Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Usai Dzuhur di Bawah Menara Tambakberas: Menunggu Kemerdekaan yang Sempurna

Oleh: Wawan Hidayat
Kabiro NU Media Jati Agung

Muktamar NU dan Pesan dari Menara Tambakberas

Jawa timur, NU Media Jati Agung Usai salat Dzuhur di Masjid Jami’ Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, saya tidak langsung beranjak.

Saya duduk sejenak. Masjid perlahan lengang, sementara santri-santri kembali menjalankan aktivitasnya. Di tengah suasana itu, pesantren tetap bergerak seperti biasa.

Namun, pandangan saya tertahan pada sebuah menara tua.

Saya menatapnya cukup lama. Pada dindingnya tertera empat huruf hijaiyah:

ح ر ت م

Empat huruf sederhana tersebut menyimpan pesan yang tidak sederhana.

Dalam sejarah Bahrul Ulum, empat huruf itu berkaitan dengan amanah KH Hasbullah Said kepada putranya, KH Abdul Hamid Hasbullah. Pesan tersebut kemudian menghiasi menara yang selesai sekitar 1367 H atau 1948 M dan dimaknai sebagai “kemerdekaan yang sempurna.”

Saat itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benak saya:

Sudahkah kita benar-benar merdeka?

Pertanyaan tersebut terasa ironis.

Menara itu berdiri pada 1948, ketika Indonesia baru tiga tahun merdeka. Pada masa tersebut, para pendahulu masih mempertahankan negeri dengan darah dan air mata.

Mereka belum menikmati kemerdekaan sepenuhnya. Meski demikian, mereka sudah memikirkan makna kemerdekaan bagi generasi yang akan datang.

Generasi yang mereka pikirkan itu adalah kita.

Muktamar NU dan Tantangan Kemerdekaan

Dulu, musuh terlihat jelas: penjajahan.

Kini, tantangannya hadir dengan bentuk yang lebih samar.

Kebodohan menjadi salah satunya. Selain itu, keserakahan, fitnah, disinformasi, serta fanatisme yang kehilangan akal sehat juga menghadirkan tantangan.

Bahkan, ego kekuasaan kadang membuat sebagian pihak lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memperjuangkan kemaslahatan.

Pada masa lalu, orang rela kehilangan harta dan nyawa demi Indonesia. Sekarang, sebagian orang bahkan rela kehilangan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan.

Begitu pula dalam pendidikan. Para kiai dahulu membangun madrasah dalam keterbatasan. Sementara itu, kita kini memiliki teknologi, fasilitas, dan akses informasi yang begitu luas.

Ironisnya, kemudahan tersebut terkadang justru membuat kita tersesat oleh informasi yang kita konsumsi sendiri.

Dengan demikian, ironi kemerdekaan barangkali memang terletak pada hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab. Semakin banyak kebebasan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita pikul.

Muktamar NU Datang Membawa Harapan

Di tengah kegelisahan tersebut, Muktamar NU hadir sebagai sebuah momentum.

Muktamar bukan sekadar forum organisasi. Lebih jauh, agenda tersebut bukan hanya soal pergantian kepemimpinan ataupun panggung bagi para tokoh untuk menyampaikan pidato.

Sebaliknya, Muktamar semestinya menjadi ruang untuk kembali bertanya:

Untuk apa NU hadir?

Untuk siapa kekuatan besar ini digunakan?

Ke mana arah perjalanan umat setelah para peserta Muktamar kembali ke daerah masing-masing?

Saya berharap Muktamar kali ini tidak hanya melahirkan keputusan administratif, tetapi juga menghadirkan energi baru untuk kemaslahatan.

Energi tersebut dapat menguatkan pendidikan. Selanjutnya, semangat itu dapat mendorong ekonomi umat, membela kelompok yang lemah, menjaga persatuan, dan memperkuat pesantren.

Lebih dari itu, kita membutuhkan energi untuk memastikan bahwa agama tidak hanya dibicarakan di mimbar, tetapi benar-benar terasa manfaatnya dalam kehidupan masyarakat.

Sebab, NU terlalu besar jika hanya sibuk mengurus dirinya sendiri.

NU lahir dari tradisi pesantren, tumbuh bersama masyarakat, dan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa. Oleh karena itu, harapan terhadap Muktamar seharusnya lebih besar daripada sekadar menentukan siapa yang memimpin.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang akan diperjuangkan setelah kepemimpinan itu terbentuk?

Jangan Sampai Muktamar NU Menjadi Sekadar Panggung

Di sinilah ironi tersebut kembali muncul.

Muktamar merupakan forum yang seharusnya mempertemukan gagasan. Karena itu, gagasan tidak boleh kalah oleh kepentingan.

Pada saat yang sama, suara umat tidak boleh kalah oleh perebutan pengaruh. Jabatan pun tidak boleh menjadi tujuan ketika pengabdian hanya menjadi kata sambutan.

