Timbunan Sampah Meningkat Hingga 800 Ton Setiap Hari
BANDAR LAMPUNG, NU MEDIA JATI AGUNG, – Sampah di Bandar Lampung kini mencapai 800 ton per hari. Oleh karena itu, angka ini terus menarik perhatian serius pemerintah kota. Berdasarkan data, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandar Lampung menegaskan bahwa timbunan sampah harian berkisar antara 500 hingga 800 ton. Selanjutnya, seluruh sampah masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung.
Kepala DLH Kota Bandar Lampung, Yusnadi Feriyanto, menjelaskan bahwa tiga sektor utama—industri, rumah makan, dan perhotelan—menjadi penyumbang terbesar peningkatan volume sampah. Dengan demikian, ketiga sektor ini memegang peranan penting dalam persoalan kebersihan kota.
Tiga Sektor Penyumbang Sampah Terbesar
Kontribusi Industri
Pertama, sektor industri mendominasi sumber sampah. Hal ini terjadi karena aktivitas produksi menghasilkan volume besar. Akibatnya, petugas harus lebih sering mengangkut sampah untuk mencegah penumpukan.
Rumah Makan sebagai Penyumbang Dominan
Kedua, rumah makan di Kota Bandar Lampung juga memberikan kontribusi signifikan. Secara khusus, sisa makanan, plastik sekali pakai, dan kemasan mendominasi sampah dari sektor ini. Selain itu, peningkatan jumlah pengunjung turut memperbesar volume sampah.
Perhotelan dan Tingginya Retribusi
Ketiga, perhotelan menempati posisi dengan retribusi tertinggi. Yusnadi menegaskan bahwa tiga sektor ini mendominasi karena volume besar serta frekuensi pengangkutan yang tinggi.
“Paling besar ada yang mencapai Rp 4 juta per bulannya,” ungkapnya.
Sistem Pengelolaan di TPA Bakung
DLH Bandar Lampung menegaskan bahwa TPA Bakung sudah tidak menggunakan sistem open dumping. Sebagai gantinya, petugas kini menerapkan metode controlled landfill.
Perubahan Metode Pengelolaan
Dengan metode baru ini, petugas menimbun sampah secara terkontrol dan kemudian menambahkan lapisan tanah pada setiap timbunan.
Dampak Positif Controlled Landfill
Yusnadi menjelaskan bahwa metode controlled landfill lebih ramah lingkungan. Melalui sistem ini, petugas mampu mengurangi risiko pencemaran air tanah, meminimalkan bau sampah, serta sekaligus menurunkan potensi kebakaran di area TPA.
Tantangan Pengelolaan Sampah
Meskipun demikian, tantangan tetap muncul. Faktanya, pertumbuhan penduduk, peningkatan aktivitas ekonomi, dan pada saat yang sama perilaku konsumsi masyarakat terus memicu peningkatan volume sampah harian.
Keterlibatan Masyarakat
DLH mendorong masyarakat agar mengelola sampah langsung dari sumbernya. Sebagai langkah awal, warga bisa memilah sampah organik, anorganik, dan residu. Dengan cara ini, beban TPA dapat berkurang secara signifikan.
Kebutuhan Kesadaran Kolektif
Selain pemerintah, pelaku usaha juga harus aktif menekan produksi sampah. Di samping itu, industri perlu mengurangi plastik sekali pakai serta menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Pada akhirnya, kesadaran kolektif inilah yang akan menentukan keberhasilan pengelolaan sampah di Bandar Lampung.
Bandar Lampung menghadapi tantangan besar dalam menjaga kebersihan kota dan kelestarian lingkungan dengan timbunan sampah yang mencapai 800 ton per hari. Secara keseluruhan, industri, rumah makan, dan perhotelan menyumbang volume terbesar. Namun demikian, perubahan metode pengelolaan di TPA Bakung melalui sistem controlled landfill memberikan harapan baru untuk mengurangi dampak negatif sampah.
“Metode baru ini lebih ramah lingkungan karena petugas menimbun sampah secara terkontrol dengan lapisan tanah,” ujar Yusnadi.
Oleh sebab itu, upaya pengurangan sampah tetap membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, serta pada akhirnya masyarakat luas.

