Jakarta, NU Media Jati Agung- Mahasiswa baru Unusia, Angga Saputra, menghadapi dugaan penculikan oleh sekelompok orang mirip polisi saat hendak berangkat ke kampus pada Rabu (1/10/2025). Hingga kini, keluarga dan rekan belum menemukan mahasiswa jurusan Ilmu Hukum itu.
Kronologi Dugaan Penculikan
Angga Saputra, mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) jurusan Ilmu Hukum, menghadapi dugaan penculikan pada Rabu pagi (1/10/2025).
Saat itu, ia bersiap mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Rekan Angga, Achmad Subchan Maulal Mawaly atau Ali, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di sekitar rumah Angga di Gang Buntu 2, Pancoran, Jakarta.
Ali menuturkan, seorang saksi bernama Kiting (bukan nama sebenarnya) melihat sekitar 10 orang menangkap Angga. Mereka datang menggunakan satu mobil dan tiga sepeda motor.
“Iya mereka polisi. Kemudian (Angga) dipiting dan dipaksa masuk ke dalam mobil. Hingga saat ini, keberadaannya belum diketahui,” kata Ali saat dikutip dari NU Online, Kamis (2/10/2025).
Aktivitas Angga sebagai Aktivis
Ali menjelaskan bahwa Angga aktif dalam organisasi Suara Muda Kelas Pekerja (SMKP). Angga dikenal vokal menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
“Satu-satunya hal yang dilakukan Bung Angga sampai akhirnya diculik itu karena menyuarakan kebenaran dan bersuara lantang mengkritik pemerintahan yang sewenang-wenang, yang seharusnya itu dijamin negara,” tegasnya.
Menurut Ali, Angga sempat ikut aksi besar-besaran pada 28 Agustus 2025. Sebelum masuk kuliah, Angga menunda pendidikannya untuk bekerja demi membiayai kuliah.
“Saat pemuda yang akhirnya bisa menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi, justru dia diculik dan dihilangkan, dia dirampas hak berpendidikannya, dan negara dengan jelas membunuh masa depan bangsanya sendiri,” tambah Ali.
Dukungan dari Organisasi Buruh dan Mahasiswa
Kasus dugaan penculikan ini memicu gelombang reaksi dari berbagai organisasi buruh dan mahasiswa.
Dalam keterangan tertulis, Komite Politik (Kompol) Partai Buruh, SMKP, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID), serta kelompok pemuda dan masyarakat miskin kota mendatangi Polda Metro Jaya.
Mereka menyampaikan tiga tuntutan utama:
1. Membebaskan Angga Saputra segera.
2. Menghentikan praktik penculikan dan penghilangan paksa terhadap aktivis serta rakyat.
3. Mengusut tuntas pelaku dan dalang yang bertanggung jawab atas penangkapan sewenang-wenang itu.
Respon Publik dan Tekanan Masyarakat Sipil
Kasus ini langsung mendapat perhatian publik, terutama dari kalangan mahasiswa dan aktivis masyarakat sipil. Dukungan terus mengalir melalui aksi solidaritas maupun penyataan sikap tertulis. Mereka menilai peristiwa tersebut mengancam kebebasan berekspresi dan hak warga negara.
Aktivis mahasiswa menyebut kasus Angga bukan peristiwa pertama yang menimpa kalangan kritis. Mereka menegaskan negara wajib menghormati kebebasan akademik, kebebasan berpendapat, dan hak untuk menempuh pendidikan.
Para aktivis buruh menambahkan, kasus dugaan penculikan itu memperlihatkan praktik represif yang masih terjadi. Mereka menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan terhadap rakyat yang menyampaikan aspirasi.
Kekhawatiran terhadap Masa Depan Pendidikan
Kasus ini memunculkan kekhawatiran luas karena menyangkut mahasiswa baru yang sedang menempuh pendidikan.
Banyak pihak menilai penculikan Angga sebagai tindakan yang merampas hak dasar warga negara untuk belajar.
Sejumlah akademisi menyoroti kasus ini dan memperingatkan bahwa tindakan semacam itu dapat menimbulkan rasa takut di kalangan mahasiswa.
Jika aparat membiarkan hal ini, iklim kebebasan akademik akan terancam. Para akademisi menekankan pentingnya komitmen negara untuk melindungi hak mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.
Dorongan untuk Penegakan Hukum
Masyarakat sipil mendesak pihak kepolisian agar menindaklanjuti laporan yang masuk. Mereka meminta aparat melakukan penyelidikan secara transparan dan terbuka untuk memastikan kebenaran kasus dugaan penculikan ini.
Tekanan publik semakin menguat seiring meluasnya pemberitaan. Organisasi mahasiswa dan buruh menegaskan komitmen mereka untuk terus mengawal kasus ini sampai Angga Saputra kembali berkumpul dengan keluarganya.
Situasi Terakhir
Hingga Jumat (3/10/2025), keluarga, rekan, dan berbagai organisasi belum menemukan Angga Saputra. Mereka terus menunggu kejelasan dan berharap pihak berwenang segera memberi jawaban tegas serta memastikan keselamatan mahasiswa baru Unusia itu. (ARF)

