Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Solidaritas Gus dan Lora Diperkuat Lewat Silatnas Asfaragus

Emil Dardak Dorong Solidaritas Gus dan Lora

JOMBANG, NU Media Jati Agung — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong solidaritas Gus dan Lora melalui penguatan silaturahmi, pelestarian tradisi pesantren, serta dakwah kreatif berbasis media digital bagi generasi muda Nahdliyin di era informasi.

Emil Dardak menyampaikan dorongan tersebut saat menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) Asfaragus se-Indonesia di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 28 Agustus 2026. Pertemuan itu mempertemukan para Gus dan Lora dari berbagai daerah di Indonesia.

Emil melihat pertemuan tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan antargenerasi keluarga pesantren. Ia juga menilai silaturahmi dapat menjaga kesinambungan nilai yang diwariskan para kiai.

Dalam kesempatan tersebut, Emil memberikan keterangan kepada NU Media Jati Agung. Ia menyampaikan pandangannya mengenai solidaritas Gus dan Lora, tradisi pesantren, serta perkembangan dakwah melalui media.

Menurut Emil, para Gus dan Lora memiliki kesamaan latar belakang. Mereka tumbuh dalam keluarga kiai yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan dan pengabdian pesantren.

Namun, Emil melihat kiprah Gus dan Lora saat ini semakin luas. Mereka menjalankan pengabdian dalam berbagai bidang sesuai kompetensi dan perkembangan zaman.

ā€œSolidaritas sesama Gus dan Lora. Persamaan mereka adalah putra dari kiai-kiai yang berkhidmat di pesantren, tapi tentunya kiprah pengabdian mereka di berbagai bidang,ā€ ujar Emil Dardak.

Silaturahmi Menjaga Nilai Luhur Pesantren

Emil menilai Asfaragus memiliki peran penting dalam membangun hubungan antargus dan lora. Ia juga mengapresiasi upaya organisasi tersebut dalam menjaga tradisi keluarga pesantren.

Menurutnya, silaturahmi tidak sekadar mempertemukan tokoh dari berbagai daerah. Pertemuan tersebut juga dapat memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab terhadap warisan pesantren.

ā€œYang ingin dijalin silaturahmi dan menjaga tradisi sesuai Mars Asparagus adalah hal yang sangat baik, supaya kebersamaan ini bisa memperkokoh dan melestarikan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh orang tuanya masing-masing,ā€ lanjutnya.

Emil menilai generasi penerus keluarga pesantren perlu memahami nilai luhur yang diwariskan para pendahulunya. Mereka juga perlu menyesuaikan bentuk pengabdian dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Silatnas Asfaragus kemudian menjadi ruang untuk memperluas jejaring antargus dan lora. Forum tersebut juga dapat membuka peluang kolaborasi dalam berbagai bidang pengabdian.

Pertemuan seperti itu memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan tradisi pesantren. Kebersamaan dapat membantu generasi muda memahami akar perjuangan keluarga dan lingkungan pesantren.

Kolaborasi Gus dan Lora Hadapi Perubahan Zaman

Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda Nahdliyin. Perkembangan teknologi juga mengubah cara masyarakat menerima informasi dan membangun komunikasi.

Karena itu, Emil mendorong Gus dan Lora untuk terus membangun komunikasi yang kuat. Ia juga mengajak mereka menghadirkan kontribusi positif sesuai bidang pengabdian masing-masing.

Menurut Emil, solidaritas tidak hanya muncul melalui pertemuan secara langsung. Generasi muda juga dapat membangun jaringan melalui berbagai platform digital.

Media digital dapat memperluas jangkauan pesan dan kegiatan positif. Ruang tersebut juga dapat mempertemukan generasi muda dari berbagai wilayah tanpa batas geografis.

Emil Berharap Muktamar NU ke-35 Membawa Keberkahan

Selain membahas solidaritas Gus dan Lora, Emil menyampaikan harapannya terhadap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.

Ia berharap seluruh rangkaian Muktamar NU ke-35 berjalan lancar. Emil juga berharap forum tersebut menghasilkan kemajuan dan keberkahan bagi Nahdliyin serta bangsa Indonesia.

ā€œLancar dan membawa kemajuan dan keberkahan bagi Nahdliyin dan bagi bangsa negara,ā€ kata Emil Dardak saat ditanya mengenai harapannya terhadap Muktamar NU ke-35.

