Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

NU Rancang Masa Depan 25 Tahun, Alissa Ungkap 7 Dimensi

Peta Jalan NU 2026–2050

Jombang, NU Media Jati Agung — Muktamar ke-35 NU memasukkan pembahasan jangka panjang dalam agenda Komisi Program. Komisi tersebut membahas arah perjalanan organisasi hingga 2050.

Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S.Psi., M.Psi., menyampaikan penjelasan itu kepada Battikpost. Ia menyampaikannya pada Sabtu (29/8/2026) di sela rangkaian Muktamar ke-35 di Jombang, Jawa Timur.

Alissa menjelaskan Komisi Program membahas dua dokumen strategis. Kedua dokumen tersebut mencakup Peta Jalan NU 2026–2050 dan Arah Strategis Program NU 2026–2031.

Ini adalah Komisi Program dari Muktamar ke-35 ini, dan yang kita bahas ada dua, yaitu Peta Jalan NU 2026–2050 dan Arah Strategis Program NU 2026–2031. Itu yang kita bahas,” ujar Alissa.

Menurut Alissa, Peta Jalan NU 2026–2050 memiliki cakupan yang luas. Dokumen tersebut memuat berbagai aspek penting bagi perjalanan organisasi.

Peta jalan itu tidak hanya membahas penguatan organisasi. Dokumen tersebut juga mencakup kehidupan jamaah dan kontribusi NU bagi bangsa.

Selain itu, NU juga menempatkan peran dalam peradaban dunia sebagai bagian dari arah jangka panjang. Pendekatan tersebut menunjukkan cakupan program yang semakin luas.

Kalau Peta Jalan itu sudah sangat lengkap ya, karena itu kan 25 tahun, jadi meliputi semua aspek-aspek atau dimensi yang menurut kita penting untuk diperhatikan oleh NU,” jelasnya.

Tujuh Dimensi Menjadi Kerangka Utama

Alissa mengungkapkan tujuh dimensi strategis dalam Peta Jalan NU 2026–2050. Setiap dimensi memiliki cakupan program yang berbeda.

Dimensi pertama berfokus pada Jam’iyyah. Dimensi ini mencakup tata kelola organisasi, transformasi, serta konsolidasi Jam’iyyah.

NU kemudian memasukkan sejumlah dimensi yang berkaitan langsung dengan jamaah. Aspek tersebut mencakup pesantren dan Aswaja serta kesejahteraan sosial ekonomi.

NU juga memasukkan pengembangan sumber daya manusia unggul dalam peta jalan tersebut. Aspek lingkungan berkelanjutan turut mendapat perhatian dalam rancangan jangka panjang itu.

Dua dimensi lainnya berkaitan dengan khidmah NU untuk bangsa dan peradaban dunia. Seluruh dimensi tersebut menjadi kerangka dalam menyusun program secara bertahap.

Itu ada 7 dimensi. Itu yang semuanya programnya bisa macam-macam, berbeda-beda dan sesuai dengan tahapan dari program,” kata Alissa.

Penguatan Jam’iyyah dan Jamaah

Dimensi Jam’iyyah menempatkan tata kelola sebagai salah satu perhatian utama. NU juga mendorong transformasi dan konsolidasi organisasi melalui dimensi tersebut.

Pada sisi jamaah, NU memperluas perhatian pada berbagai sektor kehidupan. Pesantren, Aswaja, ekonomi, sosial, dan pengembangan manusia masuk dalam cakupan tersebut.

Pendekatan itu memperlihatkan hubungan antara penguatan organisasi dan kebutuhan jamaah. NU dapat menjalankan program berdasarkan kebutuhan pada setiap tahapan.

Perhatian pada SDM dan Lingkungan

Pengembangan sumber daya manusia unggul menjadi salah satu bagian dalam Peta Jalan NU. Dimensi ini menempatkan kualitas manusia sebagai unsur penting dalam perjalanan organisasi.

