kembali mengabdi di Nusantara dengan karya dan pengajaran yang luas.
Awal Kehidupan dan Latar Belakang Keluarga
NU MEDIA JATI AGUNG, – TGH Sholeh Chambali, atau Tuan Guru Haji Bengkel, lahir pada 7 Ramadhan 1313 H, bertepatan dengan 21 Februari 1896 M, di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Sejak lahir, beliau hidup tanpa sosok ayah karena Hambali bin Gore, ayahandanya, wafat saat beliau masih dalam kandungan.
Seorang tokoh agama setempat, Haji Ali, memberi nama Muchammad Soleh untuk bayi yang kelak dikenal luas di Lombok hingga mancanegara. Masa kecilnya ia habiskan di Bengkel, tempat yang kelak menjadi pusat kegiatan dakwahnya.
Pendidikan Dasar dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Pada tahun 1903 M atau 1320 H, saat berusia tujuh tahun, Sholeh Chambali mulai mempelajari Al-Qur’an dan tajwid kepada Guru Sumbawa bernama Bapak Ramli di Desa Bengkel. Ia juga menuntut ilmu agama kepada TGH Abdul Hamid Pagutan Lombok untuk memperdalam fiqih dan ilmu syariat lainnya.
Lima tahun kemudian, ketika berusia dua belas tahun, beliau berangkat ke Tanah Suci bersama orang tua angkatnya, H. Abdullah (Amak Rajab). Niatnya bukan hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga menuntut ilmu agama secara mendalam. Sejak tahun 1325 H atau 1908 M, ia menetap di Makkah selama sembilan tahun kurang tiga bulan, dan sempat memperluas pengembaraan ilmunya hingga Madinah.
Belajar dari Para Ulama Ternama di Makkah dan Madinah
Selama di Makkah, TGH Sholeh Chambali belajar di Masjid al-Haram dan di rumah para ulama besar. Ia menimba ilmu dari sejumlah guru, antara lain TGH Amin Pejeruk Ampenan, Syekh Misbah al-Banteni, TGH Umar Sumbawa, TGH Umar Kelayu Lombok Timur, KH Usman Serawak, KH Mukhtar Bogor, Syekh Sa‘id al-Yamani, serta Syekh Ali Maliki al-Makki.
Selain itu, beliau juga berguru kepada banyak ulama dari berbagai daerah di Nusantara dan Timur Tengah. Dari para guru tersebut, beliau memperoleh ijazah ilmu yang bersambung (muttaṣil) hingga Rasulullah SAW. Beberapa di antaranya berasal dari Syekh Hasan bin Sa‘id al-Yamani, Syekh Ali Maliki al-Makki, dan Syekh Alī Umairah al-Fayumi, guru Al-Qur’annya di Madinah.
Kembali ke Tanah Air dan Pengabdian di Lombok
Setelah menuntut ilmu selama hampir satu dekade, TGH Sholeh Chambali kembali ke Lombok pada 15 Ramadhan 1334 H, bertepatan dengan 16 Juli 1916 M. Saat itu, beliau masih berusia 21 tahun. Kepulangannya disambut dengan semangat dakwah dan pengajaran yang tinggi.
Beliau segera membuka majelis ilmu di Bengkel. Ia mengajar Al-Qur’an, fiqih, akidah, serta tasawuf kepada masyarakat setempat. Dakwahnya menyebar luas hingga berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat. Selain mengajar, beliau juga aktif menulis kitab keagamaan dalam bahasa Arab dan Melayu.
Karya-Karya Besar TGH Sholeh Chambali
TGH Sholeh Chambali dikenal produktif menulis. Ia meninggalkan banyak karya tulis yang menjadi rujukan dalam bidang fiqih, tauhid, tasawuf, hingga etika. Beberapa karyanya antara lain:
- Luqṭah al-Jawharah fī Bayān al-Ginā’ wa al-Mutafaqqirah
- Hidāyah al-Aṭfāl fī Tajwīd Kalām Allāh al-Muta‘āl
- Ta‘līm aṣ-Ṣibyān bi Gāyah al-Bayān
- Waṣiyyah al-Muṣṭafā li ‘Alī al-Murtaḍā
- Al-Mawā‘iẓ aṣ-Ṣāliḥiyyah fī al-Aḥādīṡ an-Nabawiyyah
- Manẓar al-Amrad fī Bayān Qiṭ‘ah min al-I‘tiqād
- Intan Berlian (Perhiasan Laki Perempuan)
- Jamuan Tersaji (pada) Manasik Haji)
- Risalah Thawaf Perempuan yang Haid atau Nifas
- Cempaka Mulia Perhiasan Manusia
- Bintang Perniagaan pada Kelebihan Perusahaan
- Jalan Kemenangan yang Benar (Taubat yang Sebenar)
- Wirid 17 (Rātib al-Barakah)
- As-Siqāyah al-Marīḍah fī Asmā’ al-Kutub asy-Syāfi‘iyyah
- Permaiduri
- ‘Ilm al-Manṭiq
- Dalīl al-Ḥaul
- Piagem beserta Ajat Qoer’an
- Doa dan Zikir
Karya-karya itu menunjukkan keluasan pengetahuan dan kepedulian beliau terhadap kebutuhan spiritual masyarakat. Ia menulis dengan gaya yang sederhana agar mudah dipahami oleh kalangan santri maupun masyarakat umum.
Kiprah di Nahdlatul Ulama
Bagi kalangan Nahdliyyin, TGH Sholeh Chambali dikenal sebagai ulama yang rendah hati, tekun beribadah, dan teguh memegang mazhab Syafi’i. Dalam perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama, beliau berperan penting dalam menguatkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Lombok.
Beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat. Jabatan itu beliau emban sejak NU menjadi partai politik pada tahun 1952 hingga akhir hayatnya pada 1968. Selama menjabat, beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan umat dan memperkuat pendidikan agama di daerah.
Kehidupan Pribadi dan Warisan Keilmuan
Dalam kehidupan pribadi, TGH Sholeh Chambali menikah dengan 12 istri, tetapi tidak pernah melebihi empat orang dalam waktu bersamaan. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai delapan anak yang sebagian besar melanjutkan perjuangan dakwahnya.
Beliau dikenal dermawan dan sederhana. Banyak santri datang ke Bengkel untuk belajar, dan beliau tidak pernah menolak siapapun yang ingin menuntut ilmu. Sikap sabar dan ketulusannya membuatnya dihormati oleh masyarakat lintas kalangan.
Wafat dan Pengaruh yang Tak Pernah Pudar
TGH Sholeh Chambali wafat pada tahun 1968. Meski telah tiada, ajarannya terus hidup melalui murid-muridnya dan karya-karya tulisnya. Hingga kini, masyarakat Lombok dan sekitarnya masih mengenang beliau sebagai ulama yang mengabdikan ilmu dari Makkah untuk Nusantara.
Melalui dedikasinya, TGH Sholeh Chambali menegaskan bahwa ilmu agama bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan untuk membangun peradaban dan menuntun umat menuju kebaikan.

