Muktamar NU dan Makna Khidmah
Oleh : Wawan Hidayat
Jawa Timur, NU Media Jati Agung— Muktamar NU Ke-35 di Tambakberas, Jombang, menghadirkan momentum penting untuk kembali merenungkan makna khidmah kepada Nahdlatul Ulama.
Di tengah kemudahan fasilitas, teknologi, komunikasi, dan jaringan yang tersedia saat ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah generasi sekarang mampu menjaga semangat perjuangan para pendahulu NU?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, pertanyaan itu dapat menjadi cermin bagi seluruh warga Nahdliyin.
Besarnya Muktamar NU hari ini patut mendapat rasa syukur. Berbagai fasilitas, teknologi, media, transportasi, pelayanan, serta keterlibatan banyak kalangan menunjukkan perkembangan NU sebagai organisasi besar dengan jaringan luas.
Namun, kebesaran tersebut juga membawa tanggung jawab yang semakin besar.
Mbah Wahab dan Jalan Panjang Perjuangan NU
Membicarakan perjuangan NU tidak dapat terlepas dari sosok KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, salah satu tokoh penting pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama.
Mbah Wahab tidak mewariskan NU yang lahir dari kemewahan. Para ulama membangun NU melalui kegigihan, pemikiran, perjalanan panjang, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, serta keberanian menghadapi tantangan zaman.
Pada masa itu, para ulama belum mengenal kemudahan teknologi seperti sekarang. Mereka tidak memiliki grup WhatsApp untuk mengumpulkan warga atau media sosial untuk menyebarkan gagasan dalam hitungan detik.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah mereka.
Justru sebaliknya, para ulama menjadikan keterbatasan sebagai bahan bakar perjuangan.
Mereka bergerak karena memahami bahwa NU bukan sekadar nama organisasi, melainkan jalan khidmah, amanah, dan rumah besar yang harus mereka rawat untuk generasi berikutnya.
Kemudahan Teknologi dan Tanggung Jawab Khidmah
Kini, masyarakat dapat melihat kemeriahan Muktamar Ke-35 di Tambakberas. Warga dari berbagai penjuru datang sebagai peserta, pengurus, panitia, relawan, jurnalis, pelaku UMKM, seniman, santri, Muslimat, pemuda, maupun warga Nahdliyin.
Panitia juga menghadirkan berbagai fasilitas dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan. Informasi dapat menyebar dengan cepat. Bahkan, suara seorang Nahdliyin dari sudut Tambakberas dapat menjangkau ribuan orang hanya melalui telepon genggam.
Kemudahan tersebut menjadi bagian dari perkembangan zaman yang tidak pernah dinikmati generasi Mbah Wahab.
Karena itu, kemajuan seharusnya mendorong semangat khidmah yang semakin besar. Ketika fasilitas semakin lengkap, teknologi semakin canggih, dan jaringan semakin luas, warga NU memiliki ruang yang lebih besar untuk memberikan manfaat.
Jangan sampai generasi yang memiliki fasilitas lebih banyak justru memiliki semangat yang lebih sedikit.
Jangan sampai teknologi membuat kita semakin mudah berbicara tentang NU, tetapi semakin sulit melakukan sesuatu untuk NU.
NU Bukan Hanya Tentang Jabatan
Muktamar juga dapat mengingatkan seluruh warga Nahdliyin bahwa NU bukan hanya milik pengurus. NU merupakan bagian dari kehidupan umat, sementara pengurus memegang amanah untuk mengelola organisasi.
Karena itu, seseorang tidak harus menjadi pengurus untuk berkhidmah kepada NU.
Santri dapat merawat NU melalui ilmu. Guru dapat merawat NU melalui pendidikan. Kiai dapat merawat NU melalui nasihat dan keteladanan. Jurnalis dapat merawat NU melalui pemberitaan yang jujur dan berimbang.
Begitu pula musisi dan seniman dapat merawat NU melalui karya yang menanamkan sejarah, nilai, cinta tanah air, akhlak, dan tradisi keislaman.
Pemuda dapat merawat NU melalui kreativitas dan keberanian menghadapi perubahan zaman. Pelaku UMKM dapat ikut menghidupkan ekonomi masyarakat di sekitar kegiatan NU.
Sementara itu, masyarakat dapat merawat NU dengan menjaga akhlak, tradisi, persaudaraan, serta nama baik organisasi.
Karya Seni Juga Bisa Menjadi Jalan Khidmah
Perjuangan tidak selalu hadir melalui pidato, rapat, atau keputusan organisasi. Sebuah lagu pun dapat menjadi media untuk mengenalkan sejarah dan nilai perjuangan NU kepada generasi muda.
Ketika seorang musisi menyanyikan kisah perjuangan para ulama, mengenalkan nama pendiri NU, atau menghidupkan nilai Aswaja melalui karya seni, ia ikut membantu proses pewarisan ilmu dan nilai.