NU juga memasukkan pelestarian lingkungan berkelanjutan dalam rancangan tersebut. Langkah ini menunjukkan perhatian terhadap tantangan sosial dan lingkungan pada masa mendatang.

Kedua aspek tersebut dapat mendukung penguatan kapasitas masyarakat. Program yang lahir dari peta jalan juga dapat menyesuaikan perubahan kebutuhan.

NU kemudian menghubungkan penguatan internal dengan peran sosial yang lebih luas. Organisasi juga menempatkan khidmah sebagai bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Khidmah NU untuk Bangsa dan Dunia

NU memasukkan khidmah untuk bangsa sebagai salah satu dimensi strategis. Dimensi tersebut memperkuat orientasi NU dalam kehidupan kebangsaan.

Selain itu, NU juga mengarahkan khidmah pada lingkup peradaban dunia. Arah tersebut membuka ruang bagi kontribusi NU dalam persoalan global.

Peta Jalan NU 2026–2050 karena itu memiliki cakupan lintas sektor. Organisasi menghubungkan tata kelola dengan kehidupan sosial dan peran global.

Setiap program dapat mengikuti tahapan sesuai kebutuhan. Pendekatan bertahap tersebut memungkinkan organisasi menyesuaikan program dengan perkembangan zaman.

Arah Strategis Program 2026–2031

Komisi Program juga membahas Arah Strategis Program NU 2026–2031. Dokumen ini memiliki rentang waktu lebih pendek dibandingkan peta jalan.

Arah strategis tersebut dapat menjadi tahapan awal dalam menjalankan agenda jangka panjang. NU dapat menerjemahkan visi 25 tahun melalui prioritas program dalam periode lima tahun.

Peta Jalan NU 2026–2050 berfungsi sebagai kerangka besar perjalanan organisasi. Sementara itu, Arah Strategis Program NU 2026–2031 memberikan fokus untuk periode awal.

Kedua dokumen tersebut memiliki hubungan dalam penyusunan program NU. Peta jalan memberikan arah umum, sedangkan strategi lima tahunan memberikan tahapan pelaksanaan.

Komisi Program juga perlu memastikan setiap program memiliki relevansi dengan kebutuhan organisasi. Program tersebut juga perlu menjawab kebutuhan jamaah secara berkelanjutan.

Muktamar Menatap NU hingga 2050

Muktamar ke-35 NU menjadi momentum untuk menyusun arah organisasi dalam perspektif panjang. Pembahasan tidak hanya berfokus pada kebutuhan satu periode kepengurusan.

NU juga mulai memikirkan fondasi perjalanan organisasi hingga 2050. Langkah tersebut membutuhkan kesinambungan program dari satu tahap menuju tahap berikutnya.

Tujuh dimensi strategis menjadi bagian penting dalam rancangan tersebut. Dimensi itu mencakup organisasi, jamaah, ekonomi, SDM, lingkungan, kebangsaan, dan peradaban dunia.

Keberhasilan agenda jangka panjang membutuhkan penerapan program secara konsisten. Seluruh unsur NU memiliki peran dalam menjalankan setiap tahapan tersebut.

Kolaborasi antara Jam’iyyah dan jamaah juga menjadi unsur penting. Keduanya dapat menjaga kesinambungan program sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

Menjaga Semangat Khidmah

Peta jalan jangka panjang membutuhkan komitmen dari seluruh elemen NU. Organisasi perlu menerjemahkan gagasan strategis menjadi program yang dapat dirasakan masyarakat.

Muktamar juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan mengenai masa depan NU. Forum tersebut dapat menghasilkan keputusan yang memperkuat arah organisasi.

Dengan semangat Muktamar Bergembira, Muktamar ke-35 diharapkan melahirkan optimisme baru. NU dapat terus tumbuh melalui khidmah yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Arah tersebut juga membuka ruang bagi NU untuk meningkatkan kontribusi pada tingkat global. Peta jalan hingga 2050 menjadi salah satu pijakan untuk mewujudkan tujuan tersebut.