NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

NU Banjar Agung dan Ladang Khidmah yang Menanti Digarap

Data Umat dan Potensi Jam’iyah

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung— Desa Banjar Agung Kecamatan Jati Agung bukan desa kecil. Dengan 4 dusun, 18 RT, dan jumlah penduduk 3.045 jiwa—terdiri dari 1.552 laki-laki dan 1.493 perempuan—desa ini menyimpan potensi besar bagi tumbuh dan hidupnya jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Angka-angka ini bukan sekadar data Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Selatan tahun 2024, melainkan potret umat yang sesungguhnya: warga Nahdliyin yang hidup, bekerja, dan beribadah di Banjar Agung.

Baiat Hari Santri: Janji Khidmah, Bukan Seremonial

Momentum baiat Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Banjar Agung masa khidmat 2025–2030 yang dilaksanakan serentak pada peringatan Hari Santri 2025, pada Rabu, 22 Oktober di Kecamatan Jati Agung menjadi penanda penting.

Hari Santri adalah simbol perjuangan, keikhlasan, dan keberanian ulama serta santri dalam menjaga agama dan bangsa.

Dibai’at pada momentum ini berarti mengikat janji khidmah, bukan hanya kepada organisasi, tetapi kepada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dan umat yang harus dilayani.

17 Pengurus sebagai Tiang Jam’iyah

Saat ini, PRNU Banjar Agung diperkuat oleh 17 pengurus, terdiri dari jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah. Angka ini bukan sekadar jumlah, tetapi memiliki makna mendalam.

Tujuh belas adalah jumlah rakaat sholat fardhu, tiang kehidupan seorang Muslim. Ini menjadi pengingat bahwa ranting NU adalah penopang utama jam’iyah—tempat niat, arah, dan kebijakan dijaga agar tetap lurus.

Anak Ranting dan Barisan 99 Penggerak

Namun, dengan wilayah 4 dusun dan 18 RT, tentu tidak masuk akal jika seluruh beban khidmah hanya ditanggung oleh 17 orang.

Karena itu, pembentukan Anak Ranting NU di setiap dusun dan penggerak NU di tingkat RT menjadi kebutuhan yang mendesak dan logis.

Jika setiap dusun dibentuk satu Anak Ranting dengan 7 pengurus, maka akan lahir 28 pengurus Anak Ranting. Ditambah 3 penggerak NU di setiap RT, akan ada 54 pengurus tingkat RT.

Bersama 17 pengurus ranting, total kekuatan struktural NU Banjar Agung menjadi 99 orang pengurus aktif.

Angka 99 mencerminkan Asmaul Husna, pengingat bahwa setiap langkah khidmah NU harus dilandasi keikhlasan, kasih sayang, keadilan, dan amanah.

Sementara empat dusun dapat dimaknai sebagai simbol kepemimpinan empat Khulafaur Rasyidin—berbeda peran, satu tujuan: menjaga umat dan persatuan.

Menggerakkan 400 Jamaah sebagai Langkah Awal

Dengan struktur rapi ini, 99 pengurus NU Banjar Agung diarahkan untuk terlebih dahulu menggerakkan 400 warga Nahdliyin aktif.

Ini bukan target muluk, melainkan langkah awal yang realistis. Jika 400 warga bisa digerakkan secara konsisten dalam kegiatan keagamaan, sosial, dan ekonomi, maka NU Banjar Agung akan memiliki fondasi jamaah yang kuat dan siap berkembang lebih luas.

Ekonomi Gotong Royong: Dari Belanja Harian ke Kemandirian Umat

Salah satu ladang khidmah yang sangat mungkin digarap adalah penguatan ekonomi jamaah secara gotong royong. Kebutuhan harian seperti beras, minyak goreng, gula, dan pasta gigi setiap hari dibeli warga.

Jika belanja ini dikoordinasikan secara transparan melalui NU, NU akan menjadi konsumen tetap dalam jumlah besar.

Dengan volume besar, harga lebih murah, dan selisihnya menjadi kas NU—bukan untuk individu, tetapi untuk gerakan umat.

Jika 400 warga aktif berbelanja dengan selisih Rp2.000–Rp3.000 per transaksi, potensi bisa mencapai lebih dari Rp400 juta per tahun.

Dana ini dapat digunakan untuk pengajian, santunan dhuafa, kegiatan pemuda, hingga penguatan ekonomi jamaah.

Prinsipnya sederhana: dari kita, oleh kita, untuk kita, dijalankan secara transparan dan bermusyawarah.

Ladang Khidmah yang Harus Digarap Bersama

NU tidak tumbuh dari program besar yang mengawang, melainkan dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Dari Anak Ranting yang hidup, RT yang bergerak, jamaah yang dilibatkan, dan ekonomi umat yang dikuatkan secara beriringan.

Inilah wajah NU yang sesungguhnya: rapi strukturnya, hangat jamaahnya, dan nyata manfaatnya.

Di Banjar Agung, ladang khidmah itu sudah ada. Dengan 17 pengurus sebagai tiang, 99 penggerak sebagai barisan, 4 dusun sebagai poros kepemimpinan, dan 400 jamaah sebagai kekuatan awal, NU Banjar Agung tidak hanya akan bertahan, tetapi tumbuh kuat dari desa—untuk umat dan keberkahan bersama. (ARIF)