Anwar Ibrahim Tegaskan Komitmen Malaysia atas Sabah dan Ambalat
Jakarta, NU Media Jati Agung- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan komitmennya untuk mempertahankan wilayah Sabah dalam sengketa maritim antara Malaysia dan Indonesia. Sengketa ini mencakup kawasan kaya minyak dan gas di Laut Sulawesi yang dikenal sebagai Ambalat.
Pada kunjungan ke Kota Kinabalu pekan lalu, Anwar mengatakan, “Kami akan melindungi setiap jengkal Sabah. Saya akan mempertahankan prinsip ini. Kami akan merundingkannya dengan benar, tanpa menyerah. Ini semua ada dalam pertemuan, bukan hanya pembicaraan rahasia.”
Pernyataan ini dikutip oleh Malay Mail dan Channel News Asia, yang menyoroti pentingnya diskusi dalam forum konsultasi tahunan ke-13 yang berlangsung pada 29 Juli.
Ambalat Jadi Titik Sensitif di Tengah Upaya Pengembangan Bersama
Sengketa wilayah ini menyangkut klaim tumpang tindih atas dua blok laut, ND6 dan ND7. Malaysia menyebutnya bagian dari Laut Sulawesi, sementara Indonesia mengklaim wilayah tersebut sebagai Ambalat. Lokasi ini telah lama dikaitkan dengan potensi sumber daya alam yang signifikan.
Pada 27 Juni, Anwar Ibrahim dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto bertemu di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat untuk mengeksplorasi opsi pengembangan bersama. Meski demikian, belum tercapai kesepakatan final.
“Diskusi kami dengan Indonesia mengenai Ambalat adalah pertanda persahabatan yang baik. Presiden Prabowo adalah sahabat pribadi dan sahabat keluarga. Saya ingin hubungan ini tetap baik,” ujar Anwar.
Sabah Dilibatkan dalam Negosiasi Ambalat
Anwar menegaskan bahwa pemerintah negara bagian Sabah akan terus dilibatkan dalam setiap proses negosiasi. Ketua Menteri Sabah, Hajiji Noor, turut hadir dalam forum tahunan di Jakarta.
“Kami membahas perimeter, mengikuti hukum maritim dan sejarah. Ini harus disetujui oleh pemerintah negara bagian dan selanjutnya oleh dewan legislatif,” kata Anwar.
Namun, Hajiji menjelaskan bahwa pembahasan mengenai Ambalat belum masuk ke tahap detail.
“Pembahasan pertemuan itu sangat positif. Hal-hal terkait masih dalam penyempurnaan,” kata Hajiji kepada wartawan, dikutip dari Malaysiakini.
Pemerintah Federal Malaysia Soroti Kepentingan Sabah
Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Alamin, menegaskan bahwa pemerintah federal akan mengambil setiap keputusan terkait isu ini secara cermat.
“Pemerintah federal senantiasa melakukan penilaian yang detail dan komprehensif terhadap setiap resolusi, termasuk kerja sama ekonomi, untuk menemukan keputusan yang saling menguntungkan,” tegasnya dalam sidang parlemen.
Proses Masih Panjang Meski Sinyal Positif Muncul
Beberapa pengamat menilai bahwa proses penyelesaian sengketa masih membutuhkan waktu panjang. Channel News Asia mengutip pernyataan Adib Zalkapli, pakar geopolitik dari Viewfinder Global Affairs, yang menjelaskan bahwa tidak adanya penyebutan soal pengembangan bersama dalam pernyataan resmi kemungkinan muncul karena kedua pihak belum merampungkan detail teknis.
“Salah satu kemungkinannya adalah karena kedua belah pihak masih merundingkan aspek teknis perjanjian tersebut, sehingga pernyataan publik dari para pemimpin bisa kontraproduktif,” jelas Adib.
Sementara itu, Azmi Hassan, ahli geostrategi dari Akademi Riset Strategis Nusantara, menyatakan bahwa kedua negara masih mempertahankan status quo dan lebih fokus membahas aspek teknis serta komersial.
“Jika tidak dapat diselesaikan soal batas wilayah, maka setidaknya saya pikir usaha patungan akan diberikan antara Petronas dan Pertamina,” ucap Azmi.
Hubungan Pribadi Anwar dan Prabowo Jadi Modal Negosiasi
Azmi menambahkan bahwa hubungan pribadi antara Anwar dan Prabowo berpotensi mempercepat upaya penyelesaian konflik yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.
“Perselisihan ini memang sudah berlarut-larut, tapi hubungan yang sangat dekat antara keduanya akan mempermudah keadaan.”
Ambalat telah memicu ketegangan sejak awal 2000-an. Pada 2002, Mahkamah Internasional menetapkan Pulau Sipadan dan Ligitan sebagai wilayah kedaulatan Malaysia. Namun, kedua negara belum menetapkan batas maritim secara resmi di sekitar wilayah tersebut.
Ketegangan meningkat pada 2004, ketika Malaysia memberikan konsesi eksplorasi kepada Shell, sementara Indonesia telah lebih dulu memberikan hak eksplorasi kepada perusahaan energi asal Italia, Eni. Situasi sempat memanas pada 2010, saat kapal angkatan laut dari kedua negara hampir terlibat konfrontasi di perairan sengketa.
Optimisme Masih Ada di Tengah Kompleksitas Sengketa
Adib Zalkapli tetap optimistis terhadap peluang kemajuan di masa depan. Ia menyatakan bahwa potensi keuntungan ekonomi dapat mendorong berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
“Ketika keuntungan finansial bagi kedua negara sudah jelas, negosiasi kemungkinan besar akan segera selesai.”

