NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Makna Sopan Santun Jalan Jongkok di Sekolah dan Pesantren

Sejarah Jalan Jongkok di Sakola Kautamaan Istri

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung Tradisi sopan santun jalan jongkok memiliki makna mendalam sejak zaman Raden Dewi Sartika. Dalam video lawas tahun 1912, aktivitas di Sakola Kautamaan Istri Bandung memperlihatkan para siswi berjalan jongkok di hadapan guru sebagai bentuk penghormatan dan adab.

Tradisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan etika sudah diajarkan kepada perempuan Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.

Pada masa itu, Sakola Kautamaan Istri menjadi sekolah perempuan pertama yang mendidik murid agar cerdas, terampil, sekaligus beradab.

Mereka tidak hanya belajar menjahit, mencuci, dan memasak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kesopanan yang menjadi dasar pembentukan kepribadian luhur.

Raden Dewi Sartika menanamkan prinsip bahwa ilmu tanpa adab tidak akan membawa manfaat. Karena itu, jalan jongkok di hadapan guru bukan sekadar gerakan fisik, tetapi simbol penghormatan terhadap sumber ilmu.

Makna Filosofis Sopan Santun Jalan Jongkok

Sikap jalan jongkok mencerminkan rasa rendah hati, tawadhu’, dan kesadaran akan posisi diri di hadapan orang berilmu.

Gerakan itu melatih kesabaran dan ketulusan dalam menghormati guru. Dalam budaya Sunda maupun tradisi pesantren, sopan santun seperti ini menunjukkan keseimbangan antara ilmu dan adab.

Jalan jongkok juga menegaskan bahwa kesopanan bukan sekadar formalitas, melainkan cermin jiwa yang terdidik.

Seseorang yang mampu merendahkan diri di hadapan gurunya akan mudah menerima ilmu dengan hati yang bersih. Nilai inilah yang kemudian menjadi warisan budaya yang masih dijaga hingga kini.

Kesinambungan dengan Tradisi Santri di Pesantren

Tradisi jalan jongkok tidak hilang meski zaman terus berubah. Di banyak pesantren, santri masih menerapkan sikap serupa sebagai bentuk tawadhu’ kepada kyai.

Saat melintas di depan guru, santri menundukkan tubuh atau berjalan dengan langkah pelan sambil menunduk. Semua dilakukan dengan niat menghormati sang pengajar.

Dalam pandangan kiai, adab lebih utama daripada kecerdasan. Karena itu, pesantren menekankan pentingnya sopan santun dalam setiap interaksi.

Jalan jongkok menjadi bagian kecil dari pelatihan jiwa santri agar selalu rendah hati, menghormati ilmu, dan menempatkan guru pada posisi mulia.

Kebiasaan ini bukan paksaan, melainkan wujud cinta dan penghargaan. Santri memahami bahwa guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing spiritual.

Maka, tradisi sopan santun jalan jongkok menjadi simbol ketundukan hati yang tulus.

Relevansi di Era Modern dan Tayangan Viral

Belakangan, sebuah tayangan televisi nasional sempat viral karena menampilkan adegan yang menyinggung sopan santun dalam pendidikan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa nilai adab tetap penting untuk ditanamkan sejak dini.

Tradisi jalan jongkok di Sakola Kautamaan Istri maupun pesantren menjadi contoh nyata bagaimana kesopanan dapat diwariskan dan relevan dalam konteks modern.

Sekolah modern dan keluarga dapat meneladani cara Raden Dewi Sartika membangun karakter muridnya. Ia memadukan ilmu praktis dengan adab.

Begitu juga dengan pesantren yang menjaga nilai sopan santun sebagai ruh pendidikan Islam. Meneladani tradisi ini berarti menjaga warisan luhur bangsa. Jalan jongkok bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan cermin nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini.

Penutup: Adab Sebelum Ilmu

Baik di Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1912 maupun di pesantren masa kini, makna sopan santun jalan jongkok tetap sama: menghormati guru dan menjunjung tinggi adab.

Tradisi ini menegaskan bahwa karakter mulia lahir dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan hati tulus.

Ketika generasi muda memahami makna di balik sopan santun, mereka tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga beradab. Itulah pesan abadi yang diwariskan Raden Dewi Sartika dan para kiai di pesantren hingga kini. (ARF)