NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Nyai Shofiyah Syahid: Perempuan Dermawan di Balik Berdirinya Pesantren Kemadu Rembang

Sosok Dermawan Penopang Berdirinya Pesantren Kemadu

Masyarakat Rembang mengenal Nyai Shofiyah Syahid sebagai perempuan dermawan yang berperan penting dalam berdirinya Pondok Pesantren Alhamdulillah Kemadu. Ia mendampingi perjuangan KH Ahmad Syahid dengan ketulusan hati, mengorbankan harta dan tenaga demi dakwah serta pendidikan Islam.


Perempuan Tangguh di Balik Pesantren

Bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya, Hj. Shofiyah Syahid—akrab disapa Ibu Nyai Syahid—menjadi teladan ketangguhan dan kedermawanan. Ia menikah dengan KH Ahmad Syahid bin Sholihun, pendiri Pondok Pesantren Alhamdulillah di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Setiap kali acara haul digelar, ribuan santri dari berbagai daerah memadati halaman pesantren. Mereka datang untuk mengenang perjuangan Mbah Syahid dan Nyai Shofiyah, yang beristirahat di kompleks pesantren. Sebagian besar jamaah merupakan alumni yang pernah belajar langsung di bawah bimbingan Mbah Syahid.

Acara tahunan tersebut selalu menarik perhatian para tokoh besar Nahdlatul Ulama. KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) dan Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sering menghadiri kegiatan itu. Selain itu, beberapa anggota DPR RI juga turut hadir untuk mendoakan sekaligus mengenang jasa pasangan pendiri pesantren tersebut.


Pendamping Setia dalam Dakwah dan Pendidikan

KH Yahya Cholil Staquf menilai Nyai Shofiyah Syahid sebagai sosok perempuan tangguh dan setia. Ia senantiasa mendampingi suaminya dalam membangun serta mengembangkan pesantren. Walau usianya lebih tua daripada Kiai Syahid, ia tetap menjadi sumber kebijaksanaan dan kekuatan dakwah bagi sang suami.

“Orang-orang salah sangka. Mereka kira aku yang punya karamah. Padahal yang sebenarnya punya karamah itu Nyai. Kalau bukan karena beliau, aku tidak akan bisa istiqamah,” ujar Kiai Syahid, sebagaimana dituturkan Gus Yahya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh Nyai Shofiyah dalam perjuangan dakwah suaminya. Ia tidak hanya memberi dukungan moral, tetapi juga membantu secara materi dan spiritual. Kesetiaannya menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menguatkan pendidikan Islam.


Kedermawanan dan Perjuangan Tanpa Pamrih

Pada Mei 1994, Nyai Shofiyah menutup usia pada umur 73 tahun. Sepanjang hidupnya, ia mencurahkan tenaga dan hartanya untuk memperkuat kegiatan dakwah dan pendidikan Islam di pesantren.

Warga Desa Kemadu mengenalnya sebagai perempuan kaya raya yang gemar bersedekah. Ia mewakafkan sebagian besar tanah serta hasil pertaniannya demi pembangunan pesantren dan kebutuhan santri. Dengan langkah itu, Kiai Syahid dapat fokus mengajar dan membimbing para santri tanpa terbebani urusan ekonomi.

Kedermawanan tersebut tidak sekadar amal, melainkan bentuk cinta serta tanggung jawab sosial. Melalui wakafnya, pesantren berkembang pesat dan menjelma menjadi pusat pendidikan Islam di Rembang. Banyak santri dari berbagai daerah datang untuk menuntut ilmu sekaligus melanjutkan perjuangan dakwah pasangan mulia itu.


Awal Berdirinya Pesantren Kemadu

Sekitar tahun 1950-an, Pesantren Kemadu mulai berdiri berkat kerja keras dan pengorbanan besar Kiai Syahid bersama Nyai Shofiyah. Keduanya memiliki visi yang sama: membangun lembaga pendidikan Islam yang mandiri dan berakar kuat pada tradisi pesantren.

Setelah kepergian Nyai Shofiyah, Kiai Syahid menikah dengan Nyai Hj. Nur Rohmah Syahid. Bersama istri keduanya, ia melanjutkan perjuangan mendidik santri dengan dedikasi tinggi. Berkat kerja keras itu, pesantren semakin dikenal luas dan dihormati masyarakat.


Tradisi dan Warisan yang Tetap Terjaga

Hingga kini, Pondok Pesantren Alhamdulillah Kemadu tetap menjaga tradisi memuliakan tamu. Para santri menyambut tamu dengan nasi jagung campur nasi beras, lengkap bersama lauk dan sayur hasil panen mereka.

Sejak awal berdirinya pesantren, Nyai Shofiyah dan Mbah Syahid menanamkan tradisi tersebut. Kebiasaan itu menggambarkan nilai kesederhanaan, kemandirian, serta penghormatan kepada tamu. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi dasar pendidikan akhlak di pesantren.

Dengan tradisi itu, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga membentuk karakter santri agar rendah hati dan dermawan, sebagaimana teladan pendirinya.


Warisan Spiritualitas dan Kepemimpinan

Pada Jumat, 3 September 2004, Kiai Syahid wafat pada usia 78 tahun. Ia dimakamkan di samping pusara istrinya, Nyai Shofiyah. Sejak saat itu, Nyai Hj. Nur Rohmah Syahid memimpin pesantren dan meneruskan perjuangan mendidik generasi umat dengan semangat yang sama.

Putra mereka, Gus Obi’ (Rabbi’ Lutfi), melanjutkan pendidikan di pesantren ternama di Pare dan kemudian kuliah di Malang. Langkah tersebut menunjukkan kesinambungan perjuangan keluarga besar Pesantren Kemadu dalam menjaga nilai-nilai keislaman serta tradisi pesantren.

Warisan spiritual Nyai Shofiyah Syahid terus hidup di hati santri dan masyarakat. Nilai keikhlasan, kesetiaan, serta kedermawanan yang ia tanamkan senantiasa menginspirasi setiap generasi untuk melanjutkan dakwah dengan semangat tulus.


Pesan Moral dan Inspirasi bagi Generasi Muda

Kisah hidup Nyai Shofiyah Syahid menghadirkan pelajaran berharga tentang keteguhan dan kedermawanan seorang perempuan dalam perjuangan dakwah. Ia bukan sekadar istri seorang kiai, melainkan mitra sejajar yang turut mewujudkan cita-cita pendidikan Islam yang bermanfaat bagi masyarakat.

Semangatnya menegaskan bahwa peran perempuan di dunia pesantren memiliki arti besar. Tanpa ketulusan dan pengorbanan Nyai Shofiyah, Pesantren Kemadu mungkin tidak akan berkembang sebesar sekarang. Nilai perjuangannya menginspirasi banyak kalangan, terutama generasi muda, untuk terus berkontribusi bagi umat dan bangsa.