NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Kyai Masduki: Perjalanan dari Bata Pesantren hingga Rois Syuriah

Kyai Masduki dan Perjalanan Hidupnya

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung– Kyai Masduki tumbuh dalam lingkungan pesantren sejak kecil. Sosok yang kini menjabat Rois Syuriah MWCNU Jati Agung itu lahir pada 25 Agustus 1973 di Desa Way Galih, Kecamatan Tanjung Bintang. Dari keluarga sederhana, ia menapaki perjalanan panjang hingga dipercaya memimpin NU di wilayahnya.

Awal Kehidupan dan Lingkungan Pesantren

Tumbuh di Keluarga Religius

Putra dari Bapak Sandiman dan Ibu Maimunah ini menghabiskan masa kecil di Dusun Umbul Gadung—kini Dusun Sukamaju C. Sejak 1972, orang tuanya bersama warga mendirikan langgar yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Yanabi’il Ulum.

Pada usia 4 tahun, Kyai Masduki sudah mulai belajar agama. Tiga tahun kemudian, ia tinggal bersama kakek dan neneknya, Kyai Muhammad Thohir dan Nyai Robiatun, di Totokarto, Kabupaten Pringsewu. Dari sana, ikatan kuat dengan nilai Islam semakin melekat.

Nyantri di Berbagai Pesantren

Setelah menimba ilmu di musholla keluarga, Kyai Masduki melanjutkan belajar di Pesantren Nurul Islam Sumber Jaya.

Lulus Madrasah Aliyah tahun 1994, ia sempat singgah di Pondok Modern Gontor namun terkendala biaya. Perjalanan pun membawanya ke Pesantren Darul Huda, Jember, Jawa Timur.

Perjuangan Membuat Bata di Jember

Pengalaman Berat Namun Bermakna

Di Jember, KH. Nurhadi mengajaknya membantu pembangunan pesantren dengan membuat bata.

“Setiap 1.000 bata dikasih bisyaroh 10 ribu,” kenangnya.

Selama dua bulan, ia berhasil membuat 15 ribu bata. Tekadnya terbukti tidak tergoyahkan meski kondisi serba terbatas.

Menjadi Pengurus Pondok

Sembilan tahun di Jember membentuknya menjadi pribadi tangguh. Ia bahkan dipercaya menjadi pengurus bidang keamanan pondok.

“Saya pernah menggunduli beberapa sahabat santri yang melanggar aturan,” ujarnya sambil tersenyum saat diwawancarai NU Media Jati Agung, Minggu (31/8/2025).

Guru dan Inspirasi Keilmuan

Selain orang tua dan kakeknya, sejumlah ulama berperan penting dalam hidup Kyai Masduki. Mereka di antaranya KH. Ahmad Nuruddin, KH. Masduki dari Pondok Nurul Islam, KH. Imam Kholid Muzaki, dan KH. Nurhadi Jawahir dari Ponpes Darul Huda Jember.

Foto Dok Kyai Masduki: Rois Syuriah MWCNU Jati Agung, Kyai Masduki bersama Kyai Ansori Ketua Tanfidziyah setempat.

Ilmu tasawuf menjadi bidang yang paling ia cintai. Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali selalu ia jadikan pegangan utama.

Kembali ke Lampung dan Amanah NU

Terpilih Sebagai Rois Syuriah

Pada 2003, ia pulang ke Lampung. Kini, Kyai Masduki menjabat Rois Syuriah MWCNU Jati Agung periode 2024–2029. Sebelumnya, ia pernah menjadi Sekretaris RMI-NU Jati Agung masa khidmat 2019–2024.

Penunjukan itu lahir dari restu para Kyai senior, di antaranya Kyai Nasrudin, Kyai Zahid Mursidi, Kyai Busrodin, dan Kyai Subario.

“Yang cocok sebenarnya Kyai Nurkholis Ahmad, tapi karena beliau fokus ngaji dengan santri, akhirnya saya yang diberi amanah,” ucapnya rendah hati.

Visi dan Pesan untuk Umat

Ia menegaskan visinya: mewujudkan masyarakat yang adil dalam kemakmuran serta makmur dalam keadilan, berlandaskan ajaran Aswaja An-Nahdliyah.

“Jangan hanya jadi konsumen informasi, tapi teliti dan manfaatkan media sosial untuk dakwah yang rahmatan lil ‘alamin,” pesannya.

Kedekatan dengan Warga dan Generasi Muda

Sebagai petani sekaligus tokoh masyarakat, ia memimpin dengan pendekatan musyawarah dan kultural. Hubungannya dengan warga semakin erat lewat kegiatan ngaji bareng serta obrolan santai bersama pemuda.

“Harapan saya, kader-kader muda NU jangan berhenti mencari ilmu. Teruslah berjuang untuk meneruskan perjuangan para ulama, menjaga moral bangsa, dan membentengi akidah,” tuturnya.

Cita-Cita Besar untuk NU Jati Agung

Bagi Kyai Masduki, mimpi besar mencakup tumbuhnya pesantren NU, kemandirian ekonomi umat, hingga rumah sehat NU di Jati Agung.

Bahkan jika diberi kesempatan di forum nasional NU, ia siap menyuarakan ukhuwah Islamiyyah, pendidikan berkualitas, dan kerukunan antarumat.

“Teruslah melangkah, berkarya, dan jangan jauh dari para alim ulama,” pungkasnya. (ARF)