Berawal dari Langkah Kecil Mengikuti Sang Ibu
Lampung Tengah, NU Media Jati Agung ā Sebelum dikenal sebagai kader perempuan yang aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Muyas Saroh telah lebih dahulu mengenal dunia khidmah dari lingkungan keluarganya.
Sejak masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah (MI), ia terbiasa mengikuti berbagai kegiatan keagamaan bersama sang ibu.
Muyas Saroh lahir di Payung Batu, Lampung Tengah, 15 Agustus 1982. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Keluarganya dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan serta memiliki kedekatan kuat dengan tradisi NU.
Salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan awal Muyas adalah ibunya. Saat itu, sang ibu dipercaya menjadi Ketua Muslimat NU Ranting Payung Batu.
Kondisi tersebut membuat Muyas kecil hampir selalu berada di tengah aktivitas organisasi. Setiap kali ibunya menghadiri kegiatan Muslimat, ia pun ikut serta.
Mengikuti Kegiatan Muslimat Sejak Bangku MI
Rutinan Jumat, tibaan hingga rapat organisasi menjadi bagian dari pengalaman masa kecil Muyas.
Ia tidak sekadar datang dan menyaksikan kegiatan, tetapi perlahan mulai dilibatkan dalam berbagai aktivitas.
āDari situ jiwa saya sudah mulai dibangun,ā ujar Muyas Saroh kepada NU Media Jati Agung, Kamis (17/9/2026) seraya mengenang masa kecilnya ketika mulai aktif mengikuti kegiatan keagamaan bersama sang ibu.
Keterlibatan itu membuatnya terbiasa tampil di depan jamaah. Ketika ada kegiatan, Muyas Saroh terkadang dipercaya menjalankan tugas yang sederhana, tetapi menjadi pengalaman penting bagi seorang anak yang sedang belajar berorganisasi.
āBiasa kalau nggak ditunjuk sebagai MC, bisa qori dan salawat,ā tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang perlahan membangun keberanian dan kepercayaan dirinya.
Lingkungan organisasi yang sejak kecil sudah akrab dengannya membuat kegiatan sosial dan keagamaan bukan sesuatu yang asing ketika ia beranjak dewasa.
Dari Ibu, Ia Mengenal Arti Khidmah
Masa khidmat ibunya sebagai Ketua Muslimat NU Ranting Payung Batu berakhir pada 1996. Ketika itu, Muyas Saroh telah memasuki usia sekolah MTs.
Namun, pengalaman yang diperolehnya selama bertahun-tahun mendampingi sang ibu telah meninggalkan kesan yang kuat.
Ia melihat langsung bagaimana seorang perempuan dapat mengambil peran dalam kehidupan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Dari lingkungan keluarga itulah, nilai kebersamaan dan pengabdian mulai tumbuh dalam diri Muyas.
Ia kemudian terus menjalani aktivitas sosial dan keagamaan di tengah masyarakat. Pengalaman yang bermula dari mengikuti ibunya menghadiri kegiatan Muslimat perlahan berkembang menjadi perjalanan organisasi yang lebih luas.
Khidmah yang Berawal dari Sebuah Kebiasaan
Bagi Muyas Saroh, perjalanan panjangnya dalam organisasi tidak lahir secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang dimulai sejak usia sekolah, ketika ia hanya mengikuti sang ibu dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
Dari rutinan, tibaan, salawat, hingga belajar menjadi pembawa acara dan membaca Al-Qur’an, semua pengalaman itu menjadi bagian dari pendidikan informal yang membentuk keberaniannya.
Apa yang dahulu dilakukan sebagai seorang anak yang mengikuti ibunya, pada akhirnya menjadi bekal untuk menjalani perjalanan khidmah di kemudian hari.
Kisah Muyas menunjukkan bahwa kaderisasi terkadang tidak selalu dimulai dari ruang pelatihan formal.
Ia dapat tumbuh dari keluarga, lingkungan masyarakat, dan kebiasaan sederhana untuk hadir serta terlibat dalam kegiatan sosial-keagamaan.
Dan bagi Muyas Saroh, langkah itu bermula dari Payung Batu, ketika seorang anak perempuan mengikuti ibunya menghadiri kegiatan Muslimat NU. (Resmi Januari,S.H.,)