Hal tersebut penting karena generasi muda memiliki cara belajar yang beragam. Sebagian mengenal sejarah melalui buku, sementara sebagian lainnya mengenalnya melalui lagu, video, pertunjukan seni, dan media sosial.
Karena itu, NU menghadapi tantangan untuk mewariskan nilai perjuangan Mbah Wahab, KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, dan para ulama terdahulu melalui bahasa yang dapat dipahami generasi sekarang tanpa kehilangan ruh perjuangannya.
Musisi, seniman, kreator konten, jurnalis, dan anak-anak muda NU memiliki ruang besar untuk menjawab tantangan tersebut.
Muktamar NU Bukan Sekadar Perebutan Kepemimpinan
Muktamar NU di Tambakberas tidak semestinya hanya berbicara tentang siapa yang memimpin. Muktamar juga tidak berhenti pada kemeriahan acara, panggung, spanduk, fasilitas, atau pemberitaan.
Lebih jauh, Muktamar dapat menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri: NU seperti apa yang ingin kita wariskan kepada anak cucu?
Apakah kita ingin mewariskan NU yang penuh perebutan kepentingan? Ataukah kita ingin menjaga NU yang kembali kepada ruh khidmah, ilmu, akhlak, persaudaraan, dan kemaslahatan umat?
Perbedaan pandangan dalam organisasi sebesar NU merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tidak seharusnya membuat warga Nahdliyin melupakan sejarah perjuangan.
Sebelum ada jabatan, ada perjuangan.
Sebelum ada struktur, ada pengorbanan.
Sebelum ada fasilitas, ada kesederhanaan.
Dan sebelum NU tumbuh sebesar sekarang, para ulama telah mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, bahkan kehidupan mereka untuk membangun fondasi organisasi.
Kini Giliran Generasi Sekarang
Mbah Wahab dan para pendiri NU telah menorehkan bagian penting dalam sejarah. Kini, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk meneruskan ruh perjuangan tersebut.
Kita memang tidak harus mengulang seluruh bentuk perjuangan mereka karena zaman telah berubah. Namun, semangatnya harus tetap hidup.
Dahulu para ulama berjalan jauh untuk menyampaikan gagasan. Kini masyarakat memiliki kendaraan.
Dahulu mereka menempuh perjalanan panjang untuk bertemu. Kini teknologi mempertemukan manusia dalam hitungan detik.
Dahulu penyebaran ilmu membutuhkan waktu panjang. Kini satu pesan dapat menjangkau jutaan orang.
Karena itu, khidmah semestinya semakin luas, bukan semakin melemah.
Kita tidak boleh semakin malas, mudah mengeluh, sibuk mempertahankan kepentingan pribadi, atau hanya bersemangat ketika memperoleh jabatan.
Sebaliknya, kita perlu semakin berani merawat NU karena kita menerima warisan yang jauh lebih besar daripada fasilitas yang dimiliki para pendirinya dahulu.
Tambakberas dan Kesadaran Baru
Tambakberas tidak seharusnya hanya menjadi tempat berlangsungnya Muktamar NU. Tempat ini juga dapat menjadi saksi lahirnya kesadaran baru tentang arti menjadi Nahdliyin.
Menjadi Nahdliyin bukan hanya soal identitas. Menjadi pengurus NU bukan hanya soal posisi. Menjadi bagian dari NU juga bukan sekadar menghadiri kegiatan.
Lebih dari itu, menjadi bagian dari NU berarti bersedia menjaga rumah besar yang para ulama bangun melalui air mata, doa, ilmu, dan pengorbanan.
Maka ketika melihat wajah Mbah Wahab dalam foto-foto sejarah, kita tidak cukup hanya merasa bangga.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Jika Mbah Wahab melihat NU hari ini, apakah beliau akan melihat semangat perjuangan yang sama pada diri kita?”»
Jika jawabannya belum, Muktamar NU dapat menjadi momentum untuk memperbaikinya.
NU tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengaku sebagai pewaris. NU membutuhkan generasi yang benar-benar mau meneruskan perjuangan.
Di Tambakberas, tempat sejarah dan masa depan NU bertemu, kita dapat kembali belajar bahwa kemudahan bukan alasan untuk mengurangi pengorbanan.
Kebesaran NU juga bukan alasan untuk berleha-leha.
Justru karena NU telah tumbuh besar, warga Nahdliyin perlu semakin rendah hati, semakin kuat berkhidmah, semakin luas memberikan manfaat, dan semakin sungguh-sungguh menjaga marwah Nahdlatul Ulama.
Para pendiri NU telah memberikan yang terbaik untuk generasi hari ini.
Kini pertanyaannya sederhana: apa yang akan kita berikan untuk NU?

