Perubahan Tradisi Baju Adat di Sidang Tahunan MPR 202
Jakarta, NU Media Jati Agung— Sidang Tahunan MPR-DPR RI tahun 2025 menghadirkan perubahan signifikan dalam tradisi pakaian. Biasanya, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, menteri kabinet dan wakil rakyat mengenakan baju adat, tradisi yang dimulai pada era Presiden Jokowi. Namun kali ini, di era Presiden Prabowo Subianto, tradisi tersebut tidak diteruskan.
Penampilan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran
Bagi Prabowo, ini adalah pertama kalinya ia memberikan Pidato Kenegaraan sekaligus menghadiri Sidang Tahunan MPR-DPR RI sebagai kepala negara.
Presiden mengenakan jas abu tua dipadukan dengan dasi biru ‘gemoy’, warna khas kampanyenya.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming juga hadir dengan setelan jas, ditemani istrinya Selvi Ananda yang mengenakan kebaya krem. Semua menteri kabinet mengikuti dress code serupa.
Tanggapan Wakil Ketua MPR RI
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid menanggapi hilangnya tradisi baju adat. Ia mengatakan, “Pak Prabowo patriot, jadi pakai (baju) nasional.”
Tradisi Baju Adat di Era Jokowi
Selama sepuluh tahun sebelumnya, Sidang Tahunan MPR selalu menampilkan parade baju adat. Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi mengenakan berbagai pakaian adat, mulai dari Suku Badui (Banten), Suku Sasak (NTB), hingga Suku Tanimbar (Maluku).
Tidak hanya presiden, menteri dan pasukan pengawal presiden juga memakai pakaian adat sebagai simbol perayaan keragaman budaya Indonesia..
Pilihan Baju Terakhir Jokowi
Pada pidato kenegaraan terakhirnya pada 15 Agustus 2024, Jokowi mengenakan baju Ujung Serong khas Betawi. Sebagai simbol penghormatan, baju ini menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Jakarta sebagai ibu kota.
Selain itu, pakaian tersebut mencerminkan nilai kesopanan, ketaatan terhadap agama, kekuatan, dan kebijaksanaan budaya Betawi.
“Betawi merepresentasikan wajah Indonesia, jauh sebelum Indonesia merdeka, mengenai akulturasi yang kuat dari berbagai suku bangsa di Indonesia,” kata perwakilan Istana.(ARF)

