Meteor Besar Langit Jawa Jadi Sorotan Warga
Jakarta, NU Media Jati Agung – Meteor Besar Langit Jawa menjadi perhatian masyarakat setelah benda bercahaya melintas di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Sabtu malam (11/7/2026).
Fenomena tersebut terekam dalam berbagai video yang beredar di media sosial. Selain itu, sebagian warga melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah objek melintas.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa objek tersebut merupakan meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi.

Kronologi Meteor Melintasi Pulau Jawa
Berdasarkan laporan masyarakat dari berbagai daerah, meteor pertama kali melintas di atas Laut Jawa sebelum terlihat dari wilayah Bekasi sekitar pukul 21.22.35 WIB. Saat itu, meteor masih berada pada ketinggian tinggi sehingga tampak sebagai cahaya putih berukuran relatif kecil.
Sebelum menjelaskan proses ilmiahnya, Thomas menerangkan asal-usul meteor yang memasuki atmosfer Bumi.

“Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor,”ujarnya.
Proses Meteor Memasuki Atmosfer Bumi
Thomas menjelaskan bahwa batuan antariksa mulai berpijar ketika memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer di atas permukaan Bumi. Selanjutnya, suhu yang sangat tinggi mengikis permukaan batuan melalui proses ablasi sehingga menghasilkan cahaya terang yang terlihat dari permukaan Bumi.

Berdasarkan hasil analisis lintasan, meteor bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Setelah memasuki lapisan atmosfer yang lebih rapat, cahaya meteor semakin terang dan memperlihatkan warna yang berbeda di setiap lokasi pengamatan.
Penyebab Dentuman Setelah Meteor Melintas
Di wilayah Cirebon dan Kuningan, sejumlah warga mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Thomas menjelaskan bahwa suara tersebut berasal dari gelombang kejut atau sonic boom, bukan dari ledakan di permukaan Bumi.

Thomas menerangkan bahwa suara baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena gelombang suara membutuhkan waktu untuk mencapai permukaan.
“Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan,” katanya.

Warna Meteor Berbeda di Sejumlah Daerah
Meteor tampak berwarna biru ketika melintas di Majalengka. Selanjutnya, warga di Nagreg melihat objek tersebut sekitar pukul 21.23.37 WIB, sedangkan masyarakat Tasikmalaya menyaksikan cahaya terang yang sesekali menerangi awan.
Kemudian, sekitar pukul 21.23.57 WIB, warga Yogyakarta melihat meteor memancarkan cahaya hijau yang sangat terang.
Sebelum menjelaskan penyebab warna hijau tersebut, Thomas menerangkan bahwa setiap unsur kimia menghasilkan spektrum cahaya yang berbeda ketika mengalami pemanasan ekstrem.
“Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer,” katanya.
BRIN Pastikan Meteor Berakhir di Samudera Hindia
Berdasarkan rangkaian pengamatan yang dihimpun, BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke arah tenggara hingga kehilangan kecepatannya. Selanjutnya, objek tersebut diduga berakhir di Samudera Hindia, tepatnya di selatan Jawa Timur atau Bali.
Thomas menegaskan bahwa fenomena meteor berukuran besar memang jarang terjadi, tetapi tetap merupakan bagian dari aktivitas alam yang berlangsung setiap hari di sekitar Bumi.
Ia juga menjelaskan bahwa atmosfer Bumi berfungsi sebagai pelindung alami karena mampu membakar sebagian besar meteoroid sebelum mencapai permukaan.
Thomas mengingatkan masyarakat agar memahami fenomena tersebut berdasarkan penjelasan ilmiah.
“Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah memahami fenomenanya secara ilmiah agar tidak mudah terpengaruh berbagai informasi yang tidak benar,” pungkasnya. (Ahmad Royani, S.H.I)