Para muassis NU dahulu tidak membangun organisasi untuk sekadar memiliki kekuasaan. Mereka membangun kekuatan agar umat memiliki tempat berpijak.

Jika Muktamar hanya melahirkan siapa mendapatkan apa, maka kita sedang mengecilkan warisan para pendahulu.

Sebaliknya, apabila Muktamar mampu melahirkan pertanyaan tentang apa yang bisa diberikan kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan, harapan baru akan menemukan jalannya.

Empat Huruf yang Menunggu Dibuktikan

Saya kembali memandang menara.

ح ر ت م

Kemerdekaan yang sempurna.

Mungkin empat huruf tersebut bukan sekadar pesan untuk bangsa pada masa lalu. Pesan itu juga relevan bagi NU hari ini.

Sebab, kemerdekaan yang sempurna tidak mungkin lahir hanya dari kebebasan.

Ia membutuhkan tanggung jawab.

Begitu pula kekuasaan. Tanpa pengabdian, kekuasaan hanya akan menjadi kemegahan yang kosong.

Sebaliknya, kebebasan tanpa akhlak hanya melahirkan kebisingan. Organisasi tanpa kemaslahatan pun hanya menjadi struktur tanpa jiwa.

Karena itu, Muktamar tanpa visi besar hanya akan menjadi peristiwa yang selesai ketika spanduk diturunkan.

Saya berharap forum tersebut tidak berhenti pada keputusan tentang siapa yang memimpin. Lebih jauh lagi, saya berharap Muktamar melahirkan keberanian untuk menjawab persoalan rakyat.

Persoalan itu mencakup kemiskinan, pendidikan, kesenjangan, ekonomi umat, keadilan, etika digital, dan masa depan generasi muda.

Sebab, kemaslahatan tidak lahir dari slogan.

Kemaslahatan lahir dari keberanian mengambil keputusan dan kesediaan bekerja setelah tepuk tangan berhenti.

Dari Menara Tambakberas kepada Muktamar

Dzuhur telah lama selesai ketika saya akhirnya beranjak.

Namun, empat huruf itu masih tertinggal di kepala:

ح ر ت م

Saya teringat para pendahulu yang membangun masa depan ketika masa depan mereka sendiri belum tentu aman.

Mereka meninggalkan pesan, sedangkan kita menerima warisan.

Kini, Muktamar datang membawa kesempatan untuk meneruskan pesan itu dalam bentuk yang lebih nyata.

Muktamar bukan hanya soal siapa menjadi apa. Lebih penting lagi, kita perlu melihat apa yang bisa dilakukan untuk siapa.

Persoalan kemenangan pun tidak berhenti pada siapa yang menang. Ukuran yang lebih penting ialah apa yang bisa dimenangkan oleh umat.

Demikian pula dengan kepemimpinan. Yang perlu kita pikirkan bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi ke mana umat akan dibawa.

Menara Tambakberas masih berdiri.

Diam dan tua, tetapi pesannya tetap hidup:

Kemerdekaan yang sempurna.

Mungkin kalimat tersebut terlalu sakral jika hanya kita jadikan hiasan sejarah. Karena itu, kita perlu mewujudkannya dalam kehidupan.

Muktamar pun dapat menjadi salah satu kesempatan untuk memulainya kembali.

Amanah Setelah Muktamar NU

Namun, kesempatan tersebut juga membawa amanah.

Kita tidak boleh datang membawa ambisi, lalu pulang meninggalkan amanah.

Kesibukan memilih pemimpin juga jangan sampai membuat kita lupa menentukan keberpihakan.

Pada saat yang sama, kemenangan kelompok tidak boleh membuat kita mengabaikan rakyat yang masih menunggu kemaslahatan.

Sebab, pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling ramai berpidato di Muktamar.

Sebaliknya, sejarah akan bertanya:

Apa yang berubah setelah kalian diberi amanah?

Saya melangkah meninggalkan Tambakberas dengan satu keyakinan.

Muktamar boleh selesai. Kepemimpinan boleh berganti. Spanduk pun pada akhirnya boleh diturunkan.

Akan tetapi, perjuangan tidak boleh berhenti.

Sebab, empat huruf di menara itu masih menunggu kita membuktikannya:

ح ر ت م

Kemerdekaan yang sempurna.

Kemerdekaan bukan hanya kesempatan untuk memiliki, melainkan juga kesempatan untuk mengabdi.

Kebebasan pun bukan hanya ruang untuk berbicara, tetapi keberanian untuk berbuat.

Pada akhirnya, kemenangan tidak cukup berhenti pada keberhasilan sebuah kelompok. Ukuran yang lebih besar ialah kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wawan Hidayat
Kabiro NU Media Jati Agung