Kasus Keracunan Santri di Lampung Timur
Lampung Timur, NU Media Jati Agung Puluhan santri Pondok Al-Ishlah, Kecamatan Matarambaru, Lampung Timur, mengalami dugaan keracunan makanan pada Selasa (26/8/2025).
Para santri merasakan gejala itu setelah mereka menyantap makanan dari program Makanan MBG
Gejala dan Kondisi Korban
Data awal mencatat 43 santri merasakan gejala mual, pusing, muntah, dan demam. Petugas kesehatan merawat 18 orang secara inap dan menangani 12 orang secara rawat jalan di Puskesmas Bandarsribawono.
Klinik Permata Keluarga juga merawat 6 orang secara inap dan menangani 7 orang rawat jalan. KBO Satreskrim Polres Lamtim Iptu Sunarso menegaskan bahwa para santri kini menunjukkan kondisi yang lebih baik.
Polisi mengirim sampel makanan ke Dinas Kesehatan untuk memastikan penyebabnya, lalu mereka menunggu hasil uji laboratorium
“Untuk tindak lanjut perkara ini masih tahap penyelidikan. Jika hasil laboratorium sudah keluar, baru akan diambil langkah selanjutnya,” ujarnya mewakili Kasat Reskrim Polres Lampung Timur.
Data Penerima Program MBG
Sunarso menjelaskan, penerima manfaat program Makanan MBG di Kecamatan Mataram Baru mencapai 3.538 orang. Sebaran penerima meliputi 37 titik dengan rincian: SD sebanyak 1.721 siswa, SMP/MTs 586 siswa, SMA/MA 154 siswa, TK/PAUD 785 siswa, serta 282 orang ibu hamil dan menyusui.
“Dari ribuan penerima program tersebut, sejauh ini hanya ada laporan dari Pondok Al-Ishlah dengan 43 santri yang mengalami dugaan keracunan. Belum ada laporan lain terkait kejadian serupa,” jelasnya.
Sunarso menyebut insiden itu bermula sekitar pukul 12.00 WIB ketika para santri menerima makanan bergizi gratis dari SPPG Desa Tulung Pasik.
Pada pukul 17.00 WIB, para santri mulai merasakan gejala sehingga petugas segera membawa mereka ke fasilitas kesehatan.
“Syukurlah saat ini kondisi para korban sudah membaik,” pungkas Sunarso.
Evaluasi Program Makanan MBG di Lapangan
Program Makanan MBG di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan menuai kritik. Banyak pihak menilai label bergizi tidak sesuai karena menu lauk-pauk terlalu sederhana.
Radar Lamsel melaporkan foto menu MBG di Kecamatan Penengahan dan Kalianda. Pada Kamis, 28 Agustus 2025, anak-anak menerima porsi ayam, nasi, sebiji buah salak, dan tumisan. Sehari sebelumnya, menu hanya berisi dua biji bakso, tahu, jeruk, toge, nasi, dan satu kotak susu
Kritik Orang Tua dan Warga
“Kalau menu pagi tadi enggak ada susunya,” ucap Tofa (40), salah satu orang tua penerima program MBG.
Tofa merasa prihatin melihat porsi makanan. Menurutnya, menu bukan hanya soal makanan, melainkan juga menyangkut hak anak.
“Apakah ini yang disebut generasi emas. Ini adalah perampasan hak anak bangsa, dan masalah yang serius,” katanya.
Hal senada diungkapkan Marwan (31), warga Kecamatan Kalianda. Ia menilai menu MBG tidak layak disebut makanan bergizi.
“Kalau begini ceritanya bukan perbaikan gizi, ini mah sarapan doang. Enggak ada gizi-gizinya sama sekali,” katanya.
Informasi sementara menyebut pendistribusian operasional MBG menyasar ribuan siswa mulai PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga posyandu.
Radarlamsel terus menelusuri asal SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang menyalurkan MBG di dua kecamatan tersebut.
Berita ini telah terbit di Radar Lamsel dengan judul: Puluhan Santri di Lampung Timur Diduga Keracunan Usai Santap Makanan MBG, Polisi Tunggu Hasil Uji Lab.

