Upaya Pemprov Lampung Mengatasi Banjir
Bandar Lampung, NU Media Jati Agung ā Lampung targetkan 1.000 biopori sebagai langkah awal untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi di Kota Bandarlampung dan sekitarnya. Pemerintah Provinsi Lampung mendorong masyarakat memperbanyak area resapan air di lingkungan rumah.
Kepala Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung, Budi Darmawan, menjelaskan bahwa pemerintah mengambil langkah tersebut sebagai solusi jangka pendek untuk mengurangi risiko banjir.
Selain itu, pemerintah juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam membuat lubang biopori di lingkungan masing-masing.
Dorong Area Resapan Air di Rumah Warga
Budi Darmawan menegaskan bahwa keberadaan lubang biopori dapat meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan. Oleh karena itu, pemerintah mengajak warga untuk menyediakan area resapan di sekitar rumah.
“Dalam jangka pendek untuk melakukan pencegahan serta pengendalian banjir yang berulang di Bandarlampung dan sekitarnya, kami mendorong adanya area resapan di setiap rumah warga,” ujar Kepala Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung Budi Darmawan di Bandarlampung, Selasa.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa semakin banyak area resapan air akan semakin membantu mengurangi genangan air saat hujan deras.
“Tahun ini Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung menganggarkan untuk pembuatan lubang biopori khusus di Kota Bandarlampung sebanyak 1.000 biopori,” katanya.
Biopori Jadi Langkah Konservasi Air Tanah
Budi Darmawan menambahkan bahwa lubang biopori tidak hanya berfungsi mengurangi risiko banjir. Namun demikian, biopori juga mendukung konservasi air tanah di wilayah perkotaan.

Ia menilai program tersebut akan lebih efektif jika semua pihak ikut terlibat, termasuk dunia usaha dan masyarakat luas.
“Ini sebenarnya akan lebih efektif kalau semua pihak ikut membuat biopori secara menyeluruh, dengan melibatkan dunia usaha serta masyarakat,” katanya.
Butuh Puluhan Ribu Biopori Agar Dampaknya Terasa
Menurut Budi Darmawan, jumlah 1.000 biopori merupakan langkah awal yang dilakukan pemerintah daerah. Meski demikian, jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan agar dampaknya terasa lebih signifikan.
Ia memperkirakan bahwa kota membutuhkan puluhan ribu lubang biopori agar pengendalian banjir berjalan lebih optimal.
“Kalau diperbanyak sampai 20.000-50.000 lubang biopori itu akan ada dampaknya. Kalau 1.000 lubang biopori di Kota Bandarlampung ini sebagai langkah tercepat,” katanya.
(Ahmad Royani, S.H.I.,)


