Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

KH Miftachul Akhyar: Ketua Rais Aam PBNU, Muktamar NU Perkuat Khidmah

Muktamar Ke-35 NU Perkuat Amanah dan Pengabdian

JOMBANG, NU Media Jati Agung — Jumat, 28 Agustus 2026 | 15.36 WIB — Muktamar NU menjadi momentum penting untuk memperkuat khidmah, menjaga amanah, dan meningkatkan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Miftachul Akhyar, menyampaikan pesan tersebut dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

K.H. Miftachul Akhyar mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menjadikan forum tertinggi organisasi tersebut sebagai ruang memperkuat komitmen terhadap ilmu, akhlak, amanah, dan kemaslahatan.

Dalam sambutannya, Rais Aam PBNU terlebih dahulu menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Muktamar ke-35 NU.

Selain itu, ia menyapa Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran Kabinet Merah Putih, para ulama, masyayikh, peserta, dan seluruh tamu undangan.

Tiga Kegembiraan dalam Momentum Muktamar NU

K.H. Miftachul Akhyar menyampaikan bahwa terdapat tiga kegembiraan besar yang hadir dalam momentum Muktamar ke-35 NU.

Pertama, umat Islam memasuki bulan Maulid Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Kedua, bangsa Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Ketiga, Nahdlatul Ulama memulai Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

ā€œPada hari ini ada tiga kegembiraan, kegembiraan dan suka cita. Di bulan Maulidir Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa rahmat kasih sayang ke seluruh alam,ā€ ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi kegembiraan besar bagi umat Islam. Sementara itu, peringatan kemerdekaan Indonesia juga memperkuat rasa syukur seluruh bangsa.

Karena itu, K.H. Miftachul Akhyar berharap ketiga momentum tersebut terus memberikan semangat kepada warga NU dalam menjalankan pengabdian kepada organisasi, masyarakat, bangsa, dan negara.

ā€œSemoga ketiga kegembiraan ini terus berlangsung dan terus mendampingi kita dalam perkhidmatan di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,ā€ katanya.

Muktamar NU Digelar di Pesantren Bersejarah

Muktamar ke-35 NU berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Pesantren tersebut memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Dalam kesempatan itu, Rais Aam PBNU menyampaikan penghormatan kepada para pengasuh serta keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Ia berharap pesantren tersebut terus membawa keberkahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, penyelenggaraan Muktamar NU di Tambakberas menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi dalam memasuki fase baru pengabdian.

K.H. Miftachul Akhyar juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memenuhi undangan dan menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 NU.

KH Miftachul Akhyar Tekankan Pentingnya Ilmu

Dalam sambutannya, K.H. Miftachul Akhyar memberikan perhatian besar terhadap pentingnya ilmu dan kedudukan ulama di tengah masyarakat.

Menurutnya, umat dapat menghadapi berbagai kelemahan akibat sejumlah persoalan, termasuk kemiskinan dan kebodohan. Kondisi tersebut dapat menghambat umat dalam menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar secara maksimal.

Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 110 mengenai kedudukan umat terbaik yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT.

ā€œKuntum khoira ummatin ukhrijat lin-naasi ta’muruuna bil-ma’ruufi wa tanhauna ‘anil-munkari wa tu’minuuna billaah.ā€

Oleh sebab itu, K.H. Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa NU harus terus menjalankan amanah organisasi sesuai kemampuan dan kekuatan yang dimiliki.

NU juga harus menjalankan perjuangan tersebut dengan berlandaskan akidah yang benar, pelaksanaan syariat, serta akhlak yang baik.

Amanah NU Menjadi Tanggung Jawab Bersama

K.H. Miftachul Akhyar menegaskan bahwa seluruh warga NU memikul tanggung jawab besar dalam menjaga amanah organisasi.

Menurutnya, setiap warga NU harus menjalankan amanah melalui pengabdian yang sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Selain itu, mereka harus menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai landasan dalam menjalankan setiap tugas.

ā€œInnallaaha ya’murukum an tu’addul amaanaati ilaaa ahlihaa.ā€

Ayat tersebut, kata dia, menjadi pengingat penting mengenai kewajiban menjalankan amanah secara benar.

Bagi Nahdlatul Ulama, khidmah tidak hanya mencakup aktivitas organisasi. Lebih dari itu, khidmah menjadi bagian dari perjuangan dan pengabdian kepada umat.

Muktamar NU Soroti Bahaya Kebodohan dan Kemerosotan Akhlak

Rais Aam PBNU juga menyoroti sejumlah persoalan yang berpotensi melemahkan kehidupan umat.

Salah satunya adalah kemerosotan akhlak dan hilangnya prinsip-prinsip moral yang selama ini dijaga oleh Al-Qur’an dan Sunnah.

Selain itu, kebodohan dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah. Akibatnya, masyarakat dapat menerima suatu persoalan tanpa dasar pengetahuan, argumentasi, maupun bukti yang jelas.

Karena itu, K.H. Miftachul Akhyar menekankan pentingnya menjaga keberadaan ulama dan ilmu di tengah masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa berkurangnya ilmu seiring wafatnya para ulama dapat membuka ruang bagi berkembangnya kebodohan. Oleh sebab itu, masyarakat membutuhkan ulama yang memiliki ilmu dan memahami keadaan umat.

Ulama Harus Memahami Agama dan Masyarakat

Dalam sambutannya, K.H. Miftachul Akhyar turut menguraikan pandangan Imam Syafi’i mengenai sosok ulama.

Menurutnya, seorang ulama harus memiliki pemahaman kuat terhadap agamanya sekaligus memahami kondisi masyarakat yang dihadapinya.

Pemahaman terhadap agama harus mendorong seseorang untuk mematuhi ketentuan Allah SWT. Sementara itu, pemahaman terhadap masyarakat harus melahirkan sikap yang membawa kemaslahatan.

K.H. Miftachul Akhyar juga menjelaskan bahwa seorang ulama harus menjaga dirinya agar tidak menyakiti orang lain.

Di sisi lain, ulama harus memiliki semangat untuk memberi, berbuat baik, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Muktamar NU ke-35 Hadapi Tantangan Zaman dengan Dakwah

Rais Aam PBNU mengingatkan bahwa masyarakat saat ini menghadapi berbagai tantangan.

Salah satunya ialah munculnya fitnah dan kondisi ketika masyarakat semakin sulit membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Dalam situasi tersebut, umat membutuhkan keteguhan dalam beragama dan kemampuan untuk berpegang pada nilai-nilai kebenaran.

Menurutnya, dakwah kepada Allah SWT tetap menjadi kewajiban penting dalam menghadapi berbagai bentuk kerusakan di tengah masyarakat.

Ia juga mengutip firman Allah SWT mengenai pentingnya keberadaan kelompok yang mengajak kepada kebaikan, menyerukan amar ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.

Dengan demikian, dakwah menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan kebaikan dan memberikan petunjuk kepada masyarakat.

Muktamar Ke-35 NU Perkuat Masa Depan Organisasi

Melalui Muktamar ke-35 NU, K.H. Miftachul Akhyar berharap seluruh peserta dapat memperkuat komitmen terhadap amanah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Muktamar NU menjadi forum penting untuk merumuskan langkah organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Selain menjaga tradisi keilmuan dan memperkuat peran ulama, NU juga harus terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Dengan kekuatan ilmu, akhlak, amanah, dan semangat khidmah, Nahdlatul Ulama diharapkan terus menjalankan perannya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang membawa kemaslahatan.

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi momentum untuk memperkuat perjalanan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dalam melanjutkan pengabdian kepada umat dan Indonesia.Ā (Erwin Indra Saputra)