Situasi Memanas antara Rusia dan NATO
Brussel, NU Media Jati Agung– Putin kembali memicu ketegangan setelah menyatakan Rusia siap menghadapi Eropa bila ada provokasi, dan pernyataan itu langsung mendapatkan respons tegas dari NATO.
Pernyataan kedua pihak muncul ketika upaya perundingan perdamaian Rusia–Ukraina berjalan tersendat dan tekanan internasional terus meningkat.
Putin Sampaikan Sikap Rusia
Di tengah kebuntuan proses perdamaian, Putin pada Selasa menegaskan bahwa ia tidak mencari konflik baru. Namun, ia tetap memberikan sinyal kesiapan jika muncul ancaman dari Eropa.
“Kami tidak akan berperang dengan Eropa; saya sudah mengatakannya ratusan kali. Tetapi jika Eropa tiba-tiba ingin melawan kami dan memulainya, kami siap sekarang juga,” kata Putin kepada para wartawan.
Pernyataan itu muncul saat para pendukung Ukraina di Eropa terus menekan Rusia, sehingga ketegangan semakin meningkat.
NATO Berikan Respons Cepat
Tidak lama setelah itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte langsung menanggapi komentar Putin. Ia menegaskan bahwa NATO berdiri tegak untuk melindungi seluruh anggotanya.
“NATO adalah aliansi pertahanan,” ujar Rutte, menjelang pertemuan puncak para pemimpin NATO di Brussels, seperti dikutip The Independent, Kamis (4/12/2025).
Rutte kemudian menambahkan, “Tapi jangan salah, kami siap dan bersedia melakukan apa pun untuk melindungi satu miliar penduduk kami dan mengamankan wilayah kami. Putin yakin ia bisa bertahan lebih lama dari kami, tetapi kami tidak akan ke mana-mana,” ujarnya.
Perundingan Damai Kembali Buntu
Retorika yang meningkat ini terjadi sementara harapan atas kesepakatan damai yang ditengahi Amerika Serikat semakin menipis.
Pada Rabu, pertemuan yang dijadwalkan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan delegasi AS dibatalkan, beberapa jam setelah tim Presiden Donald Trump meninggalkan Moskow tanpa hasil.
Kendati demikian, Rutte tetap menilai Trump sebagai figur yang mampu membuka jalan keluar bagi kebuntuan konflik.
Pertemuan Intensif Belum Hasilkan Terobosan
Kemajuan perundingan tampak mandek setelah pertemuan lima jam pada Selasa antara pejabat Rusia, Kirill Dmitriev, serta utusan khusus Presiden Trump; Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Kremlin membantah adanya penolakan, dan menyebut perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses mencari kompromi.
Witkoff dan Kushner seharusnya bertolak ke Brussels untuk bertemu delegasi Ukraina, tetapi mereka justru kembali ke Washington.
Ukraina Menyebut Ada Komunikasi Lanjutan
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, memastikan adanya tindak lanjut setelah perundingan tersebut.
“Terdapat kontak antara ketua delegasi Ukraina dan Witkoff,” ujar Sybiha kepada wartawan.
“Perwakilan delegasi Amerika melaporkan bahwa, menurut pendapat mereka, perundingan di Moskow memiliki hasil yang positif dan mereka mengundang delegasi Ukraina untuk melanjutkan perundingan kami di Amerika dalam waktu dekat.”
Meski demikian, belum ada penjelasan mengenai apa yang dimaksud sebagai “hasil positif”.
Tekanan Internasional Terus Meningkat
Pemerintah Eropa juga menyoroti sikap Rusia. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper meminta Putin menghentikan ketegangan dan membuka ruang dialog untuk perdamaian. Para pemimpin Eropa bahkan menuding Putin hanya berpura-pura ingin berunding.
Sementara itu, Trump menyatakan penasihatnya melihat adanya sinyal bahwa Putin ingin mengakhiri perang.
“Kesan mereka sangat kuat bahwa ia ingin mencapai kesepakatan,” ujarnya dari Oval Office.
Uni Eropa Siapkan Langkah Pembiayaan Baru
Pada malam hari, Komisi Eropa mengajukan penggunaan aset Rusia yang dibekukan atau pinjaman internasional untuk mengumpulkan 90 miliar euro bagi Ukraina.
Langkah ini bertujuan memperkuat pertahanan dan layanan dasar negara itu.
Namun, kebuntuan dalam negosiasi tetap menjadi pukulan bagi Ukraina, terlebih setelah pengunduran diri negosiator utama Andriy Yermak akibat skandal korupsi senilai USD100 juta. Posisi itu digantikan oleh Rustem Umerov. (ARIF)