Muktamar NU menjadi salah satu agenda penting bagi organisasi tersebut. Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur Nahdliyin dalam pembahasan arah organisasi dan pengabdian.

Emil berharap seluruh proses berjalan dengan baik. Ia juga menempatkan keberkahan sebagai bagian penting dalam setiap ikhtiar organisasi.

Menurutnya, kemajuan organisasi perlu berjalan bersama dengan manfaat bagi masyarakat. Nilai pengabdian juga harus tetap menjadi bagian utama dalam setiap langkah.

Emil Dorong Dakwah Kreatif Melalui Media

Emil kemudian menyoroti perkembangan media sosial dan peran generasi muda Nahdliyin. Ia melihat ruang digital menawarkan peluang besar untuk menyampaikan pesan positif.

Namun, Emil juga melihat media sosial menghadirkan tantangan. Arus informasi yang sangat cepat dapat membawa berbagai konten kepada masyarakat.

ā€œYa, hari ini ada peluang besar tapi ada tantangan besar. Artinya, di media sosial banyak konten-konten yang bisa saja membawa dampak negatif,ā€ ungkap Emil.

Karena itu, Emil mendorong generasi muda untuk mengambil peran dalam ruang digital. Mereka dapat menggunakan media sebagai sarana dakwah yang kreatif dan konstruktif.

Menurut Emil, generasi muda memiliki peluang besar untuk membuat konten yang sesuai dengan karakter pengguna media sosial. Kreativitas tersebut dapat membantu pesan keagamaan menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Dakwah juga perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan substansi nilai keislaman. Generasi muda dapat mengemas pesan tersebut melalui tulisan, video, infografis, maupun berbagai format digital lainnya.

Media Progresif Perkuat Dakwah Generasi Muda

Emil menilai media progresif memiliki posisi penting dalam menghadapi derasnya arus informasi. Media dapat menghadirkan informasi yang memberikan edukasi sekaligus memperkuat nilai positif.

Ia mengingatkan pentingnya keseimbangan antara konten negatif dan konten positif. Generasi muda perlu mendapatkan ruang digital yang menghadirkan informasi sehat dan membangun.

ā€œTapi kalau tidak diimbangi dengan konten yang positif, maka akan semakin bahaya bagi generasi muda kita. Jadi berdakwah kreatif melalui media-media yang progresif ini menjadi penting,ā€ tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam ekosistem media digital. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat menjadi produsen konten positif.

Media yang dikelola generasi muda Nahdliyin dapat mengambil peran tersebut. Mereka dapat menggabungkan nilai dakwah dengan gaya komunikasi yang dekat dengan masyarakat.

Dakwah Digital Perlu Menguatkan Nilai Pesantren

Pesan Emil juga memberikan dorongan bagi media muda Nahdliyin untuk mengembangkan dakwah digital. Media dapat mengangkat berbagai kegiatan pesantren sekaligus memperkenalkan nilai pengabdian kepada masyarakat.

Konten digital juga dapat memperkuat pemahaman generasi muda terhadap tradisi pesantren. Penyajian informasi secara kreatif dapat membuat pesan tersebut lebih mudah diterima.

Media juga dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Selain itu, media dapat memperkuat nilai keislaman, kebangsaan, serta tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Emil menempatkan kreativitas sebagai salah satu kunci dalam menghadapi perubahan teknologi. Generasi muda perlu memanfaatkan perkembangan tersebut untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Solidaritas Gus dan Lora juga dapat berkembang melalui kolaborasi digital. Para Gus dan Lora dapat memperluas jaringan pengabdian melalui berbagai platform media.

Dengan demikian, Silatnas Asfaragus tidak hanya memperkuat silaturahmi. Pertemuan tersebut juga membuka ruang untuk memperkuat tradisi dan membangun kolaborasi generasi muda.

Pesan Emil menjadi pengingat bahwa tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Generasi muda dapat menjaga nilai warisan kiai sambil menghadirkan bentuk dakwah yang sesuai dengan zaman.

Pada akhirnya, penguatan solidaritas, pelestarian tradisi, dan dakwah kreatif membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Generasi muda Nahdliyin memiliki ruang besar untuk mengambil peran melalui media digital.